
"Vallen kau tidak gila menjahit luka mu sendiri" ucap Vano.
"Dia bilang jika ada darah obati bagaimanapun caranya agar tidak mati sia sia hanya karena kekurangan darah" kata Vallen santai.
"Ssshhh" Ethan sendiri yang meringis melihat Vallen memasukkan jarum beberapa kali dikulitnya.
"Dia saja berani melakukan itu pada dirinya sendiri bagaimana dengan orang lain" gumam Ethan.
Vano juga begitu, tubuhnya terasa ngilu melihat Vallen dengan gampangnya menusuk diri sendiri apalagi Vano anti dengan jarum sama seperti abinya.
"Apa tidak sakit? Kenapa wajahmu biasa biasa saja?" Tanya Vano.
"Heuh?? Ahh ya sakit sekali aku tidak bisa menahannya tapi ini semua hampir selesai" jawab Vallen menatap kearah lukanya tidak berani melihat Vano langsung.
Aku tidak melihat kejujuran, kenapa gadis ini sulit sekali untuk mengakui segala rahasianya. Batin Vano
"Apa kita perlu ke dokter?" Tanya Vano.
"Dokter itu siapa?" Tanya Vallen balik.
"Kau temukan dimana manusia sebodoh ini!" Saut Ethan frustasi.
"Ini masih soal dokter Ethan kau belum melihat yang lainnya" ucap Vano ikut frustasi dengan gadis disampingnya.
"Sudah, aku sudah selesai mengobati lukanya ayo pergi ke dokter" kata Vallen tidak terlalu memperhatikan ucapan Vano dan Ethan sebelumnya.
__ADS_1
"Vano sebaiknya kau kembalikan mahluk ini ke asalnya, biarkan saja dia berteman dengan singa singa disana" ucap Ethan menatap Vallen.
"Kau benar Ethan, aku belum memberikan mereka makanan beberapa minggu ini hmm tapi dia pasti sudah mengambil mereka karena tidak ada yang mengurus" ujar Vallen
"Darimana kau mendapatkan daging untuk memberikan mereka makanan?" Tanya Ethan basa basi
"Bodoh!! rumahnya didekat hutan tentu saja berburu" jawab Vano ketus.
"Tidak juga" saut Vallen.
"Lalu?" Tanya Vano dan Ethan bersamaan.
"Bangkai musuh" jawab Vallen sembari memasukkan obat obat kedalam kotak.
"Ck bukankah kalian pemburu mafia, tentu kalian sering melihat hal hal seperti itu jangan berpura-pura jijik"
"Aku tidak pernah, umi akan marah terutama Tuhan" saut Vano dengan cepat mengangkat tangannya.
"Dia?" Tanya Vallen menunjuk Ethan.
"Mm sekitar dua ratus lebih sedikit" jawab Ethan cengengesan.
"Kau?" Tanya Ethan balik.
"Mm tak terhingga" jawab Vallen menepuk pelan dagunya untuk menghitung musuh yang pernah ia bantai.
__ADS_1
"Kau yakin baik baik saja?" Tanya Vano mengalihkan pembicaraan, Vano tidak terlalu suka jika Vallen mengingat hal hal seperti itu apalagi tentang pembunuhan. Dia kesal jika Vallen terlihat tidak baik dimata orang orang terdekatnya.
"Iya aku baik baik saja" jawab Vallen meletakkan obat ke tempat asalnya.
"Maaf aku tidak bisa mengontrol diri" ucap Vano menatap Vallen.
"Luar biasa seorang Vano Salvatrucha meminta maaf pada wanita, sejak kapan kau melakukan itu tuan muda? Bahkan aku tidak pernah mendengar mu meminta maaf pada siapapun. Kau menemukan teori baru?" Ujar Ethan terkagum-kagum melihat bos-nya.
"Kau belum merasakan jarum ini menusuk bibir seseorang?"
"Aku miskin aku diam" ucap Ethan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Tidak masalah lagipula dalam pertarungan kita yang mati,,,,,"
"Vallen aku tidak suka kau menyebut asal usul mu, jadilah gadis biasa itupun sudah kukatakan beberapa kali padamu. Lihat ini, gelang yang ada ditangan mu adalah identitas baru! Camkan itu baik baik" ucap Vano melepas lengan Vallen sedikit keras lalu meninggalkan nya.
Vallen menatap kepergian Vano, dia tidak tau kenapa akhir akhir ini Vano sedikit sabar menghadapi dirinya namun selain sabar Vano ternyata overprotektif terhadap apa yang menyangkut Vallen.
"Kenapa dia marah?" Tanya Vallen pada dirinya sendiri.
"Haahhh aku belum mengerti apa maksud mu mempertahankan gadis ini, aku yakin ada tujuan tertentu tapi kau ragu untuk mengatakannya" gumam Ethan melihat kepergian Vano.
"Aku juga marah, kau mau apa?"
"Aku tidak peduli" jawab Vallen lalu meninggalkan Ethan sendiri.
__ADS_1