Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 17


__ADS_3

"Pantas saja tidak ada penjaga berwujud manusia" ucap Vano melihat 5 ekor singa sedang berjaga mengelilingi rumah.


Dor,,,dor,,dor!!!


Ethan menembak kan obat bius kearah lima singa tersebut sehingga mereka terkapar lemah diposisi masing-masing.


"Ayo, kurasa tempat ini tidak aman jika terlalu lama disini" ujar Ethan.


Vano mengangguk lalu berjalan menuju pintu rumah, namun keduanya kembali dikejutkan dengan tidak terkunci nya pintu itu sedangkan ada manusia didalam sana, bisa saja lima singa itu masuk dan memangsa Vallen.


"Tempat ini benar benar gila" kata Vano lalu memasuki rumah.


Didalam Vano tersentak melihat perabotan rumah lengkap tanpa ada kurang sedikitpun, cat rumah serba putih senada dengan gorden itu terlihat sangat nyaman.


"Apa kau percaya ada rumah mewah didalam hutan?" Tanya Ethan menatap sekeliling ruangan.


"Aku percaya karena aku melihatnya" jawab Vano.


"Jangan tergoda dengan semua ini, cari Vallen sekarang" imbuh Vano mulai fokus dengan tujuan nya.


"Baiklah"


Keduanya berpencar untuk mencari keberadaan Vallen, Ethan mencari dilantai bawah sedangkan Vano mencari diatas.

__ADS_1


Mereka menghabiskan banyak waktu untuk menyusuri rumah itu namun tidak ada Vallen disana, Vano mulai berkeringat melihat Vallen menghilang ditelan bumi.


Ceklek


Ini kamar terakhir yang dibuka oleh Vano dan disana masih tidak ada Vallen, bisa dikatakan Vano mulai menyerah sekarang.


"Kau dimana Vallen" Gumam Vano lemah dan duduk dikasur sementara menunggu Ethan.


Pip,,,pip,,,pip


Vano memasang telinganya tajam tajam mendengar suara, awalnya Vano berpikir itu adalah hitungan mundur dari suara bom tapi tidak suara itu berbeda.


"Vallen jangan bercanda, katakan kau disini!" Ucap Vano hingga berdiri mencari sumber suara.


Pip,,pip,,pip,,pip


"Vallen!"


Pip,,,pip,,,pip


Hanya suara itu yang menjawab Vano, dia mencari kunci disekitar lemari namun tidak ada.


"Sebentar, aku menyebut kan nama Vallen lalu suara itu muncul, bagaimana jika aku memanggil nama orang lain" gumam Vano.

__ADS_1


"Zea!!"


Hening, suara tadi tidak ada lagi. Vano semakin yakin orang yang ada didalam adalah Vallen. Vano ingin mendobrak kaca lemari didepannya namun urung karena Vano lebih tertarik untuk melihat benda disamping lemari.


"Sial!!" Vano melihat sepasang bom menempel disana, sedikit emosi memang jika melihat bom seperti ini tapi disisi lain Vano senang bermain dengan bom.


"Orang itu bodoh sekali kenapa meletakkan bom kelas bawah seperti ini" ucap Vano tersenyum sinis.


Ceklek


Ethan masuk kedalam kamar yang sama dengan Vano karena bosnya tak kunjung keluar dari ruangan itu.


"Kau membawa perlengkapan penjinak bom?" Tanya Vano.


"Tidak" jawab Ethan mendekati Vano.


"Tapi aku membawa ini" ucap Ethan mengeluarkan pisau kecil dari saku jasnya.


"Tidak sia sia aku membawa mu" ujar Vano tersenyum tipis mengambil pisau itu lalu mulai membongkar bom didepannya.


Vano orang yang sangat pintar dalam merakit ataupun menjinakkan bom jadi bom kelas bawah seperti ini sangat mudah untuk dijinakkan olehnya.


"Cih ketua mu sangat bodoh Vallen" ucap Vano melepas bom yang sudah berhasil ia jinakkan.

__ADS_1


Braakkk


Tanpa aba aba Vano menghancurkan lemari kaca itu hingga kacanya tumpah berserakan, kedua tidak melihat apapun didalam melainkan hanya baju biasa.


__ADS_2