
Pagi hari dikediaman Vano Salvatrucha, Vallen keluar dari kamarnya menuju meja makan untuk mencari makanan apapun yang bisa dimasukkan kedalam perut.
"Selamat pagi" sapa Vano dari belakang.
"Pagi" jawab Vallen masih asik dengan hidangan makanan didepannya.
"Kemana?" Tanya Vallen melihat pakaian serba rapi dari sang pemilik wajah datar.
"Ke kantor apalagi!" Jawab Vano seadanya lalu mengambil roti.
"Aku tidak ikut" ucap Vallen.
"Memangnya siapa yang mengajak mu" kata Vano ketus.
Vallen tercengir kuda lalu memakan rotinya, karena jam kantor sudah dekat Farel dan Ethan pun ikut bersiap siap.
"Dimana Sarah?" Tanya Vano yang belum sempat menanyakan keberadaan gadis itu.
Wajah Vallen kembali datar saat mendengar pertanyaan Vano.
"Sarah? Mm dia sedang meratapi nasib didepan teras" jawab Ethan tanpa memperhatikan bosnya karena sibuk merapikan dasi.
"Kenapa dia tidak berusaha kabur seperti mu?" Tanya Vano berganti pada Vallen.
"Coba saja jika dia berani melangkah keluar tanpa majikannya" jawab Vallen ketus.
"Ethan bawa dia masuk, kita harus melakukan interogasi sebelum berangkat bekerja" titah Vano
Ethan mengangguk lalu keluar mencari Sarah diluar, sebenarnya ia malas tapi apalah daya ketika uang menjadi segalanya.
__ADS_1
"Hey Vano mencari mu, masuklah" ucap Ethan pada Sarah yang sedang duduk.
Sarah melirik secukupnya lalu kembali menatap bawah, entah apa yang ada dalam pikiran gadis itu.
"Dengar tidak!!" Kata Ethan menaikkan suaranya.
Sarah kembali melakukan hal yang sama.
"Kau siapa berani memerintah ku!!" Ujar Sarah dingin.
"Aku tidak peduli yang jelas Vallen akan mengusir mu dari tempat ini jika tidak masuk!" Ucap Ethan ketus lalu kembali masuk.
Sarah mengikuti Ethan dari belakang karena tidak berani dengan majikannya
"Kau memanggilku nona?" Tanya Sarah duduk diatas lantai dekat kursi tempat Vallen duduk memakan sarapannya.
"Tidak!" Jawab Vallen ketus.
Sarah tidak menggubris ucapan Vano sedikitpun, rupanya gadis itu hanya akan bertindak ketika Vallen yang memberi perintah.
"Vallen" panggil Vano memberikan isyarat agar menyuruh asistennya untuk melakukan apa yang dikatakan oleh Vano.
Vallen memutar bola matanya malas harus menuruti keinginan Vano.
"Duduk di atas!" Titah Vallen.
"Baik nona" ucap Sarah patuh lalu duduk disamping Vallen.
Setelah semua berkumpul dimeja makan, Vano sebagai pemimpin duduk di ujung untuk memulai interogasi kedua dengan cara halus.
__ADS_1
"Baik, Sarah jelaskan padaku sekarang siapa dirimu, seluk beluk mu intinya semua tentang dirimu" ujar Vano menatap Sarah.
Sarah membeku tidak ingin menjawab pertanyaan Vano sedikitpun.
"Mulai hari ini dia juga majikan mu" saut Vallen agar Sarah bisa menjawab Vano.
"Baik nona"
"Namaku Sarah, aku bekerja untuk melindungi nona VB dan untuk,,,,"
"Nona VB? Siapa itu?" Tanya Ethan memotong penjelasan Sarah.
"Dan untuk membunuh orang yang ingin mencelakai nona VB" sambung Sarah mengabaikan pertanyaan Ethan.
"Siapa yang memerintahkan mu untuk melindungi nona VB?" Tanya Vano.
"Dia" jawab Sarah tanpa melihat kearah siapapun.
"Bisakah kau mengingat wajahnya? Atau namanya?"
"Satu bulan sekali kami didatangi untuk pembaharuan pemrograman, otak kami akan melupakan segala macam jenis wajah yang pernah kami temui termasuk orang itu setelah melakukan program ulang" jawab Sarah sedetail mungkin seperti robot yang berbicara tanpa henti.
"Lalu kenapa kalian bisa mengingat setiap peristiwa yang terjadi?"
"Karena dia membuat program hanya untuk menghilangkan rupa wajah seseorang bukan untuk menghilangkan ingatan" jawab Sarah lagi.
"Benar benar gila!!" Gumam Vano menggerakkan giginya geram.
"Kenapa kalian tidak melakukan perlawanan?" Saut Farel datar.
__ADS_1
"Perlawanan? (Tersenyum sinis) cih bahkan kami hanya seekor semut kecil bisa berbuat apa selain tunduk dan patuh, lagipula kalian tidak perlu mengurus urusan kami, lakukan saja kesibukan kalian sendiri" ujar Sarah ketus.