
Semua hal berat sudah Kalin lewati, besoknya dia berangkat lagi ke Manchester dan Kali ini dia nggak pulang selama kurang lebih tiga setengah taun untuk mengejar S1 bisnisnya.
Dan alangkah kagetnya saat Raksa kembali ke rumah sewaanya, tangganya yang waktu itu sempat di teror orang yang menyamar menjadi Arvin ternyata sangat peduli karena begitu penjahat itu pergi dari rumah Raksa dan Kalin, si tetangga ini ternyata aware banget dengan keadaan rumah sewaan itu yang kebetulan kuncinya masih nempel di pintunya. Akhirnya tetangganya itu masuk dan ngunci runah itu dan memberikannya setelah Kalin dan Raksa kembali kesana.
Ibarat kata, kita melakukan kebaikan pada orang lain, kita kadang nggak dapet balasan langsung dari situ, tapi bisa jadi kita diberikan kebaikan dari orang lain lagi yang nggam disangka sebelumnya.
Kehidupan mereka berdua sangat normal sebagai pasangan suami istri, hanya saja Raksa tetap pada pendiriannya buat ngejagain Kalin supaya nggak kebobolan. Raksa nggak mau konsentrasi Kalin terbagi menjadi dua antara ngurus anak dan kuliah. Meskipun saat itu ada pertentangan batin untuk Raksa karena dia harus bisa menjinakkan keinginannya yang menjurus pada kegiatan berkebun, eta pikir sendiri wae lah!
Usia makin bertambah, garis ketampanan Raksa makin kuat.
Di usianya yang menginjak 31 tahun membuat aura dewasanya makin bertambah.
"Mang? nanti malem aku ada acara,"
"Acara apaan?" tanya Raksa saat menyiapkan sarapan buat dirinya dan juga Kalin. Meskipun telinganya gatel saat Kalin udah manggil dia Mamang.
"Bukannya kemarin udah wisuda? harusnya udah nggak perlu konsul-konsul dosen lagi, dong?" ucap Raksa.
"Sop nya udah jadi," lanjutnya yang menyuruh Kalin buat duduk.
"Temenku ngadain pesta,"
"Orang yang waktu itu ngide buat bikin summer camp itu?" tanya Raksa.
"Bukan, ini beda orang. Ini kayak acara prom waktu SMA, jadi yangbijut yang kemarin ikut wisuda aja..."
"Apalagi bukan temen sekelas, kayaknya aneh banget kamu mau ikut acara begituan? inget Kalin kita bakal pulang dalam waktu dekat ini. Aku udah jagain kamu lebih dari 3 taun disini, jangan sampai kejadian yang waktu di summer camp terulang lagi," kata Raksa.
"Iya aku tauuu," Kalin memanyunkan bibirnya dan segera dikecup Raksa.
"Makan dulu, sop nya keburu dingin!" lanjutnya.
Mereka sarapan dengan nasi dan sop daging. Sebelum berangkat kerja, Raksa pasti masak. Dia nggak mau ngelewatin moment sarapan bersama istrinya.
"Oh ya? kita bisa perpanjang waktu disini dulu, nggal?"
"Buat apa?" tanya Raksa.
"Buat menikmati waktu berdua lah. Apalagi kemarin kan ada ayah sama bunda yang ikutan nginep disini," ucap Kalin.
__ADS_1
"Jangan kira kamu bisa ngerayu aku supaya bisa ikut acara itu. Jawabanku tetap nggak!" kata Raksa.
"Kamu mau ke kampus nggak?" Raksa yang melihat wajah Kalin yang tadi sumringah, sekarang datar.
"Kalin?"
"Iya mau ke kampus!" sahut Kalin yang mulai menikmati sop iga buatan Raksa. Meskipun mereka tinggal di luar, tapi apa yang mereka makan rata-rata makanan Indonesia kecuali kepepet dan lagi males masak.
Setahun terakhir, mereka memilih untuk menyewa rumah yang jaraknya lebih dekat lagi dengan kampusnya Kalin maupun tempat kerjanya Raksa.
Pemilik kedai susu, menepati janjinya untuk nggak memecat Raksa. Tapi untuk bangun setiap pagi dan mengayuh sepeda di pagi buta seperti itu membuat Raksa menyerah. Dia pernah mengalami hipotermia saat cuasa udah mulai musim dingin. Jadi diputuskan dia pemanen resign dan hanya bekerja di salah satu restoran mcepat saji. Ya itung-itung buat makan dia sehari-hari. Kalau uang jajan sih, Kalin masih tetep dijatah sama ayahnya. Dan itu urusan Kalin, Raksa ngak mau terlalu ikut campur.
"Hati-hati, kalau mau pulang kabarin aku!" kata Raksa yang mencium kening Kalin sebelum gadis itu pergi masuk ke dalam kampusnya.
Dari kejauhan Raksa memandangi gadis yang kini bergabung dengan para mahasiswa yang kebetulan lewat.
"Kayaknya baru kemarin lo gue anterin buat pertama kalinya buat kuliah disini. Sekarang lo udah selesai juga, akhirnya kita bisa hidup dengan semestinya," gumam Raksa.
Pria itu kemydian pergi menjauh, dia berjalan menuju tempatnya bekerja.
Sudah jelas dari tampang Raksa yang nggak ada bule-bulenya, para customer pun tau kalau orang yang melayani mereka bukan warga asli sana.
Raksa kembali bekerja, dia membersihkan beberapa meja yang baru saja ditinggalkan pelanggan.
Suasana resto sangat ramai yang didominasi para mahasiswa yang baru pulang dari kampus.
Raksa ngak habis pikir sama Kalin yang masih mauenunda kepulangan mereka ke Indonesia, padahal dia pulang itu ya ada tujuannya. Dia pengen membina rumah tangga yang seharusnya dengan Kalin. Memiliki rumah dan anak mungkin. Dan permintaan Kalin untuk stay 1 sampai 3 bulan disini diluar logika Raksa.
Tanpa disengaja, saat dia berbalik dia menabrak seseorang.
"Raksa?" tanya seorang wanita.
"Rahmi? kamu disini? ngapain?" Raksa dengan kening yang mengerut.
Rahmi cuma tersenyum, "Kamu ngapain disini, Raksa?"
Rahmi memilih salah satu bangku, Raksa mengambilkan pesanan wanita itu.
"Jadi apa yang membuat kamu datang kemari?" tanya Raksa yang kebetulan jam kerjanya hampir habis.
__ADS_1
"Aku nggak sengaja, Sa. Aku aja kaget kenapa bisa ketemu kamu," ucap Rahmi.
"Terus?"
"Aku tau kamu marah sama aku, Sa. Dam aku. minta maaf kalau selama ini aku menempuh jalan yang salah buat dapetin kamu lagi. Aku nyesel dan aku udah mencoba mencari kamu, bahkan Farid nggak mau kasih bocoran apapun tentang kamu..." ucap Rahmi.
"Ya memang aku yang menyuruhnya buat tutup mulut.
"Aku pengen hidup tenang, Mi..." lanjutnya.
"Ya, aku tau, Sa! aku tau banget, karena aku pun sudah berusaha memulai kehidupan yang baru," kata Rahmi.
"Aku udah menikah, Sa!" ucap Rahmi yang menunjukkan jari tangannya.
"Kamu ngak bercanda, kan?"
Rahmi menggeleng, "Nggak sama sekali. Aku beneran udah nikah, Sa..." dia dengan senyuman seadanya.
"Oke, selamat ya? aku turut bahagia,"
"Aku udah menghapus semuanya, Sa! jadi kamu nggak usah khawatir, karena udah nggak ada lagi vidio yang waktu di kantor," kata Rahmi.
"Oh gitu? harusnya kamu nggak melakukan itu, Mi.Tapi ya udahlah, yang penting sekarang kamu udah sadar.
"Aku pergi ya, Sa? suamiku udah nunggu di cafe yang sana. Aku kesini karena pengen banget makan ayam! mungkin karena bawaan deek bayi!" ucapnya mengelus perutnya.
"Kamu hamil?"
Rahmi menganggu, "Iya, baru 4 bulan,"
"Selamat ya?" ucap Raksa.
"Bolehkah aku memelukmu sebentar? anggap saja kamu menuruti keinginan ibu hamil,"
"Tentu!"
Raksa memeluk Rahmi, namun sayangnya ada seseorang yang datang kesana dan melihat Raksa dengan tatapan kecewanya.
"Rahmi?" gumamnya.
__ADS_1
Kalin pun berbalik dan meningalkan tempat itu.