Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Sejak kapan Gue Jadi Kuyangnya Dia?


__ADS_3

"YA AMPUUUN LAMA BANGET DITUNGGUIN?!!" seru Kalin.


Raksa yang diteriakin ayang sama Kalin jadi bingung sendiri, "Sejak kapan gue jadi kuyangnya dia?!" gumam Raksa.


Raksa yang masih nge-freeze di tempat pun di susulin Kalin, "Deuuh, Ayaaaang lama banget belanjanya! tadi katanya bentar, tapi kok lama, aku jadi bayar sendiri. Tapi kayaknya aku salah pin," Kalin nyerocos aja.


'Ini bocah agak nggak normal gue rasa!' batin Raksa. Sementara Kalin ngedorong trolleynya Raksa menuju kadir, meskipun dia sendiri juga malu dengan kelakuannya saat ini. Tapi nggak apa lah, ntar dihitung utang aja.


'Mbak, yang ini plastiknya dibedain ya! tapi satu struk belanjaan!"


"Heh, heh maksudnya gimana ini----"


"Ssssuuut, maksudnya biar gampang! udah percaya aja sama aku, yah?" serobot Kalin yang menaruh telunjuknya di bibir Raksa.


Raksa yang digituin diem aja, kayak orang yang kena gendam.


Dia menggeleng, mencoba menyadarkan dirinya, "Astaga, ini nggak bener ini!"


"Kartunyaaaaa?" ucap kalin dengan senyum manisnya, semanis gula biang, cmiwiw.


Lagi-lagi Raksa hanya bisa berkedip, dia mengambil dompetnya dengan pasrah tanpa mengalihkan tatapannya pada senyum manis gadis itu.


Kalin mengambil dompet itu, "Yang ini?" dia mengangkat satu kartu milik Raksa.


Raksa cuma mengangguk, Kalin mengarahkan jari pria itu ke mesin EDC.


Srettttttt!!


Berhasil!


"Maaf ini kartunya, Kak!" mbak Kasir ngasihin struk beserta kartu atm milik Raksa. Kalin masukin kartu itu ke dalam dompet dan ngmebaliin ke tangan Raksa lagi, "Punya kamu, Yang?"


Raksa yang kini mengantongi dompetnya lagi pun baru menyadari kalau sekarang dia abis dipaksa bayarin tuh belanjaannya bocil. Kalin buru-buru ambil belanjaannya pakai trolley.


"Heh, bocill...!" teriak Raksa yang juga mengejar Kalin dengan menndorong trolleynya.


"Upsss, maaf!" ucap Kalin saat dia hampir menabrak sepasang kekasih.

__ADS_1


"Hati-hati dong, Deeeeeeekkkkk?!!" suara si cewek meninggi.


"Aduuuuuh, Ayaaaaang?!! hati-hati dong kalau bawa trolley belanjaan...?! kan hampir bikin celaka orang...?!" Raksa menarik lengan bocah yang masih pakai seragam sekolahnya.


"Maaf ya Mas, Mbaaaak..." kata Raksa.


Pasangan itu pun pergi tanpa ngerewes Kalin maupun REaksa yang lagi pura-pura jadi pasangan, ya pasangan amburadul.


Kalin baru aja mau kabur, tapi Raksa berhasil mennagkap batok kepalanya, "Heh, bocil mau kemana? hah?"


"Selesai ngegasak kartu ATM gue sekarang mau kabur aja, enak banget yaaaaa?" lanjutnya


"Sorry, anggap aja tadi gue ngutang. Ntar gue bayar kalau ketemu lagi," kata kalin yang berbalik badan dan memamerkan wajah memelasnya.


"Ngutang-ngutang, gue kagak ngutangin?! dikira gue bank berjalan apa?" kata Raksa, yang mendadak inget dengan kata itu.


"Sekarang, temenin gue makan! gue laper!" kata Raksa yang menarik Kalin ke dalam sebuah restoran.


Dan disana, raksa duduk sembari memesan makanan buat dua orang tanpa nanya dulu Kalin mau mesen apa.


Gadis yang cantik dengan rambut panjangnya yang lurus itu pun hanya bisa menghela nafas panjang, iseng dia pun melihat jumlah saldo yang ada di m-bankingnya.


'Astagaaaaa, tinggal 100 ribu? pantesan aja buat bayar nggak mau. Lha wong duitnya aja kurang banyak?!' batin Kalin yang shock dengan kondisi keuangannya saat ini.


Dan Raksa pun selesai memesan, dia melihat Kalin yang sibuk dengan hapenya. Keningnya nampak mengerut kayak orang yang lagi mikir keras.


"Heh...!!" Raksa manggil Kalin.


"Hah heh hah heh, gue punya nama?!"


"Oke, Kalin...!" sambung Raksa, sedangkan Kalin melomngo saat Raksa memanggil namanya.


"Nama lo Kalin kan? atau Rusmiyanti?"


"Kalin lah, Kalin Auristela...! jangan gonta-ganti nama orang seenak jidat lo, yakk? nama gue tuh ada sejarahnya!" kata Kalin nggak terima.


"Gue tau gue salah, anggap aja tadi gue ngutang. tenang aja ntar gue transfer ke nomor rekening lo!" Kalin dengan harga dirinya yang berusaha dia pertahankan, "Gue terpaksa, karena gue---"

__ADS_1


Raksa cuma bisa ketawa sinis, sambil ngelipet tangan di dadanya, "Belanja tapi nggak bawa duit?"


Pria tampan itu mengeluarkan hapenya, mereka.


"Mazzeh Mazzeh! Raksa, nama gue Raksa..."


"Apa? Raksasa?" Kalin memutar bola matanya.


"BUKAN RAKSASA TAPI RAKSA, jangan suka nambah-nambahin nama orang?!!" Raksa ngotot, beberapa pengunnjung ngeliat ke arah mereka.


Raksa melanin suaranya, "Diem dan jangan bikin gue emosi,"


Kruuuuuukkkkk!!!


Perut Kalin bunyi berbarengan dengan makanan yang dateng. dan beberapa saat kemudian, bunda nelpon. karena mungkin khawatir dengan Kalin yang nggak kunjung balik.


"Ya, Bunda? iya iya, udah dapet semuanya. Iya Kalin ini mau pulang..." kata Kalin cepat. Dia segera mengantongi hapenya lagi dan pamit pergi.


"Gue duluan, tenang aja gue bakalan bayar belanjaan tadi..." Kalin dengan jurus seribu langkah langsung ngibrit dan ngedorong trolley-nya menjauh dari Raksa yang gagal mengejar gadis nakal yang selalu mencari masalah dengannya.


"Dasar bocah setaaan...?!!" gumamnya saat kehilangan jejak Kalin.


Sementara Kalin yang lari-lari dengan trolley, ngos-ngosan begitu sampai dio mobilnya, "pak Abdulh, bukaah pintunyaaaah,"


Pak Abdul yang lagi leyehin kursi mobilnya pun kaget ngeliat Kalin yang muncul dengan napas yang pendek-pendek, "Iya, Mbaak?!!"


Pak Abdul keluar dan bantuin naruh belanjaan di bagasi sebelum akhirnya Kalin nyuruh pak Abdul buat tancap gas. Dia takut kalau Raksa ngejar dia, soalnya kan tadi dia main kabur aja gitu.


Sementara Kalin yang udah pergi dengan mobilnya, Raksa mau nggak mau balik lagi ke mejanya dan bilang, "Maaf, semua makanan ini di take away aja?!"


Raksa minta kalau makanannya dibungkus aja, nggak selera makan juga dia kalau makan sendirian. Makanya kalau di kantor, dia suka ngelewatin jam makan siang kalau emang lagi sibuk dan nggak ada yang ngajak buat ngantin.


"Ini, Kak..." salah satu pelayan memberikan makanan yang baru aja dihidangkan tapi malah minta dibungkus, sungguh pelanggan yang bikin kesal.


Raksa menghentikan seruputan di minuman dinginnya, dia lalu membawa pergi makanan itu setelah membayarnya.


"Awas aja kalau ketemu lagi, gue jitak ubun-ubunnya!" gumam Raksa dengan perasaan dongkol.

__ADS_1


__ADS_2