
Beberapa hari kemudian tidak nampak sama sekali ancaman atau serangan dari lawan padahal Vano sudah mempersiapkan tameng terkuat untuk menjaga rumah nya.
Vano, Farel, dan Ethan juga sudah membicarakan masalah ini dengan serius namun mereka tidak bisa menyimpulkan sebelum mendapat bukti dari dugaan yang ada dipikiran masing-masing.
Dan pagi ini seperti biasa Vallen harus ikut dengan Vano ke kantor, dua puluh empat jam nonstop gadis itu harus disamping Vano.
"Vano hari ini aku tidak ikut ke kantor ya" ucap Vallen lesu dimeja makan.
"Kau sakit?" Tanya Vano langsung memegang kening istrinya.
Beberapa hari ini memang Vallen sedikit lemah, ia merasa agak berbeda dari sebelumnya tapi Vallen sendiri tidak tau apa itu.
"Sedikit" jawab Vallen lemah.
"Hey wajah mu pucat, aku akan memanggil dokter" ujar Vano.
"Aku baik baik saja"
"Vallen turuti saja keinginan kak Vano, hanya memeriksa keadaan mu sebentar karena aku juga melihat mu sangat pucat" saut Zea yang di angguki oleh Sarah.
"Aku hanya perlu istirahat sedikit dirumah" kata Vallen.
"Sayang jangan seperti ini aku tetap akan menghubungi dokter" ucap Vano tegas.
"Tidur diluar, aku tidak ingin melihat wajah mu!" Kata Vallen kesal lalu kembali ke kamarnya.
Vano bengong dengan ucapan Vallen yang tidak pernah ia dengarkan sebelumnya.
"Va,,, Vallen sayang bukan begitu maksud ku hey!!" Vano menyusul istrinya kedalam kamar dan melihat Vallen sedang berbaring disofa.
"Vallen" panggil Vano hati hati.
Vallen langsung menutup tubuhnya dengan selimut tipis, rasanya hari ini malas sekali melihat wajah Vano.
"Sayang,,,,"
"Kau sangat menyebalkaan!! Keluar sana" usir Vallen.
__ADS_1
"Vallen ada apa dengan mu? Salahku apa jika kau tidak ingin didatangkan dokter maka tidak masalah" ucap Vano mendekati Vallen.
"Parfum mu sangat menyengat aku ingin muntah menciumnya aromanya" kata Vallen.
"Tidak biasanya seperti itu malah kau sendiri yang memilih parfum ini untuk digunakan" ujar Vano mengendus kemejanya.
"Menjauh dari ku Vano kau sangat bau"
Haahh!!
Vano menjauh dari Vallen sembari membuka jasnya lalu mengambil parfum yang biasa digunakan oleh Vallen, dia tidak ingin ribut hanya karena persoalan parfum.
"Sudah, kemari peluk aku" ucap Vano merentangkan kedua tangannya.
"Vallen peluk aku, kenapa diam saja?" Tanya Vano heran.
Vallen membuka selimutnya perlahan lalu menutup hidung dan mata memeluk Vano.
"Vallen aku sudah mandi dan sudah mengganti parfum kenapa kau menutup hidung" ucap Vano frustasi.
Vallen berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan seluruh sarapan yang ia makan tadi, perutnya tidak ingin diajak kompromi ketika melihat Vano beserta wangi wangian yang ia gunakan.
"Vallen kau baik-baik saja, ada apa dengan mu kau,,,"
"Berhenti!! Keluarlah pergi bekerja nanti kau terlambat" ucap Vallen menghalangi Vano masuk kedalam.
"Aku tidak peduli, aku hanya peduli tentang mu"
"Ayolah Vano aku tidak ingin berdebat jika kau keluar itu adalah obatnya" ujar Vallen.
"Kau yakin?" Tanya Vano dengan sisa sisa kebingungan nya.
Vallen mengangguk cepat agar Vano segera keluar dari kamar itu, setelah Vano keluar Vallen langsung mengobrak abrik kamarnya.
Seprei dibuka, parfum Vano di meja rias Vallen dibuang kedalam bak sampah, kemeja yang ada di gantungan pun dibuang oleh Vallen. Intinya seluruh alat yang berkaitan dengan Vano dijauhkan dari pandangan matanya.
Diluar Vano terlihat frustasi di pagi hari karena tingkah aneh Vallen, ingin menghubungi dokter juga pasti akan mengundang murka dari istrinya, terpaksa Vano hanya meminta tolong pada uminya untuk datang menjaga Vallen.
__ADS_1
"Bagaimana?" Tanya Farel datar.
"Dia sangat aneh hari ini, pertama dia tidak ingin melihat wajah ku kedua dia mengatakan membenci aroma parfum ku, ketiga dia mengusir ku" jawab Vano bingung sendiri menjelaskan nya pada Farel.
"Kau yakin Vallen meminum obat penunda kehamilan?" Tanya Farel.
Vano diam, seingatnya pill itu tidak pernah dikonsumsi oleh Vallen walaupun sudah tersedia di atas nakas kamar mereka.
"Seharusnya kau tegas dalam masalah ini, perang belum selesai dan kau membuat masalah baru" ucap Farel datar sekaligus khawatir.
"Maksud kakak Vallen hamil?" Tanya Zea antusias.
Farel, Ethan dan Sarah tidak bisa menjawab karena mereka tidak tau harus mengatakan apa.
"Mahasiswa yang sedang praktek seharusnya tidak berada disini sekarang, jam berapa ini" ujar Farel menatap Zea.
Zea melihat jam tangan dan langsung menepuk keningnya ketika jam sudah menunjukkan jam 08.00
"Ma,,, maaf tuan Alexander saya lalai permisi!!" Ucap Zea panik setengah mati.
"Hari ini meeting dengan klien jadi satu persatu diantara kalian harus mengikuti meeting untuk melihat secara langsung bagaimana pembahasan bisnis yang sebenarnya" tutur Farel.
"Lalu?"
"Kau mahasiswi pertama yang akan mendapat pelatihan jadi siapkan peralatan meeting beserta materinya waktu mu 7 menit dari sekarang, terlambat satu detik saja jangan harap nilai mu bagus" jawab Farel langsung keluar membawa kunci mobil.
"Ta,,,tapi aahhh baiklah!!" Teriak Zea kesal dan berlari keruang kerja mengambil materi meeting.
"Zea mendapat praktek kerja diperusahaan Golden Picture?" Tanya Ethan heran.
"Sekali kau bertanya padaku seluruh harta mu habis!!" Ancam Vano kesal karena hatinya sedang berperang memikirkan Vallen.
"Aku diam anggap aku tidak pernah bicara, Sarah ayo pergi" ucap Ethan dengan cepat menarik istrinya menjauhi Vano
***
sabar dikiit lagi😎
__ADS_1