Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 169


__ADS_3

Setelah ketiganya selesai dengan urusan masing-masing mereka kembali bertemu diruang kerja milik Vano untuk membicarakan apa yang mereka temukan tadi.


"Ada yang ingin kalian sampaikan?" Tanya Vano pada dua orang yang sedang duduk didepannya.


Farel dan Ethan menggelengkan kepala karena menurut mereka tidak ada yang berbahaya digedung tadi.


"Bagaimana dengan mu?" Tanya Farel balik.


"Sangat banyak"


Vano mengeluarkan foto dari laci meja kerjanya, foto milik Rafi yang sudah sobek waktu.


"Lihat ini, aku mengambilnya dari kamar Rafi waktu itu. Ini foto dirinya dengan Rifka namun sudah sobek" ucap Vano menunjukkan foto tersebut pada Farel dan Ethan.


"Jika Rafi tidak mencintainya tidak mungkin foto ini akan tersambung begitu tertata, artinya apa? Ada yang memisahkan mereka"


"Lalu,,,,"


"Sssttt aku belum selesai bicara, Ethan kau mengenal tuan Richard?" Tanya Vano menatap Ethan.


"Tidak" jawab Ethan cepat.


Vano mengeluarkan satu foto lagi didalam lacinya, iya foto yang ia temukan tadi diruang rahasia gedung tua.


"Ini aku?" Tanya Ethan menatap foto tersebut.


"Benar ini adalah kau sendiri"


"Tapi aku tidak pernah berfoto dan menggunakan pakaian seperti ini" ucap Ethan heran.


"Sebentar aku masih bingung, maksudnya apa ini" saut Farel ikut bingung dengan masalah nya.


Ketiganya saling menatap tanpa sepatah kata, Ethan mulai merasa ada yang salah dengan dirinya.


"Ethan foto itu diambil disaat usia mu sekitar 6 tahun, sebelum bertemu dengan ku waktu itu kau masih ingat nama mu siapa?" Tanya Vano dengan serius.


Ethan pasrah sudah ketika mengetahui arah pembicaraan Vano kemana, dia menggelengkan kepala lemah.


"Kau yakin?"


"Apa perlu aku membakar beberapa mobil didalam kegelapan agar aku mengingat nya" jawab Ethan meremas foto ditangannya.


Vano terdiam, dia tidak sadar telah bertanya terlalu jauh soal masalalu pria itu, tubuh Ethan sedikit gemetar jika sewaktu-waktu kenyataan harus menyakiti nya.


"Akan kulakukan jika itu bisa membantu" imbuh Ethan langsung berjalan menuju pintu keluar.


"Ethan duduk!!" Titah Vano.


Pria itu tetap berjalan tanpa mendengar perintah Vano kali ini.

__ADS_1


Braakk!!!


"Duduk!!!" Bentak Vano menggebrak meja kerjanya.


Ethan memutar tubuhnya dan melihat tatapan membunuh dari Vano, dia tidak berani melanjutkan langkahnya untuk menuju pintu keluar.


"Duduk" titah Vano sekali lagi dengan nada bersahabat.


Ethan kembali duduk ditempatnya tadi, dia ingin marah tapi dia juga ingin menangis kali ini.


"Apa aku boleh mengatakan sesuatu" ucap Ethan berkaca kaca.


"Katakan!"


"Aku takut"


Vano dan Farel saling menatap bersamaan.


"Aku takut jika suatu saat semua ini berhubungan dengan ku" imbuh Ethan.


"Hey sejak kapan seorang Ethan lemah seperti ini, ayolah ini hanya tebakan bukan kebenaran" bujuk Farel sembari menepuk pundak nya agar tidak terlihat menyedihkan.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu" saut Vano menyesali perkataannya.


Ceklek!!


Tanpa banyak bicara ketiganya berlari menuju kamar Rifka dan benar bahwa gadis itu sedang menangis, entah karena lukanya atau yang lain.


"Hey ada apa?" Tanya Ethan lembut.


Rifka menatap Ethan sejenak sembari menyeka air matanya turun.


"I,,,ini dimana?" Tanya Rifka balik.


"Tidak penting ini dimana tapi kenapa kau menangis ada apa Rifka? Kau mengatakan pindah keluar negeri tapi kenyataannya terkurung di gedung tua" ujar Ethan.


"Apa ini ulah ayah mu?" Tanya Vano tanpa basa-basi.


"Rifka tidak pernah makan dua hari kak, Rifka lapar" jawab Rifka sembari memegang perutnya.


Ethan langsung mengambilkan makanan yang sudah tersedia di atas nakas lalu menyuapi gadis itu.


Pelan pelan seluruh makanan yang ada di piring habis, tenaga Rifka sedikit terisi karena makanan tadi. Kata dokter gadis ini menerima banyak tekanan batin sekaligus kekerasan fisik.


"Sudah baikan?" Tanya Ethan.


Rifka mengangguk dengan senyum manis ciri khasnya.


"Rifka bisa kakak tanya sesuatu? Jawaban mu sangat penting untuk kami" ucap Ethan setulus hati.

__ADS_1


"Apa kak?"


"Siapa yang mengurung mu digedung itu dan dimana ayah mu, apa dia tau kau dikurung disana"


Rifka tersenyum sinis mendengar pertanyaan Ethan, sudah bosan rasanya menyembunyikan fakta fakta itu.


"Papa (tersenyum tipis) apa pantas dia disebut papa? Orang jahat!!" Ucap Rifka.


Ketiganya kembali saling menatap, entah itu sudah mereka lakukan berapa kali.


"Kenapa kau mengatakan itu?"


"Papa bukan orang baik, dia menyiksa semua orang tanpa pandang bulu. Dimatanya hanya ada kekuasaan dan tanpa disadari dia sudah buta akan itu" jawab Rifka akhirnya membongkar kelakuan ayahnya.


"Lalu apa hubungannya dengan mu, kenapa dia juga menyiksa mu"


"Rafi pernah datang kerumah tanpa izin dan dia melihat seseorang sedang dibunuh"


Ketiganya tidak menyangka bahwa tuan Richard sekejam itu pada orang lain.


"Rifka menyuruh Rafi berlari sejauh mungkin dan tidak kembali lagi tapi pada saat pernikahan kak Vano mereka bertemu diluar. Papa mengancam akan terus menyiksa ku jika dia tidak tutup mulut bahkan papa mengatakan akan membunuh Rafi kapanpun ia mau" Tutur Rifka berkaca kaca.


"Dan kemarin sepertinya ada yang memaksa Rafi berbicara sehingga Rifka disiksa tanpa ampun diruang bawah tanah, Rifka sudah biasa dengan penyiksaan ini sejak kecil kak oleh karena itu Rifka memutuskan pindah ke negara ini sekaligus belajar sebagai alasan agar jauh dari papa"


Ketiganya hening menyimak cerita Rifka, Tuan Richard yang terlihat lembut dan penyayang ternyata hanya topeng, memperlakukan putrinya saja seperti itu apalagi orang lain


Saat melihat sekeliling nya manik hitam Rifka tertarik pada gambar yang masih dipegang oleh Ethan ditangannya.


"Ini,,,,"


Ethan ikut melihat tangannya ketika pandangan Rifka terus mengarah kesana.


"Kau mengenal nya?" Tanya Vano datar.


"Tidak, tapi orang yang ada didalam foto itu adalah kunci dari rahasia papa Rifka juga sedang mencarinya tapi tidak ada informasi sama sekali tentang pria ini" jawab Rifka sendu.


Jantung Ethan langsung berhenti sejenak mendengar jawaban Rifka, dia menatap Vano dan Farel lalu kembali menatap foto ditangannya.


"Bagaimana kau tau orang yang ada didalam foto ini kunci segalanya tentang ayah mu?" Tanya Vano lagi.


"Rifka sering mendengar nya secara diam diam diruang kerja papa dan,,,,,"


"Istirahatlah ini sudah larut" potong Ethan sudah tidak ingin mendengar kebenaran dari Rifka.


Ethan membantu Rifka berbaring dengan lembut, dia berusaha semaksimal mungkin agar gadis itu tidak ketakutan lagi.


Selesai itu ketiganya keluar dari kamar Rifka, Ethan masih mengepalkan tangan dengan tatapan membunuh.


"Kita harus bicara"

__ADS_1


__ADS_2