
Ceklek
Dan detik ini Ethan sudah menyampaikan wasiat bosnya untuk membawa Vallen, kali ini Ethan meninggalkan Vallen sendiri karena jujur akhir akhir ini Ethan takut dengan tatapan Vano yang mengerikan ketika sedang marah.
Beberapa menit di dalam ruangan itu Vano tidak mengucapkan satu huruf pun, tatapan Vano seperti biasa terus mengarah tajam ke Vallen. Suasana ruangan bertambah semakin dingin ketika mendapat perlakuan seperti itu.
"A,,, apa?" Tanya Vallen memberanikan diri.
Vano langsung melempar foto foto saat dirinya berada di hutan tadi, Vallen meneguk saliva nya karena telah melanggar hukum peraturan dari sang pemilik kewenangan.
"Apa tujuan mu datang ke tempat itu!!" Ucap Vano sangat dingin bahkan seribu kali lipat lebih dingin dari biasanya.
"Hanya memetik buah itu saja" jawab Vallen.
Braakk!!!
__ADS_1
Vano menggebrak meja sembari melempar dua gerak gerik mencurigakan dari Vallen sebelum.
"Apa ini hah!! Kau tau jantung ku hampir berhenti berdetak melihat mu datang ke tempat terkutuk itu, langkah kaki mu saja tidak ku izinkan menginjak tempat itu Vallen apalagi raga mu!!" Tutur Vano agak menegakkan suara agar Vallen benar benar mendengar nya kali ini.
"Apa? Jawab sekarang kenapa diam?" Tantang Vano dengan ganasnya karena tidak mendapat jawaban.
Vallen tetap membisu dan hal itu semakin membuat Vano geram.
"Vallen!!"
"Apa salah jika aku datang untuk mencari kebenaran?" Tanya Vallen sembari memainkan jarinya.
"Aku ingin tau aku siapa dan aku darimana jika aku datang kesana setidaknya ada sedikit titik terang bukan" ucap Vallen melemah.
" Tidak perlu, kau adalah calon istriku cukup identitas mu hanya sebagai istri ku tidak perlu yang lain"
__ADS_1
"Aku hanya ingin tau apakah orang itu benar benar ayah ku atau bukan"
"Sudah berani menjawab perkataanku sekarang, pintar sekali kau Vallen!!"
"Maaf" jawab Vallen kembali menundukkan kepalanya.
"Berapa kali kau harus meminta maaf, sudah ku katakan tidak perlu meminta maaf tapi jangan lakukan sesuatu yang mengharuskan mu mengucapkan perkataan itu. Percuma terus meminta maaf jika kau melakukan kesalahan yang sama berkali kali" ujar Vano memarahi Vallen.
"Tolonglah jangan jadikan nyawa sebagai mainan, bagaimana jika tadi seseorang menyerang mu, bagaimana jika dia menangkap mu lalu membawa mu pergi, bagaimana jika,,,,, aarrgghh!!!!" Vano menggebrak meja diakhir kalimat karena kekhawatiran nya yang terlalu dalam.
Vallen semakin meremas kuat jari jarinya sambil memejamkan mata mendengar siraman rohani dari sang pujaan hati.
"Vallen apa kau pernah berpikir sedikit lebih jauh bagaimana diriku ketika kau tidak ada? Apa kau pernah berpikir apa yang akan terjadi dengan ku? Cih mungkin tidak pernah oleh sebab itu kau memilih untuk pergi ke tempat itu dengan gampangnya, apa cintamu padaku hanya sebuah jebakan?" Tanya Vano tersenyum sinis sembari memejamkan mata.
"Tidak!! Huaaaaa maafkan aku kenapa kau berbicara seperti itu, maaf Vano aku tidak akan mengulanginya lagi, aku akan menuruti keinginan mu seluruhnya" rengek Vallen langsung mendekati Vano dan memeluk lengannya.
__ADS_1
Vano refleks menjauh ketika merasakan tangannya disentuh. Bukan apa apa dirinya menjauh tapi Vino si Abi sialan itu sudah memasang kamera pengintai dimana dimana ketika ia mengetahui Vano menyukai seorang gadis.
"Tunggu aku disini, ingat jangan kemanapun tanpa seizin ku kecuali ada musuh yang datang mengganggu mu tapi kurasa itu mustahil jadi diam disini selangkah kau mendekati pintu kaki mu akan patah!!" Ancam Vano lalu keluar dari ruangan nya menghirup udara segar sebentar sekaligus mengurangi rasa kesalnya terhadap Vallen dan untuk menghukum Ethan atas keteledorannya menjaga sang kekasih tercinta.