Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 81


__ADS_3

Selesai acara akad tiba tiba Vano membubarkan para tamu undangan termasuk keluarga Ferrero, Vano menyuruh David untuk pulang sementara waktu dia menyelesaikan tugas.


"Hey setidaknya kita berfoto terlebih dahulu" ucap Vino kesal.


"Tidak ada waktu, hey kau bisa bekerja tidak!! Cepat lepas semua!" Titah Vano pada pengawal yang berubah profesi menjadi tukang bongkar dekorasi.


"Kau apa pekerjaan mu, bantu dia membuka dekorasi yang ada disana!!" Titah Vano kesal.


Seluruh dekorasi yang baru saja selesai dipasang 3 jam yang lalu kini sirna di hadapan Vano, matanya sakit melihat dekorasi pernikahan sedangkan gadisnya sendiri hilang entah kemana.


"Buka saja kak semuanya jangan disisakan satupun mata Zea perih melihat dekorasi seperti ini" saut Zea ketus.


"Hey Vano ada apa denganmu? Kurangi emosional mu, sabar sedikit kita pasti akan pergi menyerang tapi tunggu waktu" saut Vino kesal.


"Kalian terus saja mengatakan itu, aku sudah muak mendengar nya!!" Kata Vano kesal.


"Baiklah baiklah kita atur pormasi terlebih dahulu, lupakan pernikahan yang tadi intinya sah sekarang fokus mencari Vallen calon menantu" ucap Vino mengalah.


Mereka duduk disofa keluarga, keluarga tiga keluarga sekaligus siap menyumbangkan bantuan untuk Vano.


"Baiklah sekarang kita atur posisi menyerang,,,,"


"Tidak, sebelum mengatur posisi serangan lebih baik tentuka siapa saja yang akan pergi" kata Farel memotong kalimat Andre karena ia trauma meninggalkan para wanita dirumah.

__ADS_1


"Benar, baiklah yang akan pergi adalah aku itu sudah pasti, Abi, Ethan, dan om Faris" saut Vano.


"Hey hey apa apaan ini kenapa aku tidak ikut" saut Farel bingung.


"Bukankah,,,,,"


"VANO AKU IKUT!!" ucap Farel mempertegas ucapannya.


"memangnya tidak masalah?" Tanya Vano seakan meminta persetujuan dari Zea.


"Pergi saja kak kenapa menatap Zea seperti itu?" Tanya Zea balik.


"Tidak, lupakan!!" Jawab Vano mengalihkan pandangannya.


"Tidak!!" Jawab Vano dan Vino serempak.


"Ck aku tidak mau tau, aku ikut!!"


"Umi jangan main main, diam disini!!" Saut Vano datar.


"Mungkin umi bisa membantu untuk merakit bom disana"


"Vano bisa merakit granat umi tidak perlu khawatir" ujar Vano.

__ADS_1


"Hiiisss begini maksud umi, Lina dan Zoya sudah ada yang melindunginya lalu umi siapa yang melindungi? Tidak ada kan? Lebih baik umi ikut dan di lindungi oleh Abi" Tutur Vira panjang lebar hanya untuk membuat alasan.


"Lalu istriku siapa yang melindungi?" Tanya Farel dengan wajah polosnya.


Zea menyembunyikan wajahnya karena malu dengan tatapan absurd keluarganya akibat perkataan refleks dari Farel.


"Titip pada om Andre dulu sayang" jawab Vira.


Farel mengangguk angguk polos sedangkan Vano sudah muak melihat banyaknya waktu yang tertunda.


"Sarah!!" Vano memberikan kode untuk mendekat.


"Iya tuan?"


"Tunjukkan jalan!" Jawab Vano.


"Baik tuan" kata Sarah.


Menunggu hingga malam hari tiba memang cukup lama bagi Vano, dia harus menunggu malam terlebih dahulu agar bisa membawa Vallen kembali, sebenarnya bisa saja Vano pergi disiang hari hanya saja terlalu berbahaya, pasti penjagaan Vallen sangat ketat saat tertidur jika menunggu malam para penjaga berpencar untuk mencari mangsa sekaligus menyelendupkan barang ilegal termasuk narkoba ber ton ton, senjata tajam dan membunuh musuh.


Hingga malam hari tiba mereka berangkat sesuai rencana Vano, Vino, Vira, Farel, Sarah dan Ethan menjalankan aksi malam ini.


"Siap?" Tanya Vano datar.

__ADS_1


"Siap!" Jawab seluruhnya kompak


__ADS_2