Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 205


__ADS_3

Bela mengangguk lalu mengajak Vera masuk kedalam kamarnya sedangkan Vano masih tersenyum walaupun nanti kenyataannya tidak seperti itu.


"Vano jangan main main pulanglah!" Ucap Vallen.


"Ya sudah ayo ikut" kata Vano tanpa berniat melepas tangannya dari Vallen.


"Vano,,,"


"Apa sayang"


"Kau mempersulit nya, pulang lah terlebih dahulu"


"Iya nanti baru satu menit disini"


"Maksudku pulang ke tempat mu"


"Tidak akan sayang" Vano mencium tangan istrinya lalu makan roti yang ada di atas meja untuk menenangkan dirinya mengenai panggilan anak perempuan tadi pada Vallen.


"Anak yang tadi siapa? Mirip dengan mu" imbuh Vano berusaha setenang mungkin menanyakan itu.


Vallen harus menjawab apa dia belum bisa menjelaskannya karena masalah itu terlalu rumit.


"Aku sudah menikah dengan orang lain"


Vano menghentikan kunyahannya lalu menatap tajam ke arah Vallen tanpa senyum sedikitpun.


Senyumnya kembali terbit, Vano berdiri lalu mencium bibir Vallen sekilas dan duduk kembali ditempat nya.


"Jangan suka berbohong tidak baik" dia tau betul ekspresi istrinya jika sedang berbohong dan itu. Tidak akan hilang sampai kapan pun.


"Tidak pernah menikah berarti dia putri ku?"


Vallen bungkam seribu kata, dia berusaha melepaskan dirinya dari genggaman Vano namun tidak bisa karena Vano memegang nya sangat erat.


"Aaahh beberapa tahun berpisah aku punya putri ternyata" gumam Vano.


Sebenarnya Vano sudah menangis dalam tapi ia sembunyikan didepan Vallen, dia tidak ingin Vallen mengira dia lemah lagi.

__ADS_1


"Vera" Vano tersenyum menyebut satu nama itu.


"Kenapa namanya mirip umi sayang?" Tanya Vano.


Vallen memalingkan wajahnya tidak ingin menjawab pertanyaan Vano.


"Haahh bertanya dengan batu sama saja bertanya dengan jin, pa Vera putri ku kan?" Tanya Vano menatap David.


Lagi lagi David mengangguk polos karena masih tidak percaya Vano menemukan tempat mereka.


"Pa kamar Vallen dimana?" Vano sepertinya memanfaatkan otak beku David.


Dia menunjuk ruangan didekat tangga.


"Oh seingat ku kau tidak suka kamar dilantai satu sekarang berubah ya, ayo ke kamar ada yang ingin ku bicarakan"


"Disini saja!"


"Ck!" Vano mengangkat tubuh Vallen menuju kamarnya lalu menutup pintu.


Vano mendudukkan Vallen disofa, kamar itu terlihat sepi dan kosong sepertinya Vallen jarang berinteraksi dengan kamarnya sendiri.


"Kenapa?"


"Kenapa kau tidak memberitahu ku bahwa aku memiliki putri? Kenapa kau membesarkan nya sendiri? Vallen hak ku juga ada disana, dia bukan putri mu saja tapi putri kita. Bukan soal anak saja ada seribu satu macam pertanyaan berbeda yang ingin kutanyakan padamu. Aku tidak akan menayangkan semuanya asal kau pulang" tutur Vano sembari memegang tangan istrinya.


"Aku tidak bisa"


Vano memejamkan matanya untuk menabahkan diri mengatakan apa yang seharusnya tidak menjadi perselisihan.


"Vera akan diasuh oleh ku, kau masih tetap istri sah ku tapi untuk masalah anak aku yang akan mengurusnya" ucap Vano lalu pergi.


Brugghh!!!


Vallen refleks bergerak dan tersungkur ke bawah, air matanya berjatuhan dilantai karena dua hal pertama karena Vano ingin mengambil Vera dan kedua karena Vano akhirnya melihat satu kelemahan terbesar Vallen.


Vano memutar tubuhnya dan melihat Vallen tersungkur begitu saja, dia langsung membantu Vallen kembali duduk.

__ADS_1


"Kau baik baik saja, dimana yang sakit" Vano memegang kaki sampai lutut Vallen.


Melihat tangisannya semakin deras Vano tidak tau harus berbuat apa tapi ia menyadari satu hal bahwa kaki Vallen tidak merespon sedari tadi.


"Vallen" Vano menatap istrinya sangat dalam.


"Masih mau memiliki istri lumpuh? Tidak kan? Jadi tolong pergi dan jangan pisahkan aku dengan Vera, dia adalah penguat hidup ku, aku berjuang keras agar dia bisa tumbuh seperti sekarang" ucap Vallen sembari menghapus air matanya.


Sekarang Vano yang bungkam mendengar ucapan Vallen. Tiba tiba Vano mengambil tangan Vallen untuk memukul dirinya sendiri.


"Apa yang kau lakukan lepaskan!" Vano tidak perduli.


Beberapa tamparan melayang keras di pipi Vano sampai wajahnya memerah.


"Vano lepas!!" Vallen berhasil melepaskan tangannya agar tidak menyakiti Vano lagi.


"Kenapa aku bodoh sekali Vallen, aku membiarkan mu sakit sendirian, aku tidak ada disaat anak kita lahir, aku tidak ada disaat kau menangis keras menerima kenyataan ini, aku merasa aku yang paling tersakiti tapi ternyata salah" ucap Vano sambil menangis dipangkuan Vallen.


"Aku tidak tau kau hamil, aku tidak tau apa yang kau inginkan saat hamil aku tidak tau bagaimana perjuangan mu menyelamatkan kandungan mu dijurang yang gelap malam itu, ya Tuhan berdosa sekali aku"


Vano tidak bisa mengontrol tangisnya, ia menangis sangat keras meminta maaf pada Vallen.


"Maafkan aku Vallen, maaf atas nama seluruh keluarga ku yang tidak bisa menjagamu dengan baik"


"Pulanglah Vano aku butuh ketenangan" Vallen memegang dadanya karena terlalu sesak untuk suasana hari ini.


Vano pun sadar itu ketika ia melihat Vallen memegang dada, dia ingin tinggal disana tapi tidak mungkin untuk saat ini karena Vallen terlihat butuh waktu.


"Baiklah tapi,,,,"


"Aku mohon jangan bawa Vera, kau akan menyakiti ku jika melakukan itu"


Vano mengangkat kepalanya lalu menghapus air mata Vallen, dia berharap ini yang terakhir mereka mengeluarkan air mata.


"Aku tidak akan membawanya, boleh aku kesini untuk bermain dengannya? Hanya bermain tidak lebih"


"Seperti katamu kau juga memiliki hak atas Vera"

__ADS_1


"ingat kau berhutang penjelasan padaku"


Vano tersenyum lalu mencium kening Vallen sebelum ia benar-benar meninggalkan kamar itu.


__ADS_2