
"kakak ini kemejanya" kata Zea sembari memegang ponsel di satu tangannya lagi.
"Mengirim pesan pada siapa?" Tanya Farel sembari mengganti pakaian shalat nya dengan kemeja.
"Teman satu kelompok kak, hari ini Zea ingin mengerjakan tugas bersama" jawab Zea.
"Dimana?"
"Mm mungkin di cafe cafe sekitar kampus"
"Tidak usah!!"
"Jangan bercanda ini tugas kelompok" ucap Zea tersenyum sinis memperhatikan ponselnya.
"Siapa dosen mu berani sekali dia memberikan tugas kelompok pada mu" ujar Farel mengeluarkan ponselnya bersiap siap menghubungi pihak kampus.
"Kakak hentikan!! Jangan semua urusan Zea harus di batasi, ini hanya mengerjakan tugas tidak sampai dua jam, Zea akan mengajak Vallen dan Sarah jika kakak tidak percaya"
Farel tersenyum tipis mengancingkan kemejanya, sesabar apapun Farel jika sudah menyangkut Zea akan keluar kesana kemari ia pasti ingin naik darah.
"Baiklah aku tidak akan membatasi mu, pergilah kemanapun kau mau, pergi dengan banyak laki laki dan jangan ingat suami mu!!" Ucap Farel, dia sendiri tidak mengerti kenapa harus sesensitif itu pada Zea akhir akhir ini.
"Kak? Zea hanya mengerjakan tugas" kata Zea mengulangi kalimatnya melihat ekspresi datar Farel.
"Pergilah toh tidak ada urusannya dengan ku lagipula seusia mu masih ingin bebas dan bersenang-senang bukan?"
"Bukan begitu kak tapi,,,,,"
"Halo ya baiklah aku akan kesana" ucap Farel meletakkan ponsel ditelinga nya padahal tidak ada yang menghubungi nya, dia hanya menghindar dari Zea.
Zea menyusul Farel keluar kamar, keduanya masih dengan ego yang sama tidak mau mengalah satu sama lain, ujian pernikahan mereka bisa dikatakan sudah dimulai.
"Zea kemari sarapan nak" ucap Zoya.
Zea mengangguk namun tatapan nya tetap mengarah kepada Farel, pria itu mengabaikan tatapan Zea dan memilih untuk memakan sarapannya.
__ADS_1
"Hay Zea, bagaimana hari ini?" Tanya Vallen yang baru saja datang dan duduk disamping Vano.
Zea masih ragu menjawab pertanyaan Vallen karena wajah Farel kembali terlihat kesal. Untuk pertama kalinya meja makan seperti ajang perlombaan menjadi es, semuanya hening memakan sarapan masing-masing.
"Zea kapan libur kuliah dimulai?" Tanya Lina tiba tiba.
"Mm?? Satu minggu lagi ma, kenapa?" Tanya Zea.
"Tidak, hanya saja mama sudah menyiapkan tempat bulan madu untuk kalian" jawab Lina tersenyum manis.
Braakkk!!!
Farel langsung meninggalkan meja makan, rasanya ingin marah tapi tidak bisa ia hanya bisa diam.
"Mm masalah kalian belum selesai?" Bisik Lina.
Zea menunduk menggelengkan kepala.
"Ini salah mu, kenapa kau tidak pulang ke rumah untuk menyelesaikan masalah" ucap Faris datar.
"Mana ada seperti itu" saut Lina membela suaminya.
"Pasti ada lah, wanita jika tersakiti pasti butuh ketenangan terlebih dahulu" saut Zoya.
"Intinya putri mu yang salah" ucap Faris.
"Tidak putra mu yang salah!" Kata Andre.
"Putri mu!!"
"Putra mu!!"
Vano, Vallen, Vira, dan Vino saling tatap satu sama lain lalu mengangguk bersamaan dan meninggalkan meja makan, makanan di tenggorokan mereka tidak bisa masuk dengan bebas mendengar pertengkaran dua keluarga itu.
Keempatnya memilih untuk duduk lesehan diruang keluarga untuk melanjutkan sarapan dengan tenang dan tentram. Sebenarnya ini kebalik karena mereka terusir dari meja makan sendiri.
__ADS_1
"Kenapa mereka tidak pernah akur umi? Mereka kan sudah menjadi satu keluarga" ujar Vano memakan sarapannya dengan kasar.
"Sayang Andre dan paman Faris itu memang sudah menjadi musuh bebuyutan sejak lahir jadi mereka butuh waktu agar bisa menerima satu sama lain menjadi satu keluarga" ucap Vira.
"Sudahlah jangan bahas orang lain bahas diri mu saja, kapan kau akan menikah" saut Vino.
Vino langsung meminum habis dua susu hangat milik nya dan milik Vallen ketika abinya sudah menagih menantu.
"Tanya saja calon menantu Abi" kata Vano.
Tatapan Vino beralih ke Vallen seolah bertanya dengan pertanyaan yang sama dengan Vano tadi.
"Kata papa saat usia 22 atau 23 Abi" jawab Vallen tercengir kuda.
Uhuk,,,uhuk
Kali ini Vira juga ikut tersedak mendengar jawaban Vallen.
"23?" Tanya Vino dan Vira bersamaan.
Vallen mengangguk ragu sambil memasukkan roti kedalam mulutnya.
"Tidak bisa tidak bisa, Minggu depan kita akan datang membawa seserahan. Tidak ada penolakan!!" Ucap Vino.
"Ta,,,, tapi abi,,,,"
"Apa? Kau tidak mau? Percuma kau tidak mau kami akan memaksamu" kata Vino memotong kalimat Vallen.
"Mau Abi tapi bagaimana dengan papa? Mama?"
"Mereka? Cih gampang" ucap Vino meremehkan.
Waahh ternyata jika Abi ku yang bertindak semua akan aman jaya. Batin Vano.
"Jika papanya Vallen menolak jangan di cekik ya abi" ujar Vallen khawatir.
__ADS_1
"Mm bisa dibicarakan baik baik jika papa mu patuh" kata Vino