
Farel memulai pekerjaannya untuk melacak nomor ponsel yang menghubungi keluarga Ferrero sewaktu Vallen menghilang.
"Nomor ini agak sulit untuk dilacak karena sudah belasan tahun" ucap Farel tanpa memperhatikan seisi ruang tamu.
"Jika diperhatikan lebih jauh ini bukan kode negara kita melainkan kode luar" kata Vano memperhatikan ponselnya.
"Memang" saut Farel.
"Itu artinya peculik Vallen berasal dari luar?" Tanya David.
"Tidak tuan Ferrero kita tidak bisa memastikan penculik itu berasal dari luar hanya karena dia menggunakan nomor luar" jawab Vino sembari melipat kedua tangannya.
"Liona!!" Ucap Farel memperhatikan data data nomor ponsel yang ia temukan.
Vano, Vino, dan David mengubah arah pandangan nya ke Farel, sepertinya pria itu telah menemukan sesuatu yang menarik perhatian ketiganya.
"Liona? Siapa dia? Apa dia dalang dibalik semua ini?" Tanya Vano bertubi-tubi.
"Bukan!" Jawab Farel menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"
"Sebentar beri aku waktu beberapa menit" jawab Farel lalu melanjutkan pekerjaannya untuk mencari data data Liona.
5 menit berlalu keempatnya masih saja diam menunggu informasi dari Farel sedangkan Vano sudah setengah mati penasaran ingin mengetahui kelanjutannya.
"Liona adalah seorang gadis eehh bukan bukan Liona adalah seorang perempuan yang tewas akibat hamil diluar nikah, isunya Liona ini bunuh diri karena frustasi" Tutur Farel.
"Lalu apa hubungannya dengan Vallen?" Tanya David.
Sebagai seorang yang tak berpengalaman wajar saja David tidak mengerti apa hubungan semua ini. Vino harus extra sabar menjelaskan segalanya dan apa hubungannya.
"Nomor ini milik Liona seorang perempuan namun yang menghubungi mu waktu itu adalah pria bukan? Otomatis pria itu ada hubungannya dengan Liona, entah dia pembunuh atau keluarga tidak ada yang tau" jawab Vino.
"Sudah cukup!! Aku tidak butuh informasi tentang penculik itu, aku hanya butuh informasi Vallen jika kalian tidak ingin mendampingi ku maka aku akan pergi sendiri menjelajahi hutan" saut Vano sudah tidak tahan berpisah terlalu lama dari Vallen.
__ADS_1
"Hey anak bodoh aku menyekolahkan mu bukan untuk ceroboh!!" Kata Vino kesal.
"Terserah Abi!!" Ucap Vano ketus.
"Vano dengarkan Abi mu!!" Titah David datar.
"Bahkan jika kau benar adalah ayah dari kekasih ku aku tidak akan mendengar mu!!" Kata Vano lalu meninggalkan ketiganya keluar rumah.
Vino menggaruk hidungnya yang tidak gatal melihat putra semata wayang itu tidak memiliki aturan hidup.
"Baiklah tuan David kami harus pergi, tenang saja Putri mu sudah pasti akan selamat" ucap Vino.
"Saya ikut tuan,,,,,"
"Tidak tidak istri mu lebih membutuhkan mu tuan saat ini, diamlah dan tenangkan istri mu disini" kata Vino memotong kalimat David.
David memikirkan sejenak tindakan nya, jika ia pergi mencari Vallen bagaimana keadaan Bela nantinya.
"Baiklah tuan tolong pastikan putri kami baik baik saja" ujar David.
Sampai di dalam mobil Vano langsung menancap gas, Vino harus mengelus dadanya karena terkejut Vano melaukan itu.
Aku menyesal pernah menjadi mafia, putra ku bukan mafia tapi galaknya astaghfirullah. Batin Vino
"Kita pulang sekarang" ucap Vino datar
"Tidak!!" Vano terus menjalankan mobil ke arah hutan.
"Pulang!!"
"Tidak!!"
"Pulang!!"
"Tidak!!"
__ADS_1
"Tangan ku kosong!! Tidak membawa senjata apapun!! Kau ingin aku mati!!" Teriak Vino emosi.
"Farel berikan senjata!!" Titah Vano.
"Mm senjata masih di ruang latihan" jawab Farel dengan wajah kucing lemas.
"Aku tidak peduli mati pun tidak masalah" kata Vano cuek bebek.
"Brengsek!!" Gerutu Vino.
Dia langsung membekap Vano dari samping lalu saling rebut stir mobil, Vano tidak ingin kalah begitu juga dengan Vino.
"Abii!!"
"Vanoo minggir!!" Teriak Vino.
"Tidak mau, Vallen harus ada disisi ku hari ini juga!!" Teriak Vano tanpa ingin melepas stir hingga mobil berjalan miring kesana kemari.
"Cih kau sudah gila karena cinta sampai sampai ingin masuk kedalam jurang buaya!" Kata Vino lalu memukul titik kelemahan Vano hingga ia kesakitan.
Vino langsung mengambil alih kursi pengemudi setelah berhasil mengangkat Vano ke belakang didekat Farel.
"Abi tolong kali ini saja" ucap Vano memohon.
"Bodoh!! Apa kau pikir bisa menemukan Vallen dengan gampang? Vano berpikir lebih jernih. Vallen tidak akan mudah ditemukan jika kondisinya sudah rumit seperti ini dan Vallen tidak akan mungkin muncul karena sejatinya Vallen hanya hidup dimalam hari bukan?" Tutur Vino memberikan pengertian agar putranya itu tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
Vano berhasil bungkam dengan penuturan abinya, jika di pikir pikir lebih dalam Vano memang butuh rencana diluar nalar untuk merebut kekasih nya lagi.
🌿🌿🌿
ada yang belum tau Fania? dia anaknya David dan Bela.
ada yang belum tau David dan Bela?. novelnya ada disebelah
MY CRUEL BOSS👌👌
__ADS_1