Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 49


__ADS_3

Vano membawa Vallen pulang kerumahnya untuk diadili sekaligus bertanya siapa laki laki yang bersama dengan Vallen tadi.


Dman kini Vallen terasa sedang duduk di kursi pengadilan diiringi tatapan membunuh dari Vano tanpa sepatah katapun.


"Ahaha kurasa aku lapar" ucap Vallen asal dengan senyum dibuat buat untuk menghilangkan rasa takutnya.


"Duduk!!" Satu kata dari Vano berhasil membuat Vallen mematung dan menunduk memainkan jarinya.


Tidak ada yang berani mengusik Vano saat ini bahkan Ethan pun tidak bisa membantu Vallen keluar dari masalah ini, bagaimana dengan Sarah? Apalagi dia yang merupakan orang baru dirumah itu.


"Siapa?" Tanya Vano setelah sekian lama duduk diam tanpa sepatah kata.


"Heuh? Siapa?" Tanya Vallen balik.


"Dia" jawab Vano tanpa menghilangkan tatapan membunuhnya.


"Rafi? Dia laki laki yang membantu ku saat kau mengusir ku dari rumah dia sangat,,,,,,"


"Dia tidak ada lebihnya dari ku, dia hanya siswa biasa" ucap Vano memotong kalimat Vano.


"Tapi,,,,,"


"Tapi dia sangat kaya namun tidak melebihi kekayaan ku" ujar Vano kembali memotong kalimat Vallen.


"Benar hanya saja,,,,"

__ADS_1


"Hanya saja waktu itu kau terlalu membutuhkan bantuan sehingga meminta bantuan padanya tidak lebih dari itu!!" Kata Vano lagi lagi memotong kalimat Vallen seakan akan dia tidak ingin terlihat jelek dimata Vallen.


"Bicara saja sendiri!!" Ucap Vallen kesal karena tidak memiliki kesempatan berbicara.


"Kau menyukainya?" Tanya Vano tanpa basa-basi.


"Suka" jawab Vallen menganggukkan kepalanya.


Vano baru saja ingin menendang meja didepannya namun Vallen menghalangi sebelum ia selesai berbicara.


"Tapi perasaan ku pada Rafi sama seperti pada Ethan dan Farel tidak seperti perasaan ku padamu" sambung Vallen dengan polosnya berbicara jujur apa adanya.


Vano tersenyum tipis dengan jawaban Vallen, emosinya mereda seketika. Dan kini Vallen yang memberikan tatapan membunuh untuk Vano saat ia mengingat nama Fania tadi.


"Teman" kata Vano menatap Vallen.


Vallen tersenyum sinis dengan jawaban yang ia dapatkan, mungkin benar hanya sekedar teman tapi Vallen tidak mengerti dengan hatinya sendiri.


"Aku malas bicara padamu, jangan bicara lagi padaku!!" Ujar Vallen ketus lalu berdiri ingin meninggalkan Vano.


Vano menghalangi jalan Vallen dengan tangannya agar Vallen tidak bisa menjauh.


"Fania hanya teman masa kecil ku, apa itu salah?" Ucap Vano menatap Vallen.


"Tidak peduli!!" Kata Vallen menepis lengan Vano.

__ADS_1


Vano menarik lengan Vallen untuk duduk disampingnya, gadis itu langsung terduduk karena Vano menyeretnya sedikit keras.


"Kau harus peduli"


"Tapi,,,,"


"Bahkan jika kau tidak peduli kau harus tetap peduli, paham?"


Vallen mengalihkan pandangannya tidak kuat dengan tatapan mata itu bahkan disaat Vano sedang serius seperti inipun matanya tetap tajam.


"Rafi juga teman dia,,,"


"Berani kau menyebut nama orang lain didepan ku siapapun dia orang itu akan berangkat kerumah sakit secepat mungkin!!" ucap Vano tanpa memberikan kesempatan untuk Vallen berbicara.


"Berani kau menyebut nama orang lain siapapun dia, orang itu akan lenyap dari bumi!!" ancam Vallen balik.


"Baik, sepakat?" Vano mengulurkan tangannya.


"sepakat!" Vallen membalas uluran tangan dari Vano.


keduanya berhenti bertengkar batin ketika sudah mendapat solusi dari masalah yang entah apa itu, Vano tidak memiliki hubungan spesial atau apapun dengan Vallen namun posesif nya melebihi seorang suami.


🌱🌱🌱


Nak anak jangan lupa like and komen ya biar umi tau kalian siapa 😁vote juga boleh untuk memperlancar up setiap hari 🀭🀭

__ADS_1


__ADS_2