
Dua hari setelahnya Vano dan Ethan bersiap siap menemui meeting rahasia yang akan dilakukan di sebuah tempat cukup mewah dikalangan para pembisnis.
Sepertinya meeting itu cukup formal sehingga keduanya harus menggunakan pakaian formal juga, Vano sedikit gelisah sedari tadi sembari mempelajari materi meeting nya.
Bagaimana jika meeting rahasia itu benar benar hanya meeting yang membahas soal saham, bagaimana jika meeting itu hanya untuk mengalihkan perhatian Vano.
"Ayo kau sudah siap kan" Sapa Ethan sembari membuka pintu.
Vano menutup laptopnya lalu keluar tanpa sepatah kata, dia memang jadi pendiam ketika gelisah seperti sekarang.
"Hati hati pa" sapa Excel.
Suara anak kecil yang sedang meminum susu itupun tidak didengar oleh Vano.
"Papa?"
"Om dipanggil Excel" saut Tristan karena Vano tetap tidak menjawab.
Excel mendekati Vano lalu membantunya memasang sepatu, seketika Vano sadar dan langsung mencegah Excel melakukan itu.
"Sayang jangan apa yang kau lakukan" ucap Vano menatap Excel.
"Papa sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Excel berdiri didepan Vano sembari menatap ke atas karena tubuhnya masih terlalu kecil untuk bisa setara dengan Vano.
"Tidak" jawab Vano mencoba tersenyum.
"Jangan bohong pa Excel tau papa sedang memikirkan sesuatu tapi apapun itu Excel berharap Tuhan memberikan banyak kekuatan untuk papa menghadapi segalanya, papa jangan takut ya jika papa takut pejamkan saja mata papa dan bayangkan sesuatu yang indah, guru privat Excel mengatakan menutup mata sebelum menghadapi masalah akan membuat keberanian kita bertambah" tutur Excel sembari mengelus wajah Vano.
Vano tersenyum mendengar penuturan anak kecil itu, bisa bisanya Excel membuat hati Vano sedikit terobati.
"Guru privat mu yang mana mm? Papa akan menambah gajinya" ucap Vano.
"Tu" Excel menunjuk ayahnya.
"Iya benar aku yang mengajari nya tranfser langsung ke rekening ku ya" Saut Ethan yang tidak berniat sama sekali memeras orang hari ini tapi uang itu datang sendiri padanya.
"Jangan dengarkan orang gila pa intinya papa pasti bisa menyelesaikan masalah apapun bentuknya" ucap Excel.
"Terimakasih sayang, papa pergi ya ingat kata papa apa? Jangan keluar hotel"
"Siap!"
Vano keluar terlebih dahulu karena ada beberapa urusan di lobi sedangkan Ethan mengurus sisanya.
__ADS_1
"Hey ayah juga gelisah ayo tenangkan" ucap Ethan mencari perhatian Excel.
"Semangat" kata Excel secukupnya.
"Hanya itu?"
"Memangnya mau apalagi" jawab Excel datar.
"Terserah, darah tinggi aku dengan dua bocah ini!" Gerutu Ethan sembari menutup pintu hotel.
Di mobil Vano kembali menggunakan iPad untuk mematangkan persiapan publik speaking nya didepan orang orang, ini masalah pembahasan saham, aset, dan kerjasama jadi ada banyak yang harus ia persiapkan.
Sekitar 20 menitan keduanya sampai didepan hotel, Vano tidak asing lagi dengan tempat meeting di hotel karena ia juga sering menyewa tempat agar kliennya bisa menginap saat selesai meeting.
"Hebat ya dia" ucap Ethan memperhatikan gadis didepan hotel.
Vano ikut melirik sebentar lalu kembali memperhatikan iPad nya.
"Awas istri mu mengintai" goda Vano.
"Iisshh aku tidak jatuh cinta padanya aku hanya mengatakan dia hebat apa salahnya!"
"Oo iya? Apa alasan mu mengatakan dia hebat?" Tanya Vano.
Vano kembali memperhatikan gadis yang sedang dipandang Ethan sedari tadi.
"Kau akan mendapat masalah besar jika mencintai gadis luar negeri, berani poligami bapak bos?" Sindir Vano dengan senyum mengejek.
"Ck kau tidak mengerti, sudahlah ayo turun" ajak Ethan dengan suasana hati yang kesal.
Keduanya turun dari mobil dan masuk kedalam hotel, Ethan memperhatikan gadis yang duduk dilobi tadi tapi hilang dengan cepat kilat.
Ethan menghela nafas lalu menyusul Vano yang sudah menjauh.
"Tuan Savero?" Sapa pelayan yang menyambut mereka.
Vano mengangguk sembari menunjukkan identitasnya dengan marga Savero.
"Baiklah tuan anda sudah ditunggu didalam, silahkan" mereka membukakan Vano dan Ethan pintu setelah melihat identitas nya.
Ceklek
Vano benar benar menutup mata mengikuti ucapan Excel sebelum masuk kedalam dan melihat orang orang.
__ADS_1
"Selamat datang tuan Savero senang bertemu dengan anda" sapa salah satu pemegang saham Savero.
Vano membuka matanya lalu melirik satu persatu orang di meja, rasanya Vano ingin putar balik lalu pulang ke negaranya dan menyelidiki keluarga Ferrero disana, dia yakin ini sudah penipuan besar.
"Masuklah, kita hanya membahas saham" bisik Ethan, dia melakukan itu agar nama tuan Christin tidak rusak.
Vano mengambil nafas pelan dan ia hembuskan secara tenang diiringi senyum tipis duduk ditempat yang sudah di sediakan.
"Baiklah karena semua sudah berkumpul mari kita bicarakan soal saham dan aset yang dimiliki Savero Group, kita mulai dari proyek yang kecil kecil terlebih dahulu agar kita bisa membuat totalnya secara berurutan" ucap Ethan dengan serius.
"Baik tuan karena saya pemegang proyek terkecil saya akan menuturkan jumlah saham dan aset yang dimiliki Ferrero Group"
Mereka mulai meeting dengan serius, pikiran Vano tidak konsen terhadap meeting tersebut karena apa yang ia harapkan tidak seperti realitinya.
Cukup lama keduanya melakukan meeting soal saham dan aset karena banyak proyek yang mereka bicarakan.
Hampir tiga jam meeting selesai, Ethan menggerakkan otot-otot nya sebelum mengakhiri meeting.
"Terimakasih atas kerja keras kalian saya berharap kerjasama dengan Savero Group tetap berjalan lancar" ujar Ethan.
Semuanya bubar setelah meeting selesai sedangkan Vano bergegas untuk pulang ke hotel.
"Maaf tuan bisa ikuti saya?"
"Kami tidak menginap di hotel ini maaf" jawab Ethan.
"Anda tuan Savero bukan?" Tanya pelayan itu ragu karena Ethan terlihat bingung.
"Ya" jawab Vano singkat.
"Apa anda lupa?" Tanya pelayan itu lagi.
Vano berpura pura mengingat sesuatu lagi karena ada sesuatu yang mengganjal dengan ekspresi pelayan tersebut.
"Ahh ya yang itu aku hampir melupakannya" ucap Vano dengan akting yang bagus.
"Astaga maafkan saya tuan Savero saya lupa dengan persoalan itu" saut Ethan mendukung akting Vano, untung keduanya bisa menggunakan bahasa isyarat jadi cukup dengan pergerakan tangan saja Ethan sudah mengerti.
"Syukurlah jika anda ingat, mari ikuti saya tuan" ucap pelayan lainnya.
Vano dan Ethan mengikuti para pelayan yang menuntun mereka ke sebuah tempat, berbeda dari ruangan VIP tadi ruangan ini cukup tertutup dan jauh dari jangkauan pendatang yang menginap di hotel tersebut.
Mereka sampai melewati dua lorong lorong sepi untuk sampai disatu ruangan, Ethan sudah menyiapkan diri untuk serangan mendadak nantinya.
__ADS_1
"Silahkan tuan"