Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 56


__ADS_3

Setelah semuanya selesai terurus dengan cukup berantakan, Vano meninggalkan Vallen dan bayi itu dikamar dia tidak ingin tidur diruangan yang sama dengan Vallen karena Vano masih tau batas.


Tak terasa hingga sore hari Vano yang sedang pulas di alam mimpi akhirnya membuka mata dan melihat sekeliling masih sepi, itu artinya orang orang rumah belum kembali.


Huuhh


Vano menghela nafas sebelum berjalan ke kamarnya untuk shalat ashar sekaligus melihat kondisi bayi.


Saat masuk Vano melihat Vallen sedang memeluk bayi itu walau ia tertidur, Vano memiliki harapan kecil bahwa Vallen sedikit tidaknya tau bagaimana cara mengurus bayi.


"Kau terlihat pintar saat tidur" gumam Vano tersenyum tipis lalu masuk kedalam kamar mandi.


Ketika para pria memuji wanitanya karena cantik saat tertidur beda dengan Vano yang harus memuji Vallen karena alasan lain.


Beberapa saat setelah selesai menunaikan ibadah, Vano melipat sajadah nya dan bersiap siap merapikan alat alat bayi yang ia urus untuk dikembalikan karena Vano merasa waktunya menjaga bayi sudah habis.


"Mmhh" Vallen menggeliat sembari menyipitkan mata melihat sekeliling, sejuk sekali rasanya melihat laki laki tampan mengenakan sarung ditambah dengan peci hitam.


Siapapun perempuan yang melihat itu pasti ia akan tertegun dengan pesona Vano termasuk Vallen yang tidak mengerti soal style tapi ia suka melihat Vano dengan pakaian seperti itu.


"Sudah bangun? Ayo cepat bantu aku memasukkan peralatan bayi ini kedalam tasnya" ucap Vano.


Vallen mengangguk lalu mengambil tas dan memasukkan seluruh barang barang bayi itu.


"Manusia harus mandi bukan? Kenapa anak manusia yang satu ini tidak mandi?" Tanya Vallen ketika nyawanya sudah mulai terkumpul.


"Boleh saja tapi aku belum bisa memandikan bayi takutnya kita akan salah pegang lalu tulangnya bermasalah, biarkan saja baby sitter yang akan mengurus itu" jawab Vano sambil membantu Vallen.


Tok,,,tok,,,tok


"Hay!!" Sapa Zea dari luar kamar.


"Hay juga" sapa Farel sok imut.


Vano langsung melempar bibir Farel dengan botol bedak bayi.

__ADS_1


"Aww!!!"


"Kenapa kembali" kata Vano ketus.


"Ketinggalan pesawat, kami tidur didalam mobil dan tidak mendengar papa mama memanggil" ujar Zea dengan wajah kesal.


"Kenapa tidak menggunakan pesawat lain" ucap Vano.


"Pertanyaan banyak sekali seperti wartawan sudahlah kau bisa memasak bukan? Yaa walaupun hanya telur goreng tapi tolong lah sekali ini saja buatkan Zea makanan. Aku lelah!" Tutur Farel memelas.


"Tidak bisa! Buatkan saja sendiri sudah sana pergi!!" Usir Vano kembali melempar baby oil.


"Settan!! Setidaknya jangan mengenai aset bisa tidak!!!" Teriak Farel lalu menutup pintu dengan kasar sembari memegang asetnya yang terkena botol.


Vano acuh saja dan melanjutkan persiapan pemulangan bayi.


Tring,,, tring


"Tunggu sebentar jangan kemana mana" ucap Vano lalu keluar meninggalkan Vallen sendiri dengan bayi itu.


"Kau bau tidak pernah mandi iiieekk" kata Vallen menutup hidungnya.


"Manis sekaliii" ucap Vallen mencubit pipi bayi itu.


"Baiklah agar kau terlihat lebih manis ayo kita mandi aku akan membantu mu manusia kecil" ujar Vallen lalu mengangkat bayi itu dan membawanya keluar.


Beberapa saat kemudian Vano kembali setelah mengangkat panggilan dari klien, Ethan tidak bisa mengurus klien karena sedang berada di atas pesawat.


Didalam kamar tidak ada satupun manusia, bayi itu tidak ada juga, Vano langsung berlari menuruni anak tangga dan menghampiri Zea yang sedang memakan masakan Farel.


"Vallen dimana?" Tanya Vano panik setengah mati.


"Bukannya bersama kakak tadi" jawab Zea.


"Kau melihat Vallen?" Tanya Vano pada Farel.

__ADS_1


"Mm sepertinya di kolam renang, aku melihatnya berjalan kearah sana" jawab Farel dengan santai menyuapi si anak manja yaitu Zea.


Vano mulai merasakan hal yang tidak enak dalam hatinya, bayi tidak ada, Vallen tidak ada dan sekarang mereka di kolam renang. Vano langsung berlari kearah kolam renang dan apa yang ia lihat??


"Vallen sedang apa?" Tanya Vano mendekati Vallen.


"Sedang duduk, kemari lah" ajak Vallen agar Vano ikut duduk dipinggir kolam.


Vano harus bersyukur Vallen tidak melakukan apapun pada bayi itu, setidaknya sekarang bayi itu tidak ada ditangan Vallen jadi dia bisa bernafas lega.


"Memelihara bebek?" Tanya Vano ikut duduk sembari menunjuk benda di dalam kolam.


"Bebek?" Ucap Vallen mengulang perkataan Vano.


"Bukan kah itu bebek? Kepalanya putih" ujar Vano memperhatikan dengan teliti benda itu.


"Bukan"


"Lalu?"


"Bayi sedang mandi dengan mandiri" jawab Vallen tersenyum lebar.


Vano membulatkan mata dan langsung menceburkan dirinya kedalam kolam renang, sekuat tenaga Vano mendekatkan dirinya pada bayi itu lalu meminggirkan pelampungnya.


Uhuk,,,uhuk,,,uhuk


"Vallen!!" Panggil Vano setengah berteriak.


"A,,,aku salah?" Tanya Vallen membangunkan tubuhnya sembari meremas tangan.


"Sangat!! Kenapa memandikan bayi seperti itu!! Bagaimana jika dia tenggelam hah!!" Jawab Vano sedikit emosi.


"Aku tau kau menggunakan pelampung tapi untuk ukuran bayi jangan terlalu lama dia bisa kehabisan nafas Vallen astaga!!"


"Dari awal aku sudah katakan jangan lakukan apapun, aku bisa melakukan nya sendiri kau cukup diam dan lihat astaga selalu tekanan batin bersama mu!!" Ucap Vano memarahi Vallen habis habisan.

__ADS_1


Vallen hanya diam menunduk ketika Vano meninggalkan nya masuk untuk mengganti kembali pakaian bayi itu, untung saja bayi itu cukup periang jadi dia hanya tertawa dan tersenyum ketika bermain air seperti tadi.


Dan untungnya Vira memesan bayi yang sudah beberapa bulan jadi bayi itu tidak terlalu menderita di usia dini.


__ADS_2