Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 202


__ADS_3

Didepan hotel tempat ia menginap Vano memegang kepalanya karena menyesal telah memperlakukan Vallen seperti itu, harusnya aku mengejar Vallen dan tidak membiarkan nya pergi lagi pikir Vano.


"Ethan cari informasi tentang perkembangan keluarga Ferrero di sini selama beberapa tahun terakhir!" Titah Vano.


"Sedang ku lakukan" ucap Ethan.


Mereka sibuk sendiri dengan urusan masing-masing, Vano juga mencari banyak informasi dari lokasi tadi tapi tidak ada satupun informasi terbuka tentang keluarga Ferrero.


"Aah ya aku lupa memesan makanan untuk Excel dan Tristan" gumam Vano.


Dia menghubungi pihak hotel untuk membawakan dua anak itu makanan ke kamarnya.


"Permisi tolong bawakan makanan dan susu untuk kamar 2201" ucap Vano.


"Baik tuan, ada tambahan?"


Vano menggelengkan kepala lalu mengeluarkan kartu untuk membayar.


"Maaf tuan saya lancang tapi kenapa anda memesan makanan dikamar sedangkan anda sendiri disini"


"Anak saya didalam"


"Anda tuan Savero?" Tanya pelayan tersebut.


Vano mengangguk datar.


"Maaf tuan tapi dua anak kecil tadi keluar dengan salah satu pengasuh anak di hotel"


"Apa?" Ethan melepas iPad nya mendengar pembicaraan Vano dan salah satu pelayan restoran.


"Mm bukankah kalian sudah memberi izin mereka untuk pergi ke pusat perbelanjaan"


Vano mengambil nafas panjang panjang mendengar kelakuan Excel dan Tristan mengelabui pihak hotel, lagi lagi mereka harus menjadi masalah disaat Vano sedang mengurus hal penting.


"Mereka pergi kemana?" Tanya Vano.


Pelayan tersebut memberikan alamat sesuai yang ditulis Excel di kertas, Vano dan Ethan langsung ke tempat lokasi untuk menemui mereka, Ethan sudah geram dengan kelakuan putranya yang banyak akal.


Keduanya mengelilingi pusat perbelanjaan, mulai dari tempat bermain dan toko es krim namun tidak ada.


Sedangkan orang orang yang dicari sedang asik berlari lari mengitari toko pakaian dengan pengasuh hotel, wanita itu sampai lelah mengurus Excel dan Tristan.


"Tristan kemari" ucap Excel.


"Apa?"


"Apa aku tampan menggunakan ini?" Tanya Excel mengenakan syal abu abu.


"Lumayan" jawab Tristan.


"Ayo cepat pilih pakaian yang kau inginkan lalu kita pergi membeli es krim dan kembali ke hotel"


Keduanya mengambil pakaian secukupnya untuk keperluan selama disana lalu pergi membayar, gilanya pengasuh sampai heran melihat dua anak itu membawa black card di usia seumur jagung.


"Maaf tuan dimana orangtua kalian?" Tanya pihak kasir.


"I,,,,ni" Excel heran melihat belakang tidak ada orang, rupanya pengasuh mereka sendiri mereka tinggalkan entah kemana.


"Maaf tuan sebaiknya kalian menggunakan kartu ini setelah orang tua kalian datang"


"Tapi,,,,"

__ADS_1


"Gunakan ini" saut seseorang dari belakang.


Lagi lagi penjaga kasir dibuat bingung dengan satu anak dibelakang, mereka sama sama kecil.


"Anda juga sama tuan, anda harus,,,,"


"Gunakan atau aku akan membeli seluruh tempat ini"


"Tapi tuan,,,,"


"Nona anda punya telinga? Gunakan dengan baik sebelum anda tidak bisa mendengar"


Excel dan Tristan terus memperhatikan anak yang hampir sebaya dengannya dengan mudah dituruti oleh penjaga kasir.


"Ini tuan"


Anak itu mengambil kartunya lalu keluar membawa hoodie yang langsung ia gunakan dan menutup seluruh badannya ditambah dengan masker dan kacamata hitam.


"Hey tunggu!"


Excel dan Tristan berlari mengejar anak itu hingga eskalator, mereka tidak bisa naik lift karena tombolnya masih terlalu tinggi.


"Hay terimakasih atas bantuan mu, aku akan segera menggantinya" ucap Tristan.


"Tidak perlu, pergilah"


Melihat beberapa pengawal yang sangat familiar dimatanya, laki laki itu memutar balik tubuh Tristan dan Excel dengan cepat.


"Hey kau,,,"


"Anggap ini sebagai ucapan terimakasih kalian"


Mereka terus menghindar hingga beberapa menit dan bersembunyi disebuah restoran, tentu pengawal yang mengikuti laki laki itu tidak akan curiga jika tuan mudanya berada di restoran.


Laki laki itu mengangguk datar sembari meminum jus yang ia pesan agar bisa duduk direstoran tersebut.


"Siapa namamu?" Tanya Excel.


"Vero" jawabnya masih dengan ekspresi yang sama.


"Aku Excel Horowitz dan dia Tristan Alexander"


"Aku tidak bertanya" ucap Vero.


Baru kali ini mereka di skakmat oleh seseorang selama ia hidup di bumi.


"Marga mu apa?"


"Aku tidak memiliki marga"


"Baiklah sekarang berikan nomor rekening mu aku akan mengganti uang mu"


"Aku tidak butuh uang mu"


"Tapi aku tidak ingin berhutang padamu"


"Maka jangan anggap kau berhutang"


"Aiiihhh aku masih kecil tapi darah ku sudah tinggi" gumam Tristan.


"Baiklah karena kau mengatakan itu jadi kami anggap tidak pernah berhutang padamu"

__ADS_1


Vero tidak menjawab tapi dengan tatapannya cukup membuat Excel dan Tristan mengerti.


"Mm kau tinggal disini?" Tanya Tristan.


Vero mengangguk.


"Kau ingin menjadi teman kami selama satu minggu?" Tanya Tristan antusias.


"Aku tidak tertarik" jawab Vero.


"Ayolah ku lihat kau butuh seorang teman, anggap saja satu minggu ini kita membuat kenangan indah sebelum kami pulang ke negara kami" bujuk Tristan.


Vero juga merasa dua orang ini cukup menarik dibanding anak anak biasanya, apa yang mereka bicarakan pun nyambung selama beberapa menit ini.


"Ini nomor ku tapi jangan pernah menghubungiku sebelum aku yang menghubungi kalian" ucap Vero sembari bertukar nomor ponsel.


"Oke"


Vero melihat luar, dia merasa pengawal tadi sudah pergi. Vero turun dari kursinya lalu memasang masker dan kacamatanya lagi.


"Aku harus pergi"


"Hey aku belum selesai kau tinggal dimana!!" Teriak Excel.


Vero tersenyum sinis mendengar pertanyaan bodoh anak itu, dia tetap berjalan tanpa mendengar Excel.


Bughh!!


Vero terjatuh ketika menabrak tubuh seseorang didepan pintu restoran, ia langsung memperbaiki kacamatanya.


"Fungsi mata untuk melihat bukan sebagai pajangan!" Ucap Vero lalu pergi.


Vano menatap anak itu sekilas karena ucapan dinginnya, sedangkan Ethan langsung menarik Vano mendekati Excel dan Tristan.


"Hey dua anak aku sebagai orang tua sudah lelah melihat tingkah kalian, kenapa kalian pergi tanpa izin kami, kenapa kalian meninggalkan pengasuh hotel begitu saja hah! Kalian ingin diberi pelajaran berharga?"


"Stop!! Jangan marah marah sebelum mendengar penjelasan kami"


"Silahkan" saut Vano mengetuk meja karena ia juga ingin marah saking khawatir nya.


"Kami sudah meminta izin pada kalian dan kalian mengatakan iya jadi jangan salahkan kami" ucap Excel.


"Kapan? Kalian kira ayah bodoh? Kapan ayah mengatakan boleh? Coba jawab!" Tantang Ethan.


"Tristan berikan bukti" Excel tidak takut menatap mata ayahnya.


Tristan memberikan jempol untuk Excel lalu mengeluarkan ponsel yang mereka silent sedari tadi agar tidak hubungi.


"Ini" Tristan memberikan pesan dari email dan jelas jelas Ethan mengatakan 'pergi saja sayang bersenang-senanglah'


Vano menatap Ethan dengan tatapan membunuh, bisa bisanya dia mempersilahkan anak kecil semudah itu untuk pergi ke tempat ramai sendirian.


"Ta,,,tapi a,,,aku tidak pernah,,,," Ethan sampai memutar otaknya dari pagi sampai sore namun seingatnya tidak pernah Ethan menyetujui itu.


"Jadi bukan salah kami kan pa" Excel memasang wajah puppy eyes yang tak lain adalah jurusan andalannya.


"Ayo pulang" ucap Vano datar lalu menggendong Excel.


Excel memasang wajah memelas nya saat digendong oleh Vano namun ekspresinya berubah licik ketika menatap ayahnya.


"Katakan sekarang!" Titah Ethan pada Tristan.

__ADS_1


"Ya di bobol lah memang nya bagaimana lagi" jawab Tristan santai.


Ethan ingin sekali menendang meja didepannya mendengar penjelasan Tristan, bisa bisanya ia tidak peka kedua bocah itu melakukan hal yang tidak pernah ia sangka.


__ADS_2