
Setelah drama Vano dan Vallen selesai mereka hanya tidur biasa karena Vano tidak bisa berbuat banyak selain istighfar ketika tidur dengan seorang gadis untuk pertama kalinya selain Vira.
Namun tidak hanya drama dari junior Salvatrucha kini drama junior Alexander baru dimulai, Farel secara pelan sekali masuk kedalam kamarnya.
Ceklek
Suara pintu pun hampir tidak terdengar ditelinga Zea saking pelannya Farel menutup pintu.
"Ehem" Farel berdehem kecil untuk menyapa Zea.
"Sedang apa?" Tanya Farel basa basi mendekati istrinya.
"Mm? Ini sedang mendengar cerita Rifka tentang Rafi, kabarnya mereka berpisah beberapa hari yang lalu" jawab Zea tanpa menatap Farel.
"Oh"
Farel pergi membersihkan diri terlebih dahulu sambil menunggu Zea selesai bermain ponsel.
Namun saat ia keluar dengan lilitan handuk di pinggangnya Zea masih tetap bermain ponsel padahal Farel sengaja mengeluarkan aura seksinya malam ini untuk menarik perhatian istrinya.
"Zea jangan bermain ponsel terus" ucap Farel mendekati Zea.
__ADS_1
"Sebentar kak masih seru"
Farel berusaha sedemikian rupa agar Zea meliriknya sedikit saja, sejauh ini belum ada yang berani menolak badan seksi itu apalagi Zea.
"Zea istirahatlah ini sudah malam" Farel merebut ponsel milik istrinya.
"Ayolah sebentar lagi kak" rengek Zea ingin merebut ponsel nya namun di urungkan ketika sadar badan suaminya lebih mengerikan.
Zea langsung menghadap lain tanpa berniat memegang ponsel lagi, jantungnya ingin meledak dan tubuhnya sedikit gemetar.
Farel menghela nafas terlebih dahulu lalu meletakkan ponsel diatas nakas setelah itu ia mendekati Zea dan memegang bahunya.
"Ehem ini tidak masuk akal tapi kakak sudah menyerah"
"Me,,, meminta?" Zea sudah tau maksud dari suaminya tapi ia perlu diperjelas agar tidak salah paham.
"Melakukan kewajiban sebagai istri" jelas Farel.
Zea menelan ludah ketika tebakannya benar, sebenarnya tidak ada masalah Zea juga siap kapanpun Farel memintanya tapi tidak ada orang yang tidak gugup.
"Mm ba,,, baiklah kakak maunya sekarang?" Tanya Zea dengan tangan gemetar.
__ADS_1
Farel ingin melompat girang didepan Zea namun tidak mungkin ia melakukan hal konyol seperti itu
"Tidak kakak pasang baju dulu sebentar" jawab Farel langsung berlari lari kecil ke ruang ganti, bukan mengganti pakaian yang ia lakukan melainkan menyiapkan mental fisik dan memutuskan urat malu.
Dikamar Zea masih bengong dengan permintaan Farel, kaki tangannya gugup bukan main sehingga ia mencoba menutupi nya dengan tidur sejenak sembari menunggu Farel menggunakan pakaian.
Padahal jika masuk akal langsung saja lebih cepat daripada harus pergi keruang ganti dengan alasan yang bodoh.
Ceklek
"Zea kakak sudah,,,,," Farel menghentikan langkahnya melihat Zea tertidur pulas diatas ranjang dengan memeluk dirinya sendiri.
Haaahhh!!!
Farel menghela nafas panjang melihat wajah cantik itu sedang berada di alam bawah sadar, senyum tipisnya mengembang melihat kening Zea berkeringat.
Farel paham bahwa gadis itu hanya siap dengan kata kata namun tidak dengan mental, dia belum siap sama sekali.
Farel mendekati Zea dan menyelimutinya setelah itu ia ikut masuk kedalam untuk memeluk Zea, Farel sengaja tidak membangunkan Zea karena gadis itu pasti akan kembali gugup seperti tadi.
"Lain kali jika tidak siap katakan jangan disembunyikan" gumam Farel mencubit pelan pipi istrinya.
__ADS_1
Haahh!!
"Maafkan aku, aku tidak seharusnya melakukan itu, maafkan aku istriku" pelukan Farel semakin erat hingga membuat Zea semakin nyaman untuk terbang ke alam mimpi.