Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 6


__ADS_3

Braaakkkk!!


Vano menggebrak meja lalu menaikkan salah satu kakinya diatas kursi untuk menarik perhatian, dengan wajah dinginnya Vano mengeluarkan seringai licik lalu.


Dor!!!!!


Vano membuat kegaduhan didalam gudang tua itu, sebagian orang yang sedang melakukan transaksi terkena peluru.


"Hey siapa kau!!" Teriak penjaga yang mengendalikan keamanan disana.


"Panggilkan ketua mu kemari!!" Ucap Ethan.


"Cih memangnya kau siapa berani menyuruh ketua kami untuk bertindak!" Beberapa penjaga menyerbu Vano dan Ethan.


Dor,,,,dorr,,,dor


Vano melompat naik keatas meja lalu menancapkan beberapa peluru kearah musuh, seringainya muncul ketika para penjaga keluar dari segala arah untuk menyerang, hal ini tidak disangka sangka oleh Vano karena gudang itu tidak terlalu besar namun penjaga nya mencapai ratusan.


"Arahkan pengawal untuk menyerang!!" Titah Vano pada Ethan.


Ethan mengangguk lalu membunyikan suara agar para pengawal mendekat untuk menyerang. Keadaan semakin keruh ketika peperangan antara kubu Vano dan kubu misteri itu mulai bertumpahan darah.


Mendengar suara keributan, seseorang bermata dingin dan tajam yang ada didalam salah satu ruangan itu mulai bergerak mengambil seluruh peralatan membunuhnya.


Gadis bermata cokelat itu mulai berjalan dengan dua pisau ditangannya, tidak ada senyuman sama sekali diwajah gadis itu. Mata tajamnya menelusuri setiap jengkal sisi sisi ruangan yang telah penuh dengan darah.


Dalam tatapan tajam dan membunuh itu terlihatlah sosok pria bertubuh tinggi dengan balutan jaket kulit berwarna hitam sedang mengarahkan senapan tepat dibagian dada gadis itu.


"Menyerahlah para pengawal mu sudah kalah" ujar Vano sangat dingin pada lawannya.


Gadis itu mengeluarkan seringainya tidak peduli takut dengan tatapan tajam dari Vano.


Ssrrtt

__ADS_1


Gadis itu melempar pisau tepat ditengah tengah senapan yang sedang dipegang oleh Vano hingga terjatuh dari pegangannya.


Tak mau kalah Vano mengeluarkan pisaunya dari dalam saku namun belum sempat menggunakan pisau tersebut gadis itu kembali menyerang namun kali ini dia mendekat dan ingin menancapkan pisau ditengah tengah dada Vano.


"Gila!!" Vano terkejut bukan main mendapat serangan seganas itu dari seorang gadis.


"Ya Allah maafkan hamba" gumam Vano lalu menarik lengan gadis didepannya dan memotong beberapa pengait senjata tajam agar gadis itu tidak bisa menyerang dengan senjata.


Kesal dengan rencana Vano yang berhasil gadis itu menggunakan kekuatan fisik untuk menyerang, dia tidak peduli apakah harus mati atau tidak. Pekerjaan nya hanya menyerang dan membunuh.


"Bos butuh bantuan?" Tanya Ethan yang sedari tadi duduk santai memperhatikan pergulatan.


"Tidak,,,,aww!!!" Gadis itu menyerang tulang kering Vano hingga ia meringis kesakitan saat lengah.


Vano tidak akan terima dirinya dikalahkan oleh seorang gadis kecil seperti ini.


"Ya Allah lagi lagi maafkan hamba ini urgent" ucap Vano lalu kembali menarik lengan gadis itu dan melempar tubuhnya kearah Ethan.


"Keluarkan senjata darurat!!" Titah Vano.


"Bawa dia!!" Titah Vano pada Ethan.


"Tunggu!" Ethan memperhatikan lengan gadis itu.


"Valen!" Ethan membaca tulisan yang ada di lengan itu.


"Aku tidak yakin dia adalah otak dari semua ini" gumam Vano.


Disela-sela kesadarannya Valen yang diduga adalah nama gadis itu bergerak mematikan alat yang ada dilehernya.


Tit,,, tit,,, tit


Valen tersenyum sinis menatap Vano lalu tertidur akibat obat bius yang disuntikkan oleh Ethan.

__ADS_1


"Apa yang dia tekan!" Vano mendekati Valen lalu merenggut kalung dileher gadis itu.


"Kita bicarakan nanti sepertinya berada ditempat ini tidak cukup aman jika terlalu lama" ujar Ethan.


"Hubungi Farel untuk datang kemari dan kau angkat dia kedalam mobil setelah itu beritahu pian untuk membawa ambulance ke tempat ini" titah Vano


Ethan mengangguk lalu melaksanakan semua perintah bosnya, beberapa saat kemudian Farel datang membawa mobil.


"Siapa yang akan membawa gadis ini" ujar Vano menatap Farel dan Ethan.


"Kau" jawab Ethan dan Farel serempak.


"Hiiss umi memarahi ku bersentuhan dengan wanita" ucap Vano ketus.


"Papa juga melarang ku" saut Farel.


Vano dan Farel menatap Ethan bersamaan


"Aku? Walaupun aku tidak punya Tuhan aku tetap diharamkan oleh ibu Zoya, bapak Andre, bunda Vira, ayah Vino, mama lina dan papa Faris" kata Ethan menyebut seluruh orang tua angkatnya.


"Ck harus kau menyebut nama umi dan abi ku?" Tanya Vano ketus.


"Sudahlah jangan bertengkar sekarang pikirkan bagaimana cara membawa gadis ini" saut Farel frustasi melihat bos dan bawahan didepannya tidak pernah akur.


Vano berjalan mendekati salah satu anak buah nya yang sudah tepar di atas lantai.


"Hey bangunlah!!" Titah Vano menendang pria itu dengan kakinya.


"Kau bodoh atau bagaimana? Orang sudah sekarat kau perintahkan untuk bangun!" Ujar Farel semakin kesal melihat tingkah Vano.


"Bangun!! Angkat perempuan itu kedalam mobil, gaji mu naik bulan ini" ucap Vano mengabaikan suara Farel.


Pengawal yang berpura pura pingsan itu langsung berdiri dan mengangkat tubuh Valen kedalam mobil, Ethan dan Farel membulatkan mata melihat pengawal itu sehat jasmani dan rohani setelah bernegosiasi dengan uang.

__ADS_1


"Pengawal sekarang mata uang semua" gumam Farel melirik Ethan.


"Oo jelas" jawab Ethan merasa dirinya sedang disindir.


__ADS_2