
Vano menatap dalam ke manik hitam milik Sarah, gadis itu memang tidak sebuas Vallen yang akan membunuh siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Sarah lebih ke sifat pendiam namun mematikan berbeda dengan Vallen yang ceria namun berbahaya.
"Matamu belum pernah dicongkel garpu?" Tanya Vallen sinis ketika melihat tatapan Vano selalu mengarah pada Sarah.
"Kenapa kau marah? Kau tidak suka?" Tanya Vano mengalihkan pandangannya.
"Sangat!!! Mau apa kau" jawab Vallen ketus.
"Ayo nona kita pulang, ayah nona pasti akan sangat marah pada ku jika tidak membawa nona kembali" kata Sarah memohon.
"Ssttt iissshh!!!" Vallen segera menutup mulut Sarah agar tidak mengeluarkan perkataan yang sudah ia simpan dengan rapat.
"Ayah?" Ujar Vano and the geng bersamaan.
"Heuh?? Mm bukan bukan dia,,,,,"
Braakkk!!!!
Mata Vano terlihat lebih tajam dari sebelumnya ketika ia tahu ada yang belum terungkap dari Vallen.
"Berani sekali kau berbohong padaku Vallen, masih untung aku membiarkan mu makan dan tidur di rumah ku. Kau dan dia (menunjuk Sarah) sengaja tidak aku kurung untuk bertanya baik baik tapi ternyata kau tidak pernah berpikir akibatnya jika berani berbohong padaku" ucap Vano sangat amat dingin menatap Vallen.
"Bu,,,bukan seperti itu Vano dengar,,,,,"
"Farel Ethan bawa mereka ke markas, mungkin bertanya baik baik tidak berlaku bagi keduanya" ujar Vano memotong kalimat Vallen.
__ADS_1
"Baik" jawab Farel dan Ethan bersamaan lalu mendekati Vallen serta asisten nya.
"Vano bukan begitu maksud ku hey dengar!!!" Teriak Vallen namun tak digubris oleh Vano.
"Dia sedang emosi, ikuti saja keinginan nya" nasehat Farel.
"Nona apa aku harus membunuh orang yang memegang lengan ku?" Tanya Sarah melihat tangannya sedang dipegang erat oleh Ethan.
"Tidak! Biarkan saja" jawab Vallen melemahkan suaranya lalu mengikuti arah kemana dirinya dibawah oleh Farel.
Saat ini Vano tidak tau tindakan selanjutnya apa, otaknya beku ketika ingin menyiksa Vallen dengan fisik. Vano mengusap kasar wajahnya frustasi.
"Seandainya kau bukan mafia Vallen" gumam Vano.
Setelah beberapa menit didalam rumah, Vano berangkat menuju markas dengan mobil sendiri karena Farel dan Ethan sudah membawa dua gadis itu untuk di adili agar mengaku. Ditengah perjalanan pun Vano gusar jika pikirannya berhubungan dengan Vallen.
"Sudah terikat tali diruang pengadilan" jawab Farel.
Vano langsung masuk kedalam markas, lebih tepatnya diruang pengadilan. Vano sengaja menampung seluruh tawanan nya ditempat Vino dikarenakan markasnya terbakar oleh seseorang yang tidak bisa ia lacak jejaknya.
"Bagaimana rasanya sebagai tersangka nona?" Tanya Vano menyeringai sembari duduk dikursi kebesaran milik Vino Salvatrucha abinya.
Vallen tidak bisa menjawab pertanyaan dingin yang dilontarkan oleh Vano, dimata Vallen Vano saat ini bukanlah Vano yang ia kenal.
"Bisa kita mulai? Baiklah aku tidak butuh jawaban, sekarang jawab pertanyaan ku. Apa hubungan mu dengan ketua mu? Kenapa dia (menunjuk Sarah) mengatakan ayahmu"
__ADS_1
"Stop!! Aku belum selesai memberi pertanyaan" ucap Vano saat Vallen langsung ingin menjawab.
"Dan Sarah, jika kau tidak menjawab maka majikan mu akan terkena cambukan!" Imbuh Vano dengan seringai liciknya.
Vallen berusaha mengangkat kepalanya untuk memastikan apakah perkataan itu memang diucapkan langsung dari mulut Vano Salvatrucha.
"Ayah itu bukan siapa siapa, dia hanya ayah angkat" jawab Vallen mengalihkan pandangannya.
"Benar apa yang Vallen ucapkan?" Tanya Vano pada Sarah.
Sarah mengangguk cepat agar majikan nya terlindungi dari cambukan mengerikan yang ada ditangan Ethan.
"Bohong!!!!" Teriak Vano menggebrak meja saking emosinya melihat sulitnya dua gadis itu untuk jujur.
"Ethan!!" Panggil Vano sembari mengangkat tangannya lalu menutup mata sebelum tubuh Vallen terkena cambukan.
"Ah!!!!" Tubuh mungil gadis itu tergoyah sedikit hingga membungkuk ketika mendapat cambukan pertama dari Ethan.
"Nona!!" Mata Sarah memerah melihat Vallen sedikit meringis.
"Kau masih belum bisa menjawab satu pertanyaan?"
Vallen tetap diam, lebih baik dia diam menerima luka fisik dan hati yang terasa nyeri ketika melihat ketajaman mata Vano.
Ethan kembali melepaskan empat cambukan berturut turut ditubuh Vallen hingga gadis itu tersungkur sempurna didepan Vano.
__ADS_1
Kenapa kau sangat sulit untuk membuka diri walau telah disiksa seperti ini. Batin Vano