
Sudah lewat 48 jam bahkan 70 jam juga terlewatkan, mereka baru ingat bahwa Vallen belum ditemukan sedangkan Vano sudah mencarinya dari kemarin.
Pria itu berusaha menaati seluruh perkataan dokter semata mata untuk kecepatan kesembuhan nya.
"Ayahh!!" Teriak Ethan dari ujung lorong rumah sakit.
"Ck Ethan jangan berteriak teriak ini rumah sakit" ucap Vira.
"Maaf bunda tapi ini gawat dan Ethan tidak tau harus menjelaskan nya bagaimana"
"Ada apa? Jelaskan pelan pelan" saut Vino.
"Sebenarnya Ethan dan Farel punya dua kabar yang pertama kabar baik dan yang kedua kabar buruk"
"Kabar baik terlebih dahulu" saut Faris.
"Farel" seperti kesepakatan awal bahwa Farel yang akan menyampaikan kabar baik.
"Kabar baiknya adalah Vallen sudah ditemukan dan dia kembali kerumah Ferrero"
Haahh!!
"Syukurlah!" Semuanya menghela nafas mendengar berita dari Farel.
"Lalu berita buruknya?" Tanya Vino datar.
"Berita buruknya adalah tuan David Ferrero menghentikan seluruh kerjasama antara Salvatrucha Group dan Horowitz Group dengan kata lain dia mengundurkan diri sebagai pilar kota" tutur Ethan.
Baru bernafas lega semuanya kembali ditegankan oleh kabar dari Ethan.
"Dan kabar yang paling buruk adalah keluarga Ferrero mengirimkan surat cerai karena mereka akan segera meninggalkan negara ini" imbuh Ethan.
"Apa?"
Vano keluar dari pintu kamarnya setelah menguping percakapan mereka.
Lagi lagi mereka dikejutkan dengan kemunculan Vano dari dalam, matanya seketika kosong dan merah.
"Va,,, Vano" Vira tidak tau harus berbuat apa sekarang.
__ADS_1
"Aku harus kesana sekarang" Vano membuka paksa infusnya lalu membuang sembarangan.
"Vano tunggu sayang kau masih belum pulih!!" Ucap Vira mengejar Vano namun pergerakan pria itu sangat cepat.
"Bunda biarkan Ethan yang menemaninya, bunda pulanglah" saut Ethan lalu berlari mengejar Vano.
Masih didepan ruangan Vano, Vino masih heran dengan apa yang terjadi.
"Aku yakin tuan David akan berpikir dua kali untuk membatalkan kerjasama karena dia akan membayar denda yang sangat besar" ucap Vino.
"Salah om, tuan David malah membayar lebih denda pembatalan kerjasama pada Salvatrucha Group dan Horowitz Group, mereka juga memperingatkan untuk tidak mengganggu perusahaan Ferrero lagi, mereka berdiri sendiri sekarang"
"Aneh kenapa dia melakukan itu"
"Hanya mereka yang tau jawabannya om, bahkan saat ini seluruh pengawal dan pelayan sudah mereka pecat. Keluarga mereka berubah menjadi tertutup seperti dulu"
"Apa mungkin karena wajah Vallen,,,," Vino tidak melanjutkan kalimatnya tapi ia menduga bahwa mereka melakukan itu semua karena Vallen yang meminta.
"Farel merasa bukan itu inti masalah nya om, pasti ada sesuatu yang lebih besar dari sekedar wajah"
Mereka sampai pusing memutar kepala untuk mengetahui masalah apa yang terjadi pada keluarga Ferrero.
***
"Vallen buka!!" Kata Vano sembari memegang perutnya bekas peluru.
"Hey tenang dulu, tunggu sebentar lagi mungkin mereka sedang menuju kemari" ucap Ethan memegang pundak Vano namun pria itu menepisnya.
Wajah Vano memerah dan sebentar lagi mungkin ia akan menangis menatap jendela kamar istrinya.
"Papa mama!! Tolong buka gerbangnya sekali saja" pinta Vano.
"Tolong pa, Vano janji tidak akan merusak apapun" imbuh Vano.
Dari dalam David dan Bela sudah melihat Vano dari layar, sebenarnya Bela merasa kasihan dengan Vano.
"Apa sebaiknya kita biarkan saja dia masuk, biarkan dia bertemu dengan Vallen untuk terakhir kalinya" ucap Bela.
"Kau tidak bisa mengingkari janji pada putrimu" kata David datar.
__ADS_1
"Tapi Vano juga putra ku, dia berhak bertemu dengan istrinya, bagaimana jika Vano adalah dirimu kau masih tidak ingin membukakan gerbang?"
David bungkam dia meletakkan remote otomatis gerbangnya diatas meja itu artinya Bela boleh menekan tombol tersebut.
Tanpa banyak berpikir Bela menekan tombol otomatis yang membuka gerbang tersebut.
Diluar Vano terlihat sumringah ketika gerbangnya terbuka otomatis, mereka sudah tidak perlu takut karena tidak ada musuh lagi.
Vano berjalan cepat menuju kedalam rumah, ia tidak bisa berlari karena getaran yang keras akan membuat tubuhnya sakit.
Ceklek!!
Vano tidak melihat kemanapun, dia langsung berjalan menuju kamarnya tanpa memperhatikan Bela dan David dibawah.
Tok,,,tok,,,tok
"Siapa?"
"Vano"
"Buka pintunya Vallen apa maksud mu melakukan ini padaku tolong jelaskan"
Tok,,,tok,,, tok
"Vallen aku mohon buka pintunya"
"Pergilah aku tidak ingin melihat mu"
Dada Vano seperti tersambar petir mendengar ucapan Vallen, rasanya perkataan itu lebih sakit daripada tiga peluru yang menancap ditubuhnya.
"Buka dulu pintunya kita bicarakan baik-baik, apa aku ada salah?" Tanya Vano masih tetap tidak ingin menyerah mengetuk pintu.
Sekitar 20 menit Vano berdiri didepan pintu membujuk Vallen keluar namun tidak ada hasil sampai Bela tidak tega melihat tubuh Vano terus berdiri.
Dia melihat sekitar dan memberikan kunci duplikat pada Vano lalu pergi sebelum David melihatnya.
"Terimakasih ma" ucap Vano tapi Bela pergi begitu saja.
***
__ADS_1
mulai banyak haters dan peramal 🌝🗡️🗡️🗡️