Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 145


__ADS_3

Vano dan Vallen membawa Sarah kerumah kedua agar tidak bertemu dengan Ethan untuk sementara waktu sembari menunggu Andre dan yang lainnya pulang, kebetulan Vino dan Vira sudah mengabarkan masalah itu tadi.


"Kamar mu ditempat semula, masih tidak ada perubahan" ucap Vallen.


Sarah hanya membalas dengan senyum tipis lalu masuk kedalam kamarnya, bukan nya tenang Sarah malah dihantui dengan bayangan malam pertamanya bersama Ethan di atas ranjang.


"Sadarlah!! Kau akan semakin sakit jika terus mengingat itu" ucap Sarah mengelus dadanya sendiri.


Gadis itu merapikan tempat tidurnya sedikit lalu berjalan ke arah balkon, gadis pendiam dengan tanpa ekspresi siap yang akan menyangka bahwa hatinya sedang rapuh saat ini.


"Aku ingin menangis tapi aku tidak tau alasan ku menangis karena apa, aku benci diriku yang sekarang" gumam Sarah menatap taman di bawahnya.


Diluar Vallen mondar mandir menunggu Sarah keluar, dia ingin masuk untuk menemani sahabat nya tapi dia mengerti Sarah pasti butuh waktu untuk sendiri.


"Vallen kemari lah, jangan ganggu dia biarkan Sarah sendiri dulu" ucap Vano.


"Aku khawatir dengan keadaannya, kapan semua ini selesai"


"Sabar sayang, besok kita semua akan berkumpul dan membicarakan ini baik baik"


"Aku tidak ingin mereka bercerai" kata Vallen mendekati Vano lalu memeluknya.


"Tidak akan, aku yakin mereka memiliki ikatan yang kuat"


Vano membalas pelukan Vallen, keduanya sama sama khawatir dengan hubungan Ethan dan Sarah saat ini.


***


Keesokan harinya semua disuruh berkumpul dirumah Vano untuk sarapan termasuk Ethan dan Sarah, semua duduk dikursi masing-masing yang berdekatan dengan pasangan.


Pagi ini Ethan terlihat lebih baik dari kemarin, dia mengenakan setelan jas rapi padahal Vano sedang mengambil cuti.


"Kau ingin kemana?" Tanya Vano.

__ADS_1


"Mulai hari ini aku akan menggantikan mu untuk sementara di perusahaan" jawab Ethan datar.


Andre dan Zoya memperhatikan sikap dingin Ethan kembali seperti dulu, hanya berbicara secukupnya tanpa ekspresi.


"Sarah kau sudah datang? Ayo duduklah" ajak Vallen.


Sarah melihat seisis meja makan, hanya disamping Ethan yang kosong, kakinya ragu untuk melangkah namun tiba-tiba seorang wanita langsung menyambar tempat duduk disamping Ethan.


Gadis yang bertubuh seksi dan elegan tampak sangat cantik dan ia sedang tersenyum pada Ethan saat ini.


"Kau siapa?" Tanya Vano datar melihat wanita itu tiba-tiba datang dan duduk tanpa permisi.


"Aahh ya aku lupa memberitahu kalian bahwa dia adalah Oliv dia yang akan membantu ku menyelesaikan pekerjaan kantor selama Vano libur" jawab Ethan masih tetap dengan wajah datarnya.


Sarah langsung menghentikan langkahnya menuju meja makan, sudah tidak ada tempat baginya sekarang.


"Tuan ini sarapan Anda" ucap Oliv memberikan piring pada Ethan.


Vallen menatap Sarah, gadis itu seperti dipermalukan oleh Ethan sampai sampai tempat duduk pun tidak ia dapatkan.


"Apa dia lapar? Kurasa tidak" jawab Ethan tanpa takut menatap ayahnya.


"A,,,ayah sebenarnya aku sudah makan" saut Sarah berusaha tersenyum.


"Ethan jangan keterlaluan!!" Kata Andre.


"Jika kau masuk masalah akan selesai!" Ucap Ethan menatap Sarah.


Jleb!!!


Rasanya Sarah ingin menghilang saja daripada dipermalukan seperti itu didepan banyak orang.


"Aahh ya sebaiknya begitu, permisi" Sarah langsung berjalan kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Setelah Sarah menghilang Ethan menggeser piring yang diberikan oleh Oliv tadi, jangan kan makan nafsunya melihat makanan saja tidak ada.


"Ethan kami kemari untuk membahas masalah mu dengan Sarah, kenapa kau semakin membuat ulah!" Ucap Andre kesal dengan tindakan putranya.


"Oliv siapkan mobil!!" Titah Ethan.


"Baik tuan"


Setelah Oliv pergi Ethan menatap satu persatu isi meja makan.


"Kalian tidak perlu ikut campur, aku bisa menyelesaikan nya sendiri"


"Apa dengan cara bercerai? Seperti itu?" Tanya Faris.


"Kenapa tidak pa" jawab Ethan lalu pergi dengan membawa berkas ditangannya.


Didalam kamar Sarah ingin sekali berteriak untuk meluapkan sesak di dadanya namun tidak bisa, ia hanya bisa mengguyur tubuhnya dengan air.


Tidak ada yang boleh melihatnya menangis walau benda mati sekalipun, dia sudah kedinginan karena suhu air yang ia gunakan minus tapi tetap saja itu tidak terasa.


Tok,,,tok


Sarah menghentikan aliran air agar ia bisa mendengar suara orang yang masuk kedalam kamarnya.


"Aku sudah membuat surat perceraian, tandatangani ini lalu berikan pada ku secepatnya" ucap Ethan meletakkan dokumen diatas ranjang lalu pergi.


Ceklek


Sarah kembali menyalakan air dan melipat kedua tangannya di lutut lalu bersembunyi, dia ingin merasakan sakit itu sendiri.


"Aarrgghh!!!" Sarah memukul dirinya agar rasa sakit itu sedikit berkurang namun percuma saja.


Diluar Ethan belum menutup pintu, dia mengelabui Sarah dengan berpura pura membuat suara pintu tertutup.

__ADS_1


"Kau sangat membenciku rupanya, sebenarnya laki laki yang kau inginkan seperti apa biar aku berusaha menjadi laki laki itu" gumam Ethan akhirnya meneteskan air mata melihat pintu kamar mandi.


"Aku tidak tau apakah aku mencintaimu atau tidak tapi aku benci jika kau menandatangani surat itu" imbuh Ethan lalu membuka pintu sangat pelan agar Sarah tidak mendengar nya.


__ADS_2