Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 27


__ADS_3

Hanya dengan mengubah langit langit rumah menjadi biru terang Vallen selalu duduk dibawahnya sembari menatap keatas hingga lehernya sakit.


"Farel!" Panggil Vallen saat melihat bayangan Farel sedang mengendap-endap keluar kamar.


Farel menepuk keningnya lalu berputar menghadap Vallen, tadinya Farel ingin pergi tanpa disapa karena gadis itu pasti akan bertanya sesuatu diluar nalar manusia.


"Mm??" Jawab Farel sekedarnya.


"Kemari!!" Titah Vallen mengajak Farel untuk duduk bersamanya.


Dengan berat hati Farel mendekat lalu duduk disamping Vallen mengikuti seluruh gerakan duduknya.


"Kenapa rumah sepi? Zea dimana? Bukankah dia tinggal disini?" Tanya Vallen.


"Zea? Mm tadi malam dia menginap dirumah utama selesai kuliah dia akan kembali, kenapa?" Tanya Farel balik.


"Tidak, hanya bertanya saja" jawab Vallen cengengesan.


"Baiklah jika tidak ada keperluan aku harus pergi" Farel berdiri lalu berjalan keluar rumah.


"Farel mau kemana?" Tanya Vallen mengikuti Farel.


"Aduuhh kenapa harus ikut, dia akan tau matahari tidak ada di luar" gumam Farel mencari seribu akal untuk mencegah Vallen keluar dari pintu.


Sebelum Farel keluar Vano telah menginformasikan padanya untuk tidak membiarkan Vallen keluar melihat langit berkabut jadi ini bisa dikatakan tugas negara karena jika Farel gagal maka saham taruhannya.


"Vallen anak pintar aku pergi bekerja ya, jangan ikut keluar nanti kau lelah" ucap Farel berusaha selembut mungkin.


"Kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Vallen menatap tajam manik hitam Farel hingga pria itu tak sanggup melihat tatapan Vallen.


"Ti,,, tidak" kali ini Farel tidak tau bagaimana cara menghadapi Vallen jika sudah seperti ini.


"Kalian ingin kemana?" Tanya Vallen tetap menatap Farel.


"Kalian? Memang siapa?" Tanya Farel balik.

__ADS_1


"Vano dan Ethan sudah menunggu diluar, kalian ingin kemana? Jangan bohongi aku atau aku tidak akan percaya padamu lagi" ancam Vallen, gadis ini benar-benar bisa berubah sikap kapanpun.


"Iiissshh kami ingin membantai pengacau memang nya kenapa!!" Ucap Farel kesal dengan tatapan membunuh Vallen.


"Aku ikut!"


"Cih!!" Farel menatap sinis gadis kecil didepannya ini, kadang Farel bingung sendiri kenapa otak dari pemerintah Vallen ingin menggunakan seorang gadis untuk membunuh.


"Kau yakin?"


"Iya"


"Baiklah ambil ini" Farel melemparkan senapan untuk Vallen.


"Dan satu lagi, diam jika aku mendekat jangan melawan apapun yang aku lakukan" imbuh Farel mendekati Vallen lalu menutup matanya dengan kain agar bisa keluar rumah tanpa melihat matahari.


Didalam mobil Vano heran kenapa Farel menutup Vallen dengan kain tapi perasaannya mulai tidak enak ketika Vallen dimasukkan kedalam mobil bersamanya dikursi pengemudi.


"Hey jangan bilang dia,,,"


"Setan!! Bagaimana jika bosnya ada disana!" Teriak Vano emosi.


Vallen langsung membuka kain penutup matanya dan menatap Vano, pria itu langsung membawa kepala Vallen bersandar di dadanya agar tidak sadar dengan sinar.


"Aku didalam mobil tidak akan keluar, janji" ucap Vallen berusaha tenang walaupun ia sebenarnya takut ketika mata Vano sudah membara.


"Pejamkan matamu! Lancang sekali kau keluar tanpa seizin ku!" Ujar Vano dingin tetap tidak melepas Vallen.


Vallen mengangguk lalu menutup matanya seperti perintah dari Vano.


"Ini salahmu mencari masalah dengan orang yang bersalah" bisik Ethan.


Farel menendang betis Ethan agar ia diam dan langsung menjalankan mobil ke tempat penyelundupan barang akan dikirim dan diterima.


Diperjalanan Vano melepaskan Vallen agar bisa duduk tegak karena cuaca terlihat mulai stabil, Vallen menatap jalanan sepi yang mereka lalui dengan teliti.

__ADS_1


"Ini jalan,,,," Vallen mengentikan kalimatnya karena belum yakin kemana tujuan mereka.


"Kau tau jalan ini?" Saut Ethan melihat ekspresi Vallen dari kaca.


"Sebenarnya kalian ingin menangkap siapa" suara dingin Vallen terdengar ditelinga ketiganya.


"Jangan keluarkan ekspresi wajah seperti itu atau aku akan curiga kau ikut andil dalam aksi ini" ucap Vano datar tanpa menatap Vallen.


"Jika kau menangkap ku tidak masalah karena kelompok masih bisa terbang dengan satu sayap tapi jika kau menangkap yang lainnya aku tidak yakin hidup mu akan tenang!" Ujar Vallen, dia tidak bercanda karena ketuanya pasti akan murka dan turun tangan untuk menghabisi Vano.


"Cih jadi kau menantang ku?" Vano tersenyum sinis.


"Bukan tapi kau yang menantang maut" jawab Vallen.


Farel dan Ethan saling menatap sekilas ketika mendengar dua insan itu berbicara serius, Vallen yang menghilangkan wajah polosnya ketika berurusan dengan masalah seperti ini terlihat lebih mematikan walaupun ditangannya tidak terdapat senjata yang mengancam mereka.


Perjalanan menuju lokasi penyelundupan sedikit jauh dari kota, hanya ada jalan kecil tanpa aspal yang mereka lalu untuk menempuh tujuan.


Sesampainya di lokasi, rencana berubah karena Vano tidak bisa meninggalkan Vallen sendiri di dalam mobil, terpaksa Vano mengajak Vallen keluar dengan syarat gadis itu tetap dibawah pengawasan Vano.


"Ambil ini" ucap Vano memberikan senapannya untuk Vallen.


"Hey kau gila! Senapan hanya ada tiga lalu kau menggunakan apa?" Tanya Farel ketus.


"Akan ku pastikan senjata apapun tidak akan menyentuh kulit mu" saut Vallen menatap Vano.


"Tidak, pastikan dirimu baik-baik saja, aku tau kau menyembunyikan pistol. Berikan padaku" Vano mengulurkan tangannya agar Vallen memberikan pistol yang dimaksud tadi.


"Ka,,,kau tau darimana" Vallen langsung mengalihkan pandangannya.


"Kau mencuri diruang latihan sebelum pergi dari rumah ku" ucap Vano datar.


Vallen tercengir kuda lalu mengeluarkan senjata api yang ia curi dari Vano beberapa waktu yang lalu.


"Pelurunya tinggal dua" ujar Vallen cengengesan.

__ADS_1


Vano mengambil pistol itu lalu keluar dengan elegannya, ke-tiga pria yang biasa menggunakan ekspresi manis didepan orang tua masing-masing kini berubah menjadi tatapan membunuh tanpa senyum sedikitpun hingga Vallen sendiri bingung kenapa tercipta laki laki tampan namun senyumnya diciptakan hanya secuil dan itupun hambar.


__ADS_2