Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Berpisah Untuk Sementara


__ADS_3

Saat semua orang disuruh makan, tidak dengan pengantin. Mereka berdua disuruh foto. Dan semua itu atas perintah kedua ibu tang menginginkan anaknya akan bertabur kebahagiaan setelah ini.


"Yang mesra sedikit, Mas Mbak..." katansi fotografer. Saat mengarahkan kedua pengantin itu foto di kamar pengantin.


"Ya ampun yang mesra gimana sih?" Kalin geleng-geleng kepala melihat apa yang diingi nnkan si fotografer.


"Tatapan mesra, Mas! Mbak, yuuukkk? 1 ... 2


.. 3!"


Raksa menarik tengkuk istrinya dan menciumnya.


Cekrekk!


Sementara Kalin yang mendapat sosoran mendadak pun kaget.


"Ya, tahan! tahan!" ucap si fotografer.


"Lebih menghayatiii," lanjutnya yang langsung bergerak dengan lincah mengambil angle dari berbagai sudut dengan bantuan cahaya lampu yang membuat foto itu akan semakin memukau.


"Kendalikan ekspresi wajah lo, Kalin! jelek nanti foto kita!" ucap Raksa saat memberi jeda Kalin untuk bernafas.


"Yaaa, sedikit lagiiii! good!" ucap si fotografer tang bagaikan cicak, bisa menempel dimana pun untuk mengambil jepretan yang diinginkan cliennya.


"Okee! done! bagus!sekarang tinggal foto sama keluarga, ya?" ucap si fotografer yang keluar dari kamar, karena sepertinya kedua pengantin itu masih berakting meskipun dia sudah bilang cukup.


Kalin mendorong dada suaminya saat si tukang foto sudah nggak ada di ruangan itu.


"Ihhhh, main nyosor aja sih? apa kata abang potonya tadi, coba?!" Kalin protes.


"Tadi nggak denger dia bilang bagus? ck, lo tuh harusbya berterima kasih sama gue, karena gue kita bisa punya foto yang bagus!" ucap Raksa.


"Dih---"


"Astagaaa, kalian ini! baru sehari menikah sudah bertengkar. Sekarang ayo keluar, kita foto bersama-sama!" ucap bunda.


Kalin pun mengikuti bundanya, beruntung lipstiknya nggak blepotan, hanya ada bekas di bibir Raksa sedikit.


Pria itu melihat wajahnya dulu dikaca, dia menghapus bekas lipstik Kalin sebelum menyusul mereka yang sudah berkumpul di ruang tengah.


"Akhirnya mantuku keluar juga!" kata ayah Diki yang disambut tawa yang lain.


"Ayo sini!" ucap pak Hendra menyuruh Raksa untuk siap-siap memposisikan dirinya.


Cekrek!


Cekrek!


Foto mereka dengan berbagai gaya pun terjepret.


Dan bersamaan dengan jepretan yang terakhir tiba-tiba...

__ADS_1


Kruuuukkk!


Bunyi lambung Kalin membuat semua oeang memandangnya.


"Astagaaaa, saking lamanya berfoto, istrimu sampai kelaparan begini, Raksa?!" celetuk bu Selvy.


Sedangkan Kalin sendiri, pipinya memerah karena malu.


"Kamu lapar, Sayang?" tanya Bunda.


"Makannya cuma sedikit Bun tadi pagi!" ucapnya lirih.


"Sudah banyak foto yang bagus kan, Mas?" tanya bu Selvy.


"Banyak, Bu!"


"Oh ya sudah. Sini, Sayabgku! hemm, mantuku yang imut, kok ya bisa sampe kelaperan!" ucap bu Selvy yang gemas.


Sedangkan Raksa hanya melihat Kalin dikerubungi wanita-wanita yang sangat menyayanginya.


"Raksa? ngapain kamu disitu? sini tho yoooooo!" bu Selvy gemas.


"Sini tho yooo, bang Raksaaa!" ledek Nova.


"Awass kamu Novaaa, aku pites kamu nanti!" ancam Raksa, tapi adiknya itu hanya menjulurkan lidahnya, nggak peduli.


"Sini kamu juga duduk, makan dengan tenang!" kata bu Selvy menyuruh anaknya yang duduk di samping wanita yang sudah sah menjadi istrinya.


"Mbok? tolong buatkan kopi untuk fotografernya. Jangan lupa ambilkan jajanan basah," kata bunda.


"Saya bantuin, Jeng!" ucap bu selvy.


Sementara Nova masih duduk menatap kedua insan yang baru saja ijab qobul.


"Ck, ck ck, gue nggak nyangka loh. Kakak ipar gue, sahabat gue sendiri!" celetuk Nova.


"Nov! ini sambel baladonya lumayan pedes loh. Jangan bikin abang khilaf jejelin mulut lo satu centong!" Raksa menunjukkan sambel ati kentang yang ada di dalam wadah debgab mebggunakan sendok besar.


"Ih, atuuuut! hahaha," Nova malah ketawa.


"Karena kalian udah sah! jadi, lo nggak usah khawatir, ada orang lain yang mengganggu bang Raksa, Lin!" Nova keceplosan.


Mata Kalin membulat.


"Ups!" Nova menutup mulutnya.


Sedangkan Raksa melihat Kalin yang mulutnya menyimpan nasi.


'Kenapa? jadi? dia khawatir kalau gue diambil orang? hem, lucu banget muka lo Kalin kalay lagi kaget kayak gini!' batin Raksa.


Sedangkan Nova belingsatan karena dapet tatapan mematikan dari sahabat sekaligus kakak iparnya, "Gue ke depan dulu. Mau nyapu?!"

__ADS_1


"Emang lo khawatir apaan?" tanya Raksa yang kemudian menatap istrinya yang cantik dengan sanggul modern nya.


"Khawatir? nggak ada! siapa juga yang khawatir?!" Kalin mengelak.


Tapi dalam hati Raksa tau kalau gadis yang ada di sampingnya ini sedang berbohong.


"Tenang aja, gue seutuhnya udah milik lo dan cuma milik lo kok, mau diapain gue juga pasrah!" Raksa naikin alisnya.


"Dih? apaan?" Kalin geleng-geleng kepala ngeri ngeliat muka Raksa yang penuh maksud tertentu.


Hari ini sengaja Raksa nggakau diganggu dengan panggilan dari siapapun. Apalagi dari kantor.


Karena dia ingin melewati hari ini dengan keluarganya.


"Jadi gimana?" tanya bu selvy.


"Kalin ikut kami atau?"


Bunda Lia tampak enggan melepas anaknya, dia memeluk Kalin dengan wajah memelasnya.


"Bun, Kalin kan sudah punya keluarga baru. Dan sekarang tanggung jawab ayah sudah berpindah sama Raksa," kata ayah mengingatkan ada istrinya.


"Tapi Bunda belum siap,"


"Nggak apa-apa, Yah! untuk sementara, biar Kalin tidur disini. Nanti Raksa yang pindah kesini nggak apa-apa, sembari menunggu kita berangkat!" ucap Raksa yang memantik simpati dari mertuanya.


"Oh gitu? ya sudah kalau itu keputusannya," ucap ayah Diki.


"Tapi saya ijin untuk hari ini pulang ke rumah, Yah! karena ada urusan yang belum selesai. Besok baru saya kesini," kata Raksa.


"Ya ya, ayah paham soal itu. Baik, pebgantin harus berpisah dulu untuk sementara waktu. Kamu yang sabar ya, Kalin..." kata ayah menggoda putrinya.


Lepas ashar, keluarga Raksa pulang. Membawa serta pengantin pria yang harus meninggalkan istrinya untuk menyelesaikan urusan yang masih tertunda.


"Gue pulang dulu! besok gue mau urus resign, nanti siang atau sorean gue baru kesini lagi!" kata Raksa sebelum meninggalkan Kalin.


Cup!


Dia mengecup pucuk kepala istrinya


"Gue pergi..." ucapbya tanpa sahutan dari Kalin yang ditinggalkan di kamar pengantinnya.


Sedangkan Raksa menyalami ayah dan bunda, lalu dia masuk ke dalam mobil bergabung bersama keluarganya.


"Emangnya apa lagi yang harus diurus, Raksa?" tanya bu Selvy.


"Ya, ada aja lah, Bu! Raksa kan harus ngurus surat resign!" kata Raksa.


"Oh iya yah!" bu selvy manggut-manggut.


Sedangkan pak Hendra melihat anaknya yang menyetir, seperti menyimpan sebuah masalah yang dia pendam sendiri.

__ADS_1


"Pokoknya meskipun kamu sudah menikah, kita ini masih keluarga kamu, Raksa! Kamu bisa mengandalkan bapak dan ibuk..." kata pak Hendra.


"Iya, Pak! nanti kalau Raksa butuh uang banyak, nanti aku labgsung minta bapak buat transfer!" seloroh Raksa.


__ADS_2