Mafia Penyejuk Hati Season 2

Mafia Penyejuk Hati Season 2
bab 126


__ADS_3

Satu hari menjelang pernikahan Vano semua sudah terlihat jelas persiapan nya terutama dekorasi mewah yang sudah tertata rapi di rumah Vano.


Keluarga Salvatrucha ini memang sengaja memilih rumah Vano untuk acara inti karena jika menyewa gedung pasti tamu undangan tidak cukup disana sedangkan dirumah Vano sendiri sanggup menampung seluruh tamu yang akan datang.


"Sudah bisa ijab qobul belum? Pastikan jangan mempermalukan ku didepan umum" ucap Vino yang sudah menetap sejak tadi malam dirumah Vano mengurus persiapan.


"Alhamdulillah cita cita Vano sejak kecil adalah menikah jadi untuk ijab qobul gampang" jawab Vano tersenyum tipis.


"Cih"


Vino meremehkan mental putranya kali ini karena setiap manusia terutama pria tidak ada yang tidak jantungan ketika semua mata mengarah padanya untuk menyaksikan ijab qobul.


"Maaf tuan ada tamu diluar"


"Suruh masuk bi" ucap Vino.


"Baik tuan"


Keduanya menunggu tamu yang akan hadir itu.


"Permisi tuan maaf mengganggu tapi ada sesuatu yang harus saya sampaikan"


"Duduklah!"


Petugas itu mendudukkan dirinya tidak jauh dari Vano.


"Maaf tuan apa rumah tuan Ethan Wijaya ada disini?" Tanya petugas.


"Ya, kenapa?" Tanya Vano, dia khawatir anak itu melakukan kesalahan.


"Ada yang perlu dia tanda tangani tuan, anda juga begitu dan tuan Farel"


Vano dan Vino saling melirik bingung dengan jawaban petugas itu.


"Ethan keluarlah ada yang mencari mu" ucap Vano dari balik sambungan.


Tak sampai satu menit Ethan keluar dari kamarnya, beberapa hari ini pria itu cukup lelah mengurus persiapan pernikahan Vano.

__ADS_1


"Ya ada apa?" Tanya Ethan meregangkan otot otot nya.


"Tandatangani ini!" Titah Vano.


Ethan mengangguk patuh lalu menandatangani asal lembaran yang diberikan petugas, seingatnya dia pernah memesan bunga segar kemarin.


"Nona Zea dan nona Sarah juga tuan" ucap petugas.


Ethan dengan gaya robotnya kembali kedalam kamar untuk beristirahat sedangkan Vano menghubungi Sarah untuk datang.


"Ada apa tuan Vano?"


"Panggilan biasa"


"Ada yang bisa ku bantu?" Tanya Sarah.


"Tandatangani lembaran ini" jawab Vano menunjuk lembaran dengan kepalanya.


"Ah ya baiklah" Sarah langsung menandatangani lembaran yang diberikan petugas.


"Mereka sedang berada diluar, kenapa kau meminta tanda tangan banyak orang" jawab Vano kesal petugas itu banyak bertanya.


"Baiklah maafkan saya tuan, maaf mengganggu permisi"


"Dasar petugas aneh" gerutu Vano menatap kepergian orang itu.


"Sarah apa kalian sudah mendapat pakaian untuk acara besok?" Tanya Vino.


"Sudah tuan, hari ini saya akan mengantar seluruh pakaian untuk keluarga Ferrero sekaligus berkenalan dengan kakek dan nenek nona Vallen"


"Anak baik, pergilah hati hati dan jangan lupa harus ditemani pengawal"


"Baik tuan terimakasih saya permisi"


Sarah meninggalkan ruang keluarga sedangkan Vano menatap datar abinya ketika Vino cukup perhatian pada wanita lain selain Vira.


"Abi jangan katakan padaku jika kau menyukai Sarah" ucap Vano datar.

__ADS_1


"Hey bodoh kau kira aku laki laki macam apa menyukai gadis sekecil itu" kata Vino ketus.


"Lalu kenapa sangat perhatian padanya abi kenapa?" Tanya Vano mendesak.


"Vano Sarah itu tidak memiliki siapapun, anggap saja dia adik mu"


"Abi yakin tidak menyukainya?" Tanya Vano sekali lagi.


"Dalam kamus Vino Salvatrucha tidak ada yang namanya mendua jika sudah satu cukup satu" jawab Vino tegas.


"Ahh ya ya Vano merasakan itu juga, rasanya hati ini mati rasa dengan perempuan lain" ujar Vano cengengesan.


"Tapi ada satu yang membuat ku ingin waktu ini cepat berjalan Abi"


"Apa?"


"Hari esok kenapa terasa sangat lama" jawab Vano melamun.


"Kau pasti sudah depresi berpisah terlalu lama dengan Vallen, benar kan?"


Huuhh


"Bukan sekedar depresi Abi, sudah hampir gila ditambah keluarga nya yang dari luar negeri datang jadi tidak bisa menemani Vano setiap saat, aah kesal sekali"


"Kau tenang saja beberapa jam lagi dia akan menjadi milik mu, tidak ada yang berani mengambil nya dari mu" ucap Vino menepuk pundak putranya.


"Abi" panggil Vano.


"Ya?"


"Malam pertama itu indah atau tidak?" Tanya Vano dengan polosnya.


Vino sendiri terkejut kenapa tiba-tiba arahnya kesana.


"Unboxing sendiri baru kau mengerti bagaimana rasanya" jawab Vino menggelengkan kepala meninggalkan putranya sendiri dengan segala macam pikiran kotor di otak Vano.


"Tidak tega aku abi, calon istri ku polosnya luar biasa" gumam Vano

__ADS_1


__ADS_2