Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 189


__ADS_3

Dan akhirnya 48 jam berlalu, keluarga Ferrero seperti ditelan bumi jangankan tentang kabar mereka ada dimana saja tidak ada yang tau.


Sedangkan kondisi Vano membaik cukup cepat walaupun dia masih koma dan dokter intan yang diutus khusus kerumah sakit sudah menyatakan bahwa Vano akan segera sadar.


"Va,,, Vallen"


Dokter intan merasa mendengar sesuatu namun ia tidak mendengar nya secara jelas, mata Vano masih tertutup namun ia tau betul itu suara milik Vano.


"Tuan?" Panggil dokter intan.


"Vallen"


Dokter intan tersenyum melihat respon Vano, ya walaupun matanya masih belum terbuka tapi sudah bisa dipastikan bahwa ia akan sadar sepenuhnya sebentar lagi.


Dokter intan keluar ruangan menemui keluarga Salvatrucha, dia ingin ketika Vano sadar keluarganya ada disamping pria itu.


Ceklek


"Maaf mengganggu nyonya, kalian bisa masuk dulu? Sepertinya tuan Vano akan segera sadar" ucap dokter intan.


Tentu itu kabar bahagia untuk Vira dan Vino, akhirnya setelah dua hari melewati masa ketegangan mereka bisa bernafas lega.


"Tapi tuan Vano terus saja memanggil nona Vallen"


Senyum keduanya pudar, alih alih Vallen keluarganya saja mereka masih belum tau dimana.


"Apa Vallen harus ada disini?" Tanya Vira.

__ADS_1


"Tidak juga tapi dia akan lebih tenang jika melihat orang yang dipikirannya ada ketika ia membuka mata, silahkan nyonya"


Dokter intan membukakan pintu untuk semuanya termasuk Zea yang sudah diperbolehkan pulang.


"Vallen"


Panggilan itu sudah kesekian kalinya, Vira merasa kasihan dengan keadaan putranya, dia kembali pada masalalu nya, apa begini keadaan Vino saat dirinya tidak ada.


"Vallen"


Dengan mata berat Vano berusaha membukanya, dia tidak ingin berlarut-larut didalam kegelapan itu.


"Vallen"


Vira menggenggam tangan putranya sebagai pengganti Vallen, tangan hangatnya memang berbeda dari tangan Vallen tapi Vano cukup nyaman dengan genggaman itu.


"Sudah bangun sayang? Alhamdulillah ya Allah" Vira mencium tangan putranya dengan segala rasa syukur.


"U,,,umi" panggil Vano dengan suara lemah.


Mungkin itu adalah panggilan terlemah Vano seumur hidupnya, suaranya nyaris tak terdengar oleh siapapun.


"Iya sayang kau butuh sesuatu? Ini umi"


"Vano haus" jawab pria itu.


Vira langsung mengambilkan air lalu memberikannya menggunakan sendok.

__ADS_1


"Cukup umi"


Keadaan cukup hening, mereka masih takut dengan pertanyaan Vano selanjutnya.


"Vallen mana umi kenapa Vano tidak melihatnya?" Tanya Vano menatap satu persatu orang diruangan itu.


"Ada sayang tapi masih dirawat juga, belum bisa menjenguk mu" jawab Vira.


Vano menutup matanya dengan nafas sangat amat lega karena Vallen bisa terselamatkan, dan mendengar kata dirawat Vano langsung membangunkan tubuhnya namun dihalangi oleh Vino.


"Mau kemana sayang jangan bergerak dulu"


"Vano ingin melihat keadaan Vallen umi"


Vira menggigit bibirnya menatap Vano, untunglah dia menggunakan kain penutup wajah jadi ekspresinya bisa tertutup oleh itu.


"Vallen pasti akan marah jika dia melihat mu mendatangi ruangannya dalam kondisi seperti ini" saut Vino mendukung kebohongan istrinya.


"Apa Vallen pernah menjenguk Vano?"


"Mm pernah tapi dia mengatakan tidak ingin bertemu dengan mu sebelum kau benar benar pulih" jawab Vira.


"Dia datang? Tapi aku kenapa tidak pernah merasakan kehadirannya? Dan dia mengatakan hal sekejam itu padaku?" Tanya Vano bertubi tubi.


Vino tidak tau bagaimana merespon putranya yang jelas dadanya sesak melihat Vano kebingungan seperti itu.


"Hey ini bukan perkataan yang kejam ini hanya penyemangat agar kau cepat pulih dan bertemu dengannya. Benarkan?" Vira mencari pendukung dari semuanya.

__ADS_1


Melihat semuanya mengangguk Vano percaya pada mereka walaupun tidak dengan hatinya tapi sekali lagi tidak mungkin uminya berbohong karena Vira tidak pernah membohongi putranya.


__ADS_2