
Uhuk,,,uhuk,,,uhuk
Vano langsung mengambil air minum dan memukul pelan dadanya namun masih saja ia tersedak.
"Di,,,dia" Vano menajamkan matanya untuk memastikan itu adalah Vallen.
"Pa ma Vallen ingin,,,," memberikan isyarat malu malu.
"Hati hati sayang" ucap bela mengelus kepala putrinya.
Setelah Bela dan David pergi untuk menyapa para rekan kerja, Vallen berjalan semakin dekat hingga ia sudah duduk didepan Vano.
"Hey!" Vallen mengangkat tangannya didepan mata Vano agar berhenti melamun.
Vano masih melongo melihat penampilan Vallen dengan balutan dress tertutup berwarna cream dan poin utama berada di hijab, Vallen terlihat sangat anggun dan cantik mengenakan hijab walau hanya dia sendiri yang mengenakan pakaian seperti itu di acara ini.
"Vano Salvatrucha?" Panggil Vallen terus melambaikan tangannya didepan Vano.
"Mm?" Vano menjawab seadanya karena masih tidak percaya.
"Kau baik baik saja?"
__ADS_1
Vano mengambil tangan Vallen lalu meletakkannya di dada.
"Apa ini bisa dikatakan baik baik saja" jawab Vano.
Jelas Vallen merasakan degupan kencang didada Vano, detakan jantung Vano memiliki kecepatan hampir sama dengan orang yang berlari jauh.
"Biarkan aku bernafas sebentar saja" ucap Vano melepas tangan Vallen lalu memutar tubuhnya untuk mengambil nafas dengan tenang tanpa dilihat oleh Vallen.
Huuuhh!!!
Vano menetralkan kondisi jantungnya sejenak sebelum kembali berpacu.
Jantung bodoh ini, kau ingin melihat ku mati sehingga berdetak sekeras ini. Batin Vano
"Mm?" Entah kenapa Vano selalu refleks menjawab Vallen jika gadis itu memanggil nya dengan suara lembut.
"Apa aku terlihat aneh? Kenapa kau menatap ku seperti itu" kata Vallen.
Vano menendang Ethan dan mengusir Sarah dari meja lalu mempersilahkan permaisurinya untuk duduk berdua dengannya.
"Aneh kata mu? Hey kau sangat cantik seperti ini" jawab Vano tersenyum manis.
__ADS_1
"Kau yakin? Mm aku merasa aneh karena orang orang melihat ku seperti ini" ujar Vallen melihat sekeliling.
"Seribu kali lipat yakin, Vallen aku masih belum percaya dengan apa yang ku lihat. Ini kau? Gadis bermata dingin yang ku temui beberapa bulan yang lalu?" Vano masih saja tidak percaya dengan apa yang ia lihat, ada rasa bahagia dan baru melihat sosok gadis didepannya ini.
Vallen menghela nafas sembari meletakkan satu tangannya di dagu.
"Terimakasih, tanpa dirimu aku bukan siapa-siapa baik dimata Tuhan dan manusia" ucap Vallen tersenyum tipis.
"Tidak, ini bukan karena aku tapi kau sendiri yang memilih jalan mu menjadi seseorang yang lebih baik, terimakasih banyak telah bersedia menutup tubuh mu, jangan sedih karena orang tidak bisa melihat kecantikan mu dari luar karena kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika kau mampu menutup bagian lekuk tubuh mu dan menyimpan nya hanya untuk suami mu kelak, yang jelas itu adalah aku" tutur Vano memberikan ceramah singkat namun menyombongkan diri di akhir kalimat.
"Tolong peringati aku jika aku melakukan kesalahan kelak"
"Tentu saja oleh karena itu bujuk papa mu agar memberikan restu menikah secepat mungkin" jawab Vano mengubah ekspresinya menjadi kesal.
"Papa mengatakan aku boleh menikah minimal di usia 22 atau 23" kata Vallen.
"Du,,, dua puluh tiga? Usia ku sekarang 25 dan saat kau berusia 23 usia ku sudah 30 tahun?" Mata Vano hampir keluar menghitung usianya akan menikah.
"Papa mu benar benar harus di sliding terlebih dahulu, tunggu disini" ujar Vano kesal meninggalkan Vallen untuk menemui David.
🌱🌱🌱
__ADS_1
minta komen☹️ maksa juga