
Beberapa menit berembuk akhirnya Ethan memanggil helikopter untuk menjemput mereka agar waktu keluar dari hutan tidak terkuras banyak dan untungnya Sarah tau dimana ruangan luas untuk landasan helikopter di hutan tersebut.
"Boleh aku meminta tali?" Tanya Sarah, saat ini gadis itulah yang terakhir kali menaiki helikopter.
"Apa maksud mu jangan macam macam!!" Jawab Vano dengan tatapan membunuhnya.
"Cepatlah!! Aku tidak punya waktu!!" Ucap Sarah sembari memegang benda yang sedari tadi menjadi misteri untuk ketiga pria itu.
Ethan melemparkan tali untuk Sarah lalu dengan cepat ia memasang tali dan membuat simpul mati ditubuhnya sendiri.
"Apa tali ini sudah terhubung dengan pengait didalam?" Tanya Sarah sekali lagi"
Ethan mengangguk pasti setelah memastikan tali itu aman.
"Baiklah sekarang terbangkan helikopter nya!!" Titah Sarah sudah bersiap siap.
"Hey jangan gila!!" Teriak Ethan.
"Cepat!!!" Teriak Sarah memberikan tatapan ganasnya.
Farel langsung memberikan perintah untuk menerbangkan pesawat dan dalam dua menit helikopter itu mulai melayang hingga terbang cukup tinggi dari hutan.
Dibawah Sarah tampak melayang layang diatas udara, tangannya cukup cekatan dalam membuka bungkusan tadi.
Sarah menatap ke bawah sebelum benar benar melepaskan bom ditangannya.
Lima,,, empat,,,,tiga,,,,dua,,,, satu
Dduuuaaarrrr!!!!!!!
__ADS_1
Sarah memejamkan matanya ketika ledakan besar bahkan sangat besar menyelimuti hutan itu, seketika awan hitam mengepul di udara dan menutupi jalan helikopter untuk keluar.
"Gadis ini gila!!" Gumam Ethan melihat ledakan dibawahnya yang bahkan asapnya menutupi tubuh Sarah.
"Ledakan yang digunakan memiliki kekuatan sama besarnya dengan granat!" Ucap Vano memperhatikan kebakaran hutan yang sangat luar biasa dibawahnya ditambah dengan ledakan ledakan bom lain yang sengaja telah di aktifkan oleh Sarah dirumah Pian.
Beberapa saat kemudian mereka berhasil keluar dari kabut hitam, Ethan membantu Sarah untuk naik ke atas helikopter dan mendapat bantuan.
Uhuk,,,,uhuk,,, uhuk
"Kau tidak apa apa?" Tanya Farel.
Sarah mengangguk lalu mengambil air dan meneguknya hingga habis untuk melancarkan nafas akibat kabut asap yang terlalu berlebihan masuk kedalam rongga pernafasannya.
"Aku bisa meminta sesuatu?" tanya Sarah tanpa memperhatikan ke-tiga nya karena Sarah fokus melihat hutan yang ludes terbakar.
"Jika kalian menemukan nona tolong jangan sakiti dia" ucap Sarah sendu.
"Dan jika memang nona membunuh orang yang penting kuharap kalian tidak membunuhnya sebagai ganti" imbuh Sarah.
Ketiganya diam terutama Vano yang sudah tegang sedari tadi, ketiganya tidak bisa berbuat apa apa karena jika melaporkan masalah ini pada polisi sudah pasti Vallen akan mendapat hukuman mati atas perbuatannya dan itu mimpi buruk untuk Vano, jika dia meminta bantuan pada orangtuanya Vano takut tidak ada yang akan melindungi Vira, Lina, dan Zoya.
Beberapa saat kemudian Vano dan teman temannya sampai di kota, mereka langsung menuju tempat landasan Salvatrucha yang berada di gedung tertinggi.
"Cepatlah!!" Titah Vano setelah menuruni helikopter dan berlari menuju lift.
Ketiganya ikut berlari dan mengikuti Vano masuk kedalam, tak sampai beberapa menit mereka sampai di lobi Vano langsung menaiki mobil yang telah disiapkan sedari tadi oleh Ethan.
Kali ini Vano lebih yakin dengan hasil setirannya sendiri, akan lebih cepat sampai jika Vano sendiri yang menyetir dan hasilnya bar bar luar biasa, Ethan ingin muntah akibat mobil yang di naikinya belok kanan belok kiri untuk menyalip mobil didepan.
__ADS_1
"Awaass!!!" Teriak Ethan ketika melihat lampu merah namun Vano tetap nekat untuk menerobos hingga mobilnya terseret sampai ujung jembatan karena menabrak mobil truk.
Tak jera dengan itu Vano kembali membuat ulah dengan menyalip asal asalan asal sampai dirumah Ferrero dengan cepat.
Ketiganya hampir meregang nyawa sebelum kematian menjemput namun hasil penyetiran Vano membuahkan hasil karena dalam waktu beberapa menit mereka akhirnya sampai di depan rumah Ferrero.
Vano langsung keluar membawa satu pistol dan satu pisau ditangannya diikuti oleh Ethan, Sarah dan Farel dari belakang.
"Rumah ini sepi" ucap Farel melihat sekeliling yang tampak baik baik saja.
"Lalu kemana Vallen?" Tanya Ethan.
"Apa mungkin dirumah Horowitz?" Saut Vano menatap Ethan dan Farel.
"Mungkin saja begitu, ayo kesana kita tidak punya waktu" ajak Sarah.
Ketiganya berjalan mendahului Vano karena pria itu cukup yakin jika Vallen menuju tempat ini, dan ketika Vano menatap sekeliling ia sedikit curiga dengan keadaan rumah Ferrero yang tumben tumbenan sepi tanpa pengawal.
Ketika Vano melangkahkan kaki, dia melihat satu titik yang cukup mencurigakan yaitu daun daun taman depan rumah berwarna merah.
Vano tertarik dengan daun daun itu lalu mendekati nya dan mengambil satu daun, Vano mencium aroma daun itu dan benar dugaannya bahwa daun itu tercampur oleh darah.
Vano mengelilingi rumah itu dengan tatapan tajamnya, di sekitar Vano ternyata sudah sangat banyak kamera pengintai dan cctv.
Permainan bodoh ini yang kalian anggap game over? Cih!!!. Batin Vano
Dengan rencana besar di otaknya Vano mengikuti Farel, Ethan, dan Sarah kedalam mobil dan saat hendak masuk kedalam mobil Vano memperhatikan penyadap suara di pintu mobilnya. Mata Vano jeli bukan main walau sudah malam pasalnya penyadap di mobil itu tidak hanya satu melainkan empat di setiap pintu mobil.
Vano mengeluarkan seringainya lalu masuk kedalam mobil dan duduk di kursi pengemudi, Vano sengaja menyalakan suara mobil dan menjalankan nya ke depan namun tidak terlalu jauh dari rumah Ferrero.
__ADS_1