
Dan satu hari setelahnya semua berkumpul dirumah kedua yaitu rumah putra dari Vino Salvatrucha, mereka sedang bersiap-siap menuju ke kediaman Ferrero untuk beberapa hari.
Vino, Vira dan semuanya juga ikut demi keamanan hanya Vano, Ethan, dan Farel yang tetap berada dirumah.
"Kalian yakin tidak ingin dibantu?" Tanya Vino cukup khawatir dengan musuh besar Vano kali ini.
"Tidak abi lindungi para wanita dirumah papa saja itu sudah sangat membantu" jawab Vano.
"Baiklah tapi ingat kalian harus hati hati jika ada sesuatu langsung kabari kami" ujar Vino.
"Baik abi"
Vallen memeluk suaminya sebelum masuk kedalam mobil, dia ingin sekali membantu Vano tapi tidak diizinkan.
"Aku akan kembali jangan khawatir" ucap Vano membalas pelukan istrinya.
"Hati ku merasa ini bukan hal yang baik, izinkan aku ikut" kata Vallen tetap mengeratkan pelukannya.
"Kau ingin membantu?" Tanya Vano.
Vallen menganggukkan kepalanya antusias.
"Lindungi mama dan papa dirumah, mereka tidak sepintar dirimu dalam bela diri" ujar Vano.
"Tapi,,,"
"Jelek jelek begitu tetap saja papa mu adalah papa ku juga jadi pastikan dia tidak terluka"
"Papa ku tampan itu sebabnya aku cantik" gerutu Vallen.
"Sudahlah masuk sana" kata Vano tersenyum tipis.
"Lima menit lagi" ujar Vallen.
Vira menepuk pundak putranya agar memberikan pelukan hangat untuk istrinya, dia pernah berada diposisi Vallen dulu oleh karena itu Vira sangat pengertian pada menantunya.
"Tiga,,, dua,,, satu sudah lima menit sekarang masuklah" ucap Vano masih dengan senyum manis nya.
"Satu menit lagi" Vallen benar benar seperti ditinggalkan untuk selamanya padahal hanya beberapa hari saja.
Haaahh!
__ADS_1
"Baiklah sayang ku peluk sepuas mu agar tidak merindukan ku" ujar Vano.
Vallen melepaskan pelukannya karena semakin ia memeluk Vano semakin ia tidak ingin jauh dari pria itu.
"Hey kena,,,,pa" Vallen masuk kedalam mobil sebelum Vano sempat melanjutkan kalimatnya.
Vano mengetuk kaca mobil untuk membujuk Vallen, entah apa yang berbeda dari gadis itu tapi belakangan ini dirinya sangat sensitif terhadap sesuatu.
"Apa?" Tanya Vallen ketus.
Vano memasukkan kepalanya kedalam mobil lalu mencium bibir dan kening istrinya.
"Hanya beberapa hari sayang tidak lama" kata Vano tersenyum manis.
"Ya sudah pergi sana" Vallen juga tidak nyaman jika Vano terlalu manis didepan Zea dan Sarah yang satu mobil dengannya.
"Tidak tidak katakan dulu kau mencintaiku" Vano tetap kekeh tidak ingin mengeluarkan kepalanya.
"Vano aku malu" bisik Vallen.
"Zea Sarah tutup telinga kalian" titah Vano datar.
"Ayo katakan sekarang"
"Aku mencintaimu sudah pergi sana" usir Vallen karena wajahnya sudah memerah.
"Tidak ikhlas ucapkan sepenuh hati"
"Aku mencintaimu"
"Tidak tidak harus dengan senyuman tulus"
Haaahh!!
"Aku mencintaimu Vano Salvatrucha sekarang keluarlah jangan sampai umi, abi dan yang lainnya meninggalkan kami" ujar Vallen frustasi.
"Aku juga mencintaimu tidak tidak aku sangat mencintaimu" ucap Vano dengan senyum manjanya.
"Melebihi ke Ethan?" Tanya Vallen.
Wajah Vano datar seketika ketika pertanyaan itu dilontarkan oleh Vallen.
__ADS_1
"Cemburu?" Tanya Vano balik.
"Jelas, Ethan selalu mendapat perhatian lebih darimu padahal pria itu memiliki tiga ibu tiga ayah dan tiga saudara tapi kau sangat menyayangi nya, kau memperhatikan seluruh kebutuhan dan keinginannya. Aaahh terkadang aku frustasi melihat itu" tutur Vallen melontarkan unek uneknya.
"Dasar anak kecil kau istri ku tidak akan ada pengganti, Ethan dan dirimu memiliki tempat masing-masing jadi jangan pernah dibandingkan" Vano gemas melihat tingkah istrinya yang cemburu dengan Ethan sendiri.
"Bagaimana jika aku pergi? Kau akan mencari pengganti ku?" Tanya Vallen dengan tawa kecil.
"Aku tidak suka dengan pertanyaan mu" jawab Vano datar.
"Aku hanya bercanda"
"Perkataan seperti itu tidak pantas dibuat lelucon, jangan pernah katakan itu lagi" ujar Vano.
Vallen tersenyum mengiyakan Vano agar pria itu mengembalikan senyum yang tadi.
"Pergilah, hati hati dijalan" ucap Vano lalu mengeluarkan kepalanya dari pintu kaca mobil.
Vano berpindah ke belakang dan mengetuk kaca mobil umi abinya.
"Abi jangan lupa lindungi umi dan istri Vano" ucap pria itu.
"Mm" Vino hanya menjawab seadanya karena perkataan itu sudah lima puluh kali lebih ia dengarkan.
"Sayang jaga diri baik-baik ya" ucap Vira.
"Baik umi, umi juga hati hati jangan keluar rumah tanpa pengawasan abi, jangan membuka jendela sembarangan"
Vira tersenyum lalu mengangguk, Vano segera mengambil tangan uminya dan bersalaman pada Vira dan Vino.
"Hati hati umi, abi" ucap Vano.
Delapan mobil beserta pengawal mereka perlahan meninggalkan gerbang rumah kedua Salvatrucha, bayangan Vallen, Zea, dan Sarah pun menghilang dalam manik hitam ketiganya.
"Nanti malam Vano" ujar Farel menatap gerbang yang ditutup oleh penjaga keamanan.
"Pasukan kita sudah menunggu arahan" saut Ethan.
"Jangan disini, masuk dulu" kata Vano.
Rencana mereka untuk menyerang besok tapi itu hanya rencana bohong, Vano dan yang lainnya akan menyerang malam ini juga, hanya mereka bertiga yang tau rencana ini bahkan Vallen saja tidak tau hal itu.
__ADS_1