
"Vano cepat cari Vallen dia hanya mengalihkan perhatian kita, biar aku dan Sarah yang menangi orang ini!!" Ucap Ethan dari belakang.
Vano mengangguk lalu menjauh dari tempat itu, sedangkan Ethan dan Sarah mulai menyerang Pian.
"Hey bagaimana kabarmu? Sudah lama tidak melayani ku!" Sapa Pian memegang dagu dan pinggang Sarah.
Ethan langsung menarik Sarah kebelakang karena gadis itu tidak membuat perlawanan.
"Kenapa? Kau takut dengannya?" Tanya Ethan memegang pundak Sarah.
Sarah mengangguk pelan tanpa menatap Pian ataupun Ethan.
"Baiklah biar aku yang melawannya kau bantu Farel dibawah atau bantu Vano mencari Vallen" ucap Ethan mengelus punggung Sarah agar gadis itu tidak pucat.
Sarah langsung mengikuti Vano dari belakang dan mencari Sarah.
"Tuan dimana kamar utama rumah ini?" Tanya Sarah.
"Disana!" Tunjuk Vano sembari mendobrak pintu lainnya.
"Tuan nona ada disana!!" Tunjuk Sarah pada kamar utama.
__ADS_1
Tanpa aba aba Vano langsung berlari masuk kedalam kamar utama dan,,,
Braakk!!!
Benar apa yang dikatakan Sarah, saat ini Vallen sedang bersiap untuk menancapkan pedang ditubuh Bela sedangkan David sudah terkapar dengan banyak luka dikamar nya.
"Vallen!!" Teriak Vano lalu berlari mengambil paksa pedang ditangan gadis itu.
Merasa dirinya terusik Vallen langsung mengeluarkan pistol dari belakangnya.
Dor,,,dor,,,dor
Vallen tak segan segan melepaskan peluru kearah Vano, Vano langsung keluar agar ia bisa sedikit bebas dan tidak mengenai David serta Bela.
Dorr!!
"Sssttt" Vano memegang lengannya yang tergores peluru, bukannya kasihan Vallen malah tersenyum sinis dan kembali menyerang Vano.
Hingga tiba saatnya Vano menemukan jalan sial yaitu jalan buntu, wajahnya berkeringat melihat Vallen semakin dekat dengan todongan senjata yang terus mengarah dikepalanya.
Vano mengambil nafas dalam lalu memejamkan mata sejenak hingga saat ia membuka mata Vallen sudah ada didepan manik hitamnya dengan meletakkan senjata dikening Vano.
__ADS_1
"Jangan disana itu tidak terlalu sakit" ucap Vano menatap dalam mata Vallen.
Vano mengambil satu pisau lagi di sakunya lalu mengambil tangan Vallen dan memberikannya pisau tersebut.
"Gunakan ini dan tancap disini setelah itu kita impas lalu pulang ke rumah, aku sangat merindukanmu!" Tutur Vano berkaca kaca meletakkan tangan Vallen didadanya.
Vano menatap Vallen sangat dalam walau matanya telah perih menahan sakit di dada bukan karena pisau yang menempel namun karena menyesal telah memberikan bekas di dada kekasihnya.
Vano memegang lengan Vallen dan mengarahkan nya untuk menusukkan pisau itu kedalam namun tangan Vallen seakan memberontak.
"Jangan!!" Ucap Vallen langsung melepas tangannya, hati dan panca Indra Vallen memberontak satu sama lain, mata nya mengatakan orang didepannya ini adalah target namun hatinya sakit harus melukai Vano.
"Agar kita impas!!" Kata Vano kembali mengarahkan Vallen untuk menusuknya seperti Vallen mengarahkan nya untuk penusukan kala itu.
"Kau siapa?" Tanya Vallen sembari merasakan panasnya darah yang keluar dari tubuh Vano.
"Suamimu, maaf tidak bisa menyelamatkan mu tepat waktu!" Jawab Vano menahan nafas untuk menjawab pertanyaan Vallen.
"Vallena!!! Bunuh dia kenapa kau diam saja!!!" Teriak Pian.
Vallen terus saja menatap Vano, jiwa dan raganya seperti Hangover. Seluruh alat ditubuhnya tidak sinkron hingga pengendali pengendali ditubuhnya tidak berfungsi sama sekali.
__ADS_1
🌱🌱
selamat menunggu guys