
Setelah beberapa kejadian itu, Vallen dan Vino semakin dekat. Memang keduanya sama-sama menyadari perasaan namun Vallen tetap kekeh memaksa hatinya untuk tidak merasakan cinta itu hanya saja sangat sulit begitu juga dengan Vano.
Dia khawatir dengan perasaannya sendiri yang semakin menjadi jadi pada Vallen, hingga malam ini keduanya sedang berada dirumah Vino Salvatrucha untuk mendapat wejangan.
Dan sekarang Vino, Andre, Faris, dan Vano sedang berada didalam satu ruangan untuk berunding tentang masalah itu.
"Jadi benar apa yang abi katakan dulu?" Tanya Vino tersenyum tipis meminum tehnya.
"Abi boleh Vano meminta saran kali ini" tanya Vano dengan suara gundahnya.
"Katakan!" Vino melipat kedua tangannya didada mendengar keluh kisah putranya.
"Apa yang abi katakan benar, Vano memiliki rasa pada gadis itu hanya saja,,,," Vano menghentikan kalimatnya tidak tau cara menyampaikannya bagaimana.
"Kau ragu karena kalian berbeda" sambung Vino.
Vano menunduk mengiyakan ucapan abinya, ketakutan terbesar nya selama ini adalah ketika ia menyukai seorang wanita yang berbeda dengan dirinya.
"Kenapa harus takut? Dulu umi tidak pernah takut mencintai abi walaupun kita berbeda, ikuti cara umi mu dia tidak pernah menyeret abi atau memaksa abi untuk masuk kedalam dunia nya, tapi dia memperkenalkan pada abi apa itu dunianya kemana arah ia melangkah" tutur Vino cukup serius agar Vano tidak salah mengambil jalan.
"Umi dan Vallen berbeda abi, Vallen adalah pembunuh!" Ucap Vano gusar.
"Maka hentikan dia" saut Faris.
Vano mengusap kasar wajahnya, memang Vallen sudah berhenti membunuh namun untuk masuk kedalam dunianya apakah itu mungkin pikir Vano.
"Apa kalian menerima menantu mantan pembunuh?" Tanya Vano ragu.
"Kenapa tidak, lagipula dengan hasil pencarian kita Vallen adalah korban bukan pembunuh yang sebenarnya" jawab Vino.
"Dari pengalaman ku dan Vino, Vira adalah satu orang yang membawa berkah bagi kami, tanpa kehadiran Vira kami bukan siapa-siapa dimata Tuhan. Vano kau bisa menjadi Vira untuk Vallen, tuntun dia kejalan mu perkenalan dia pada Tuhan mu jika memang Vallen tidak bisa menerima itu maka kau harus memilih antara meninggalkan Tuhan mu atau meninggalkan kekasih mu" tutur Andre ikut memberikan pencerahan pada Vano.
__ADS_1
"Hanya demi wanita aku akan meninggalkan Tuhan ku? Jangan gila om aku tidak sebodoh itu" ujar Vano datar.
"Vano jika memang kau memiliki perasaan pada gadis itu maka nyatakan padanya secepat mungkin agar kami cepat memproses segala macam keperluan selanjutnya" saut Faris.
"Bisa saja paman tapi Vallen mengatakan tidak ingin menikah" kata Vano semakin frustasi ketika mengingat Vallen mengatakan itu.
"Apa!!" Ujar Vino, Faris, dan Andre bersamaan.
"Yakinkan dia, kau belum memantapkan hatinya Vano" ujar Vino.
Haahhh!!!
Vano menghembuskan nafas kasar lalu berdiri menyudahi pembicaraan serius itu.
"Secepatnya abi" ucap Vano meninggalkan ruang keluarga menemui Vallen
Dikamar Vira, Vallen duduk bersama ibu ibu untuk mendapat wejangan juga, disana sudah siap Vira, Zoya, dan Lina.
"Baik mama satu" jawab Vallen, dia biasa memanggil Lina sebagai mama 1 dan Zoya mama 2 lalu Vira dipanggil umi mengikuti panggilan Vano.
"Vallen apa Vano memperlakukan mu dengan baik?" Tanya Zoya.
"Sangat baik mama 2" jawab Vallen tersenyum manis.
"Vallen, kau merasakan sesuatu yang mengganjal di hati mu saat bertemu dengan Vano?" Tanya Vira tanpa basa-basi.
"Umi kenapa bisa tau? Vallen benar benar mati rasa ketika jarak Vallen dan Vano terlalu dekat, jika Vano marah Vallen merasa sedih dan ingin menangis, jika Vano jauh atau tidak pulang Vallen akan khawatir" jawab Vallen menceritakan segala keluhannya.
"Itu namanya cinta sayang, kau ingin bersama dengan Vano selamanya?" Tanya Vira antusias.
"Vallen sudah bersama dengan Vano, lagipula dia tidak mengizinkan Vallen kemanapun" jawab Vallen.
__ADS_1
"Vallen bukan itu maksud umi, jika seseorang ingin hidup selamanya bersama orang yang ia cintai maka ada yang dinamakan pernikahan untuk mengikat keduanya menjadi satu" ujar Vira menjelaskan sedetail mungkin agar Vallen bisa mencernanya.
"Tidak masalah umi, Vallen bisa menikah walaupun memiliki anak manusia juga tidak masalah" ucap Vallen memberanikan diri.
"Tidak semudah itu Vallen, pernikahan bukan hanya tentang menyatukan diri tapi ada beberapa hal yang harus kau ikuti dari Vano termasuk dari segi kepercayaan jika kau tidak bisa maka maafkan kami, terpaksa Vano akan menikah dengan orang lain yang satu agama dengannya maafkan sekali lagi Vallen" tutur Vira dengan berat hati.
"Tidak bisa umi, Vano tidak boleh dengan orang lain!!" Ucap Vallen menggelengkan kepalanya.
"Baik, Vallen akan mengikuti Vano apapun itu!" Imbuh Vallen.
Ceklek
Tanpa aba aba Vano masuk kedalam kamar Vira dan meraih lengan Vallen keluar dari kamar itu, wajahnya terlihat kesal menerima permintaan Vira.
Vano membawa Vallen masuk kedalam area rumahnya dan menuntun Vallen ke arah taman.
"Ada apa?" Tanya Vallen.
"Aku mencintaimu" jawab Vano datar.
Vallen mengeryitkan dahi mendengar ucapan Vano yang jelas jelas sudah ia pahami maknanya.
"Katakan lah aku ingin bersamamu tapi tidak, semuanya tidak mungkin. Kau berbeda dengan ku kau,,,"
"Aku bisa mengikuti mu" ucap Vallen memotong kalimat Vano.
Vano tersenyum tipis mendengar Vallen, ada rasa senang namun sepertinya ada rasa tidak senang juga Vallen mengatakan itu.
"Masuk kedalam dunia ku atas keinginan hati mu, bukan karena diriku. Jika kau sudah bersedia melakukannya dengan hati maka aku menunjukkan jalan untuk mu. Vallen kali ini aku serius" ucap Vano sungguh sungguh.
"Jika kau tidak bisa maka maafkan aku, Tuhan ku adalah segalanya aku tidak bisa mengorbankan pencipta hanya karena ciptaan" imbuh Vano meninggalkan Vallen sendiri ditaman.
__ADS_1