
Beberapa saat kemudian mereka sampai ditempat tujuan, Ethan membukakan pintu untuk Vallen dan Vano sedangkan Farel membukakan pintu untuk Vino dan Vira dibelakang.
"Ini tempat apa?" Tanya Vallen melihat situasi asing didepannya.
Vira berjalan menghampiri Vallen dengan senyum merekah dan sangat antusias mengajak Vallen untuk merefresh otak.
"Ayo masuk sayang" ajak Vira merangkul Vallen.
Keduanya masuk terlebih dahulu kedalam kebun binatang dan sedangkan Vino, Vano, Farel, dan Ethan berjalan dibelakang mereka.
Saat masuk kedalam kebun binatang wajah Vallen tidak bisa ditebak sama sekali bahkan Vano pun merasa aneh dengan ekspresi Vallen seperti itu.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Vano mendekati Vallen.
Vallen diam tanpa berniat menjawab pertanyaan Vano, matanya memerah melihat banyak binatang binatang yang selalu menemaninya dihutan dulu. Sedikit tidaknya Vallen merindukan hutan tempat tinggalnya sekarang.
"Vallen!" Panggil Vano sembari memegang lengan gadis itu.
"Ada apa?" Saut Vira melihat kedua ekspresi putra dan putrinya.
"Tidak tau umi,,,"
"Vallen ingin sendiri sebentar" ucap Vallen lalu pergi dengan melepas paksa tangan Vano dari lengannya.
"Hey,,,," baru saja ingin mengejar Vallen, Vino sudah menghalangi jalan putranya terlebih dahulu. Ia sangat amat mengerti keadaan Vallen sekarang ini.
"Biarkan abi saja" ujar Vino menepuk bahu Vano.
__ADS_1
"Tidak!! Dia milikku abi mau apa!" Kata Vano dingin.
"Cih istriku saja tidak tergantikan, abi pernah mengalami hal yang sama dengan Vallen, sedikit tidaknya Abi bisa memberikan motivasi hidup untuknya" Tutur Vino lalu berjalan menyusul Vallen.
Vino berjalan ke beberapa sisi kebun namun Vallen tidak terlihat sama sekali, langkahnya terhenti ketika melihat Vallen sedang berdiri didepan kandang singa.
"Sedang apa?" Tanya Vino dari belakang.
Vallen memutar kepala memastikan suara itu adalah Vino atau Vano karena mereka benar benar dua raga yang berbeda namun tak bisa dibedakan.
"Abi" ucap Vallen kembali menatap kandang.
"Kau merindukan rumah?" Tanya Vino mendekatkan diri disamping Vallen.
"Mmm" Vallen menganggukkan kepala pelan.
"Vallen takut tidak bisa kembali" ucap Vallen menundukkan kepala.
"Maka jangan pulang pilihan mu hanya satu dimata putra ku yaitu tetap disisinya, jikapun kau hilang dia akan mencari mu sampai di titik terkecil bumi ini" kata Vino tersenyum tipis mendengar ucapan nya sendiri yang sekaligus menasehati dirinya.
"Haahh!! Vallen tidak akan pergi abi, Vallen akan tetap disini. Baiklah ayo kita lepaskan beberapa singa terlebih dahulu" ucap Vallen tersenyum manis.
Vino membulatkan mata mendengar ucapan gadis itu, Vallen sepertinya tidak bercanda pikir vino.
"Me,,, melepaskan singa?" Tanya Vino memastikan.
"Apa abi tidak kasihan melihat mereka terkurung dipenjara seperti ini abi? Dirumah Vallen singa bebas berlalu lalang kenapa disini malah dikurung, Vallen kesal melihatnya" jawab Vallen.
__ADS_1
"Benar juga, kita tidak boleh menyiksa hewan kan" gumam Vino.
"Baiklah ayo lepaskan" ajak Vino lalu membuka gembok besi didepannya.
"Semangat abi!!" Ujar Vallen disamping Vino.
Tkkk!!!!
Tiga ekor singa terlepas bebas ketika gerbangnya terbuka lebar, Vallen bertepuk tangan kecil melihat singa singa itu mulai berlari.
"Ow ow!!!" Ujar Vino ketika melihat singa itu sepertinya tidak jinak sama sekali.
"Abi kaburr!!!!" Teriak Vallen berlari sekuat tenaga saat singa singa itu berlari kearah mereka dan siap menerkam.
"Vallen tunggu abi!!!" Teriak Vino mengejar Vallen yang tak jauh dari tempatnya.
"Vano toloongg!!!" Teriak Vallen berlari kearah Vano.
"Kau apakan singa singa itu Vallen!!" Teriak Vano saking paniknya melihat singa sudah berada didepan mata.
Ethan dan Farel mengeluarkan senjata paling ampuhnya yaitu pistol bius, untung saja mereka selalu siaga dengan senja yang satu itu.
Doorrr!!!!!
Huuhhh!!!
Vallen dan Vino menghembuskan nafas lega setelah singa singa itu terbaring lemah akibat obat bius, Untung saja Vira sudah menyewa tempat itu selama beberapa jam jika tidak pasti pengunjung sudah panik setengah mati.
__ADS_1
Masih saja ada kelakuan konyol mereka apalagi kebodohan Vallen ditambah lagi dengan kebodohan Vino, lengkap sudah keluarga itu.