Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 150


__ADS_3

Dan pagi sekali Vino and the geng mengadakan acara pertemuan untuk kuliah tujuh menit pada anak anak mereka, masalah ini juga sudah dibicarakan dengan para istri masing-masing.


Tiga pasutri muda otomatis harus bersiap siap kerumah utama untuk mengikuti pertemuan tersebut.


"Kira kira abi memanggil kita semua untuk apa ya?" Tanya Vallen.


Vano hanya mengangkat bahu karena ia juga sama sekali tidak tahu menahu soal pertemuan mendadak itu.


Dikamar pasutri pertama juga bingung kenapa mereka dipanggil sangat pagi oleh orangtua mereka.


"Kak Zea ada kuliah pagi ini" ucap gadis mungil itu cemberut.


"Ayo jalan, kakak antar sampai kedalam kelas jika telat, kita lihat siapa yang berani memarahi mu" ujar Farel mendekati Zea.


"Tapi kak,,,,"


"Lebih cepat lebih baik, ayo cepat"


"Malas!!"


Zea merapikan posisi duduknya kembali, paling pertemuan itu hanya akan dihiasi dengan pertengkaran ayah dengan mertuanya.


"Zea tidak boleh seperti itu ayo jalan" bujuk Farel.


"Boleh tapi gendong sampai rumah"


Nasib punya istri anak kecil, jika aku tau dari awal gadis ini jodoh ku sudah ku nikahi sejak usia 2 tahun. Batin Farel


"Baiklah berulah sepuas mu ayo naik" ucap Farel menyediakan punggungnya didepan Zea.


"Terimakasih suami" kata Zea sembari menaiki punggung Farel.


"Sama sama istri" jawab Farel dengan wajah datar.


Farel membawa Zea kerumah utama dengan menggendongnya, yaa walaupun terkesan seperti anak anak Farel tidak malu sama sekali berjalan ditengah tengah pengawal.


Di apartemen Ethan mendapat pesan yang sama dengan dua saudaranya, dia langsung bersiap siap dan membiarkan Sarah tertidur di kamar.

__ADS_1


"Mmmhh!!!" Sarah membuka mata perlahan lalu meregangkan otot-otot nya yang sakit akibat terlalu lama tidur dilantai.


"Sudah bangun? Bersiaplah kita akan pulang sebentar" ucap Ethan menatap Sarah dengan senyum tipis dari balik cermin.


Sarah mengangguk pelan lalu berjalan ke kamar mandi namun sebelum masuk gadis itu memutar langkahnya dan berjalan mendekati Ethan.


Cup!!


"Selamat pagi" ucap Sarah setelah mencium pipi Ethan lalu kembali berjalan sempoyongan ke kamar mandi.


"Se,,, selamat pagi? Ciuman? Aahh kenapa tidak dari dulu" gumam Ethan memegang pipinya.


Pemberantas mafia jika sudah salah tingkah memang aneh, buktinya Ethan sampai termenung melihat wajahnya yang dicium oleh Sarah tadi.


Beberapa saat kemudian keduanya siap, Ethan juga sudah mengambil kunci mobil.


"Sebenarnya kita tidak bisa pergi" ucap Sarah.


"Kenapa? Jika kau tidak ingin pergi tidak masalah aku akan mewakili"


"Kau tidak perlu malu padaku lagi, sungguh tidak masalah jika kau tidak ingin pergi" ujar Ethan.


"Bukan Ethan tapi kita terkunci bagaimana bisa keluar"


Ethan menepuk keningnya sendiri bagaimana bisa ia lupa bahwa ayahnya mengunci mereka tadi malam, Ethan langsung mengambil ponsel lalu menghubungi Andre.


"Ayah buka pintu" ucap Ethan.


"Masih berani kau menghubungi ku, lompat dari jendela!" Jawab Andre ketus.


"Yang benar saja, tidak masalah jika Ethan sendiri tapi Sarah bagaimana? Ayolah ayah buka pintu" ujar Ethan.


"Bagaimana hubungan kalian?" Tanya Andre mengalihkan pembicaraan.


"Sudah membaik, kami berencana untuk menjenguk makam orangtuanya setelah berkunjung ke rumah utama"


"Baguslah, sudah ya ayah sedang meeting dengan Faris dan Vino" Andre langsung memutuskan sambungan sepihak.

__ADS_1


"A,,ayah bagaimana dengan kami, hey ayah!!"


"Bagaimana?" Tanya Sarah dari belakang.


Ethan hanya menggelengkan kepala sebagai isyarat tidak berhasil membujuk ayahnya.


"Baiklah tidak ada jalan lain selain balkon"


"Jangan mengada-ngada ini lantai 32" jawab Ethan dengan cepat.


"Kau lupa siapa aku?" Tanya Sarah menatap Ethan.


"Sekali tidak tetap tidak! Sarah terpeleset sedikit saja nyawa melayang, kau pikir nyawa bisa dibeli?"


"Coba dulu"


"Tidak ada coba coba kau pikir nyawa hanya ajang coba coba" Ethan terus membantah seperti ibu ibu rempong.


"Aku janji itu tidak akan terjadi dan kalaupun terjadi aku akan meminta bantuan mu, setuju?" Sarah terus membujuk Ethan sampai pria itu mengalah.


"Sarah jangan keras kepala, jika aku sendiri tidak masalah tapi ada kau juga jadi aku tidak bisa"


"Jadi aku hanya beban untuk mu, baiklah aku mengerti, kau saja yang pergi aku tetap disini" ucap Sarah melemah seperti wanita tak berdaya.


"Bu,,, bukan aiiihh baiklah ayo turun tapi ingat jangan sampai tangan mu tergores sedikitpun jika itu terjadi seluruh apartemen ini akan hancur"


Mengerikan. Batin Sarah


"Baiklah aku setuju ayo turun!!" Sarah semangat jika bermain adrenalin seperti ini.


Seakan-akan kebahagiaan gadis itu ketika ia mengeluarkan sisi lain dari dirinya yang pendiam, kaki Sarah sangat cekatan melompat dari balkon satu ke balkon berikutnya.


"Sarah hati hati!!" Teriak Ethan.


"Ini sudah sangat pelan dan hati-hati"


"Pelan apanya, kau seperti monyet yang sangat fasih melompat kesana kemari, haahh!!! Nasib punya jodoh Tarzan" gerutu Ethan.

__ADS_1


__ADS_2