
Selesai bercerita panjang lebar Vano membawa Vallen masuk kedalam untuk memperkenalkan nya pada seseorang.
"Selamat siang nenek!" Ucap Vano.
"Iya selamat siang, siapa?"
"Cucu mu!"
Tuan Christin dan nyonya Calista langsung bergegas menyambut suara pria yang sempat menjadi putranya itu.
"Astaga ini kejutan besar untuk kami" ucap nyonya Calista memeluk Vano bergantian dengan tuan Christin.
"Hey anak nakal kau masih ingat jalan kemari rupanya" goda tuan Christin.
"Nenek, Kakek maaf Vano sudah lama tidak berkunjung karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Ditambah perusahaan kakek yang harus Vano urus" ujar Vano.
Yaah selain Salvatrucha Group Vano juga mengendalikan Savero group, oleh karena itu Ethan selalu mengeluh ketika Vano tidak datang menyelesaikan masalahnya.
"Duduk dulu" ucap nyonya Calista.
Ketiganya berjalan menuju sofa, Vallen yang masih asing dengan suasana itu belum bisa beradaptasi. Vano memang terlalu banyak kejutan hingga Vallen baru mengetahui bahwa Vano memiliki nenek dan kakek.
"Sayang ini pertama kalinya kau membawa seorang perempuan kecuali ibu mu, siapa dia?" Tanya nyonya Calista.
Vano tersenyum tipis menatap Vallen sekilas.
"Kakek nenek perkenalkan ini adalah Vallena Ferrero calon istri Vano"
Nyonya Calista dan tuan Christin bengong sejenak mendengar penuturan Vano pasalnya pria itu tidak pernah sama sekali bersangkut paut dengan seorang gadis dan sekalinya tergoda oleh gadis muda seperti ini.
"Calon istri? Astaga sayang aku tidak menyangka bocah ini akan menikah, baru kemarin rasanya kita menemukan dia hanyut di sungai" ucap nyonya Calista.
"Hanyut di sungai?" Tanya Vallen bingung.
__ADS_1
Wajah Vano datar seketika, rahasianya yang bertahun tahun ia simpan hampir terbongkar, siapa yang menyangka anak dari keturunan Vino Salvatrucha pernah hanyut.
"Kakek nenek minggu depan kami akan menikah kalian datanglah" saut Vano mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa sangat tiba tiba?"
"Sudah tidak tahan" jawab Vano datar.
Keduanya menggelengkan kepala dengan jawaban konyol itu tapi Vallen yang masih tingkat kecerdasan nya masih rendah hanya menganggap itu pembicaraan serius sehingga ekspresi nya tidak ada yang berubah.
"Vano ayo ikut kakek" ajak tuan Christin.
Vano mengangguk patuh sembari memberi isyarat pada Vallen agar mengikutinya.
"Hanya kau"
"Ck kakek pergi saja sendiri" ucap Vano kembali mendudukkan dirinya.
"Hey bocah jangan buat aku kesal, ikut!!"
"Vallen kemari sayang" ucap nyonya Calista.
"Iya nek" Vallen langsung mendekat.
Nyonya Calista mengajak Vallen ke kamar yang dulu Vano tempati saat masih kecil, ruangan itu tidak berubah sama sekali bahkan penataan tempat tidur pun masih sama.
Nyonya Calista mengeluarkan banyak album foto saat bersama Vira dan Vano dulu lalu memberikannya pada Vallen.
"Anak kecil tanpa ekspresi itu adalah calon suami mu" ucap nyonya Calista tersenyum.
Vallen menelusuri satu persatu foto masa kecil Vano, dia sendiri cukup bingung kenapa wajah Vano tidak ada perusahaan sama sekali.
"Sebenarnya ini adalah rahasia, Vano paling benci aib masa kecilnya diketahui banyak orang tapi karena kau adalah calon istrinya kau berhak mengetahui ini" imbuh nyonya Calista.
__ADS_1
"Nenek Vano sangat tampan disini"
"Memang tapi menurut bocah itu foto ini adalah foto iblis yang menyamar menjadi dirinya, saat masih kecil anak itu membakar sebagian fotonya hanya karena tidak suka melihat wajahnya sendiri"
"Aneh" ucap Vallen menyunggingkan senyumnya.
Nyonya Calista memberikan waktu untuk Vallen berada dikamar itu sebentar sedangkan ia sendiri pergi mengurus anak anak yang sedang memakan es krim berlebihan.
Ceklek
Saat masuk dikamar nya Vano tidak melihat sama sekali sosok gadis yang duduk dimeja komputer yang biasa gunakan untuk meretas atau mendesain bom.
"Mm apa tidak masalah satu kamar seperti ini?" Sapa Vallen.
"Aaah!!!" Vano langsung menyandarkan tubuhnya ditembok mendengar suara.
"Va,,, Vallen sedang apa kau disini" ucap Vano memegang dadanya.
"Mm tidak ada, aku sedang belajar cara menggunakan komputer mu" kata Vallen menatap layar.
Vano segera menarik lengan Vallen agar menjauh dari komputer itu, untung Vallen belum terlalu bisa bermain komputer jika tidak rahasianya pasti akan terbongkar.
"Si,,, siapa yang mengizinkan mu masuk kedalam kamar ku!!" Ucap Vano panik.
"A,,,apa yang kau lihat? Kau tidak melihat apapun kan?" Tanya Vano mengguncang bahu Vallen.
"Aku baru membukanya belum melihat apapun, lagipula kau mengenakan password jadi aku tidak tau"
Huuhh
Vano bernafas lega, seandainya Vano tidak mengunci komputer nya pasti mata suci Vallen akan ternoda karena di dalam komputer nya ada banyak jenis film dewasa yang belum sempat ia hapus.
Vano terlihat masih polos tapi jangan salah, Farel, Vano, dan Ethan sudah hilang kesucian dalam hal hal seperti itu karena saat masih kecil mereka bingung kenapa orang dewasa selalu berhubungan badan jadi mereka berkumpul di satu tempat dan mencuri KTP Andre untuk menonton film dewasa bersama.
__ADS_1
🌱🌱
Nggak bisa ku bayangin gimana muka muka polos bocah nonton film dewasa 🙈🙈