Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 196


__ADS_3

Haahh!!


Vano berdiri didekat jendela ruangannya, hari hari penuh penantian tidak pernah terlewatkan oleh nya, tiada hari tanpa memikirkan istrinya.


Kesabaran Vano menjalani setiap menit dihidup nya membuat banyak orang takjub terutama keluarga, dia tampak tegar dan baik baik saja namun siapa sangka Vano tiba tiba akan menangis di ujung kamarnya.


Sudahlah memikirkan itu tidak pernah ada habisnya, Vano kembali duduk di kursi lalu melihat lihat berkas dan berita di layar komputer.


Ceklek!


"Ada berita baru hari ini" ucap Ethan sembari memegang iPad nya.


"Katakan" Vano menghentikan siaran berita dan menutup dokumen agar fokus mendengarkan Ethan.


"Ferrero Group diam diam memperluas kerjasama dengan perusahaan lain di negara ini" ucap Ethan.


Sia sia Vano menghabiskan dua menit mendengar berita basi dari Ethan, soal itu sudah dari lama ia tau tapi Vano tidak mencari banyak informasi.


"Keluarlah informasi mu tidak berguna"


"Aiihh dengar dulu aku belum selesai, jadi begini Ferrero Group membangun kerjasama dengan perusahaan lain kecuali perusahaan mu, kau tau bahwa Ferrero Group mulai menjalar kerjasama dengan Savero dan Horowitz Group lagi?"


"Apa?" Vano melongo mendengar penjelasan Ethan, lagi lagi Ferrero membuat ulah setelah beberapa tahun hengkang dari dunia bisnis.


"Kenapa papa melakukan itu" gumam Vano masih tidak percaya.


"Salah, bukan tuan David yang melakukan ini melainkan orang lain. Apa kau belum mendengar informasi apapun? Kenapa ketinggalan berita" Ethan kesal harus menjelaskan lebih detail lagi karena Vano hanya bisa bekerja tidak pernah mencari informasi.


"Penerus Ferrero sudah ada? Siapa?" Tanya Vano heran.


"Ntahlah mungkin diturunkan pada Vallen lalu Vallen menyuruh orang untuk mengelolanya" jawab Ethan mengangkat bahu.


"Ajukan kerjasama dengan Ferrero Group secepat mungkin, aku ingin melihat pengganti tuan David"


"Sudah ditolak kau tidak perlu bertanya lagi" ujar Ethan.


Vano mengepalkan tangan di atas mejanya, hati jantung dan pikiran itu sudah mulai berpikir yang tidak tidak.

__ADS_1


"Mm apa mungkin Vallen menikah lagi lalu perusahaan itu diberikan pada menantunya" ucap Ethan tanpa memperhatikan ekspresi mengerikan Vano.


"Jangan asal bicara atau aku akan memotong lidah mu!" Ancam Vano padahal pikirannya dengan Ethan sama sama menuju kearah sana.


"Tadi kau bilang mereka mengajukan kerjasama dengan Savero Group?"


Ethan mengangguk pasti karena ia yakin dengan informasi nya. Vano langsung mengambil ponsel lalu menghubungi tuan Christin.


"Selamat pagi kakek"


"Selamat pagi tumben menghubungi kakek lagi ada apa?" Tanya tuan Christin.


"Kakek selama Vano melepas Savero Group apa ada perusahaan besar yang mengajak kalian bekerjasama?" Tanya Vano balik.


"Mm sebentar kakek lihat dulu"


Vano menunggu cukup lama untuk mendapat informasi dari kakeknya.


"Iya ada disini tertera 6 perusahaan besar yang mengajak kami bekerjasama dan salah satunya Ferrero Group"


"Kakek hanya tau perwakilan nya saja dan dia laki laki"


Vano termenung sebentar dengan jawaban kakeknya, tidak mungkin David Ferrero menyerahkan perusahaan begitu saja pada orang asing kecuali mereka ada hubungan tertentu.


"Kakek Vano akan mengambil alih Savero Group lagi, kakek, nenek beserta seluruh keluarga Salvatrucha pergilah, liburan kemanapun yang kalian inginkan" ucap Vano.


"Ada apa ini? Tadi malam mimpiku terlalu indah kah" kata tuan Christin heran.


"Mau ya kakek"


"Dengan senang hati, ambil saja asal jangan dibuat bangkrut"


"Aah tidak akan jika Ethan yang mengelola baru bangkrut"


Ethan langsung melemparkan kertas dokumen pada Vano, bisa bisanya Vano mengatakan itu padahal Ethan adalah tangan ketiganya mengurus perusahaan.


"Baiklah kapan kau akan mulai mengambil alih?"

__ADS_1


"Diam diam saja kakek, tidak perlu dipublish Vano hanya ingin memastikan sesuatu"


"Terserah kau saja"


"Baiklah kakek terima kasih bersenang-senanglah bawa anak anak panti liburan juga"


Vano memutuskan sambungan lalu menatap Ethan, dia ingin menanyakan soal kertas yang dilempar pria itu tadi.


"Berani kau sekarang ya!"


"Apa? Tanpa aku perusahaan mu ini tidak akan berjalan dengan baik" jawab Ethan lantang.


"Hey tanpa mu perusahaan ku juga bisa berdiri sendiri, pekerjaan mu selama ini hanya mengatur jadwal ku"


"Hey hey mengatur jadwal katamu? Aku yang memesan hotel diluar negeri, aku menyiapkan mobil, aku mewakili mu meeting, aku yang mengambil alih proyek yang ditinggalkan tuan Ferrero, aku,,,,,"


"Ya ya sebut saja semua jasa mu"


"Astaghfirullah jadi di ungkit ungkit kan" kata Ethan langsung menutup mulutnya.


"Keluar sana urus pekerjaan mu!" Usir Vano.


Ethan mengambil peci yang diletakkan Vano diruangannya.


"Kau bawa kemana, letakkan kembali!" Ucap Vano.


"Shalat Dhuha!! Otak ku panas pagi pagi!" Kata Ethan ketus lalu keluar.


"Cihh!!"


Satu bulan ini Ethan memang sudah memiliki status agama, tentu saja ia mengikuti agama mayoritas keluarganya.


Ethan dan Sarah memutuskan menjadi seorang muslim baru satu bulan karena mereka tidak ingin terburu-buru, mereka belajar cukup lama dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti keluarga mereka.


Faktor utama Ethan mengambil keputusan itu adalah Vano, ucapan terakhir Vano saat jatuh dijurang waktu itu membuatnya berpikir bahwa hidup ini hanya sementara jika ia tidak mengikuti langkah orang di depannya maka perpisahan abadi akan rasakan dan Ethan tidak ingin itu terjadi.


Tentu itu hadiah terbesar bagi keluarga mereka karena anggotanya lengkap, kasih sayang mereka semakin tak terhitung untuk Ethan dan dia merasakan itu.

__ADS_1


__ADS_2