
Raksa yang dapet tugas mulia, mempersatukan sepasang suami istri yang lagi ngambekan pun dapat privilage buat pulang cepet. Dia udah chat-chat an sama Kalin, buat ngejemput dia di rumahnya. Soalnya tuh bocah udah pulang dari jam 12 siang.
Cincin berlian udah dikasih kan sama pak Tomi, dia ngangguk dibilang suka sama model cincinnya. Tapi ada satu hal yang ganggu banget pikiran Raksa. Hari ini ada satu kotak makanan yang ngejogrog lagi di meja Raksa. Kali ini kotaknya beda warna.
Dalam hatinya Raksa bertanya-tanya, 'Siapa yang naruh kotak makanan ini?'
Karena ngerasa itu kotak bukan miliknya dan dia juga nggak tau siapa pemiliknya, ya Raksa nggak mau menyentuh apalagi memakannya. Pokoknya didiemin aja udah tuh kotak, digeser pun nggak.
Dan seperti biasa, Farid ngajakin ngantin tapi Raksa nolak dengan alasan yang sama, banyak kerjaan. Kalau ini emang bener, karena dia sendiri mau pulang cepet nanti jam 3 an. Padahal hal lain selain pekerjaan yang membuat Raksa ogah buat makan siang yaitu ketemu sang mantan.
Roti dan juga soy milk datang lagi dengan nama pengirim Farid, Raksa jadi agak-agak bingung. Ngapain tuh orang beliin dia minuman dan juga roti yang harganya juga lumayan mahal lah.
'Dia pengen bikin gue ngutang secara nggak sadar apa gimana sih?' batin Raksa saat menerima bungkusan itu dari mas Pay, salah satu Ob di kantor.
Beda sama yang pertama, karena ngerasa cukup aneh, Raksa pun mencoba kirim WA ke nomornya Farid.
Ngapain lo kirim soy milk?
Jepreeettt.
Raksa sekalian kirim foto kiriman yang dia terima.
Farid lagi online, tapi belum ngebales. Mungkin dia buka WA nya di pc jadi bisa sekalian kerja.
"Kok belum bales?" Kepala Raksa kemudian nongol, dia ngeliat kubikelnya Farid.
Karena penasaran dia samperin meja kerja temennya itu.
"Farid kemana?" tanya Raksa pada salah satu teman yang duduk disamping kubikelnya Farid.
"Tadi sih bilangnya mau ke toilet!" ucap salah satu cowok yang ada disana.
Nungguin lama tapi nggak muncul-muncul, akhirnya Raksa balik lagi ke meja kerjanya dan siap-siap mau balik. Dia beresin meja sebelum pergi dari sana.
Raksa sengaja nggak bawa tas kecil yang biasanya dia slempangin di bahunya, dia cuma bawa dompet dan juga jaket. Itu pun jaket dia taruh di loker.
__ADS_1
Saat pria itu masuk ke dalam lift, pak Tomi nelfon. Cuma nggak keangkat, gara-gara tuh orang ngelamun mikirin siapa pengirim kotak makanan dan juga soy milk, masa iya Farid kan aneh banget, secara Farid itu cowok. Geli juga kalau Farid terlalu perhatian kayak begonoh, pikir raksa.
Begitu sampai basement, Raksa baru sadar kalau daritadi hapenya berdering.
"Ya, halo, Paaak?" Raksa dengan tenng.
"KENAPA DARITADI TELPON SAYA TIDAK KAMU ANGKAT RAKSAA?!"
"Maaf, Pak! tadi ribet mau keluar lift,"
"Astagaaaa!! bikin kesal saja!" umpat pak Tomi.
'Kalau bukan atasan, males banget gue bantuin!' Raksa ikutan ngumpat dalam hatinya.
"Jangan lupa, malam ini harus dibuat se-perfect mungkin! saya nggak mau ada some trouble yang bikin istri saya ngambek lagi!" pak Tomi sok inggris.
"Iya, pak!"
Dan tut tut tut
Pria yang jauh lebih tua dari Raksa itu pun menutup telponnya. Raksa cuma bisa berdecak kesal, dan ngantongin hapenya lagi dan dia melesat tanpa tau ada sosok wanita yang ngikutin dia dari lift depan sampai ke basement tadi.
Sebenernya obat orang laper itu ya makan, tapi Raksa sekarang lapernya udah tahap perih jadi dia melipir lah ke apotek buat beli obat magh. Lumayan, sekali tenggak udah adem tuh perut.
"Kayaknya gue makin berumur, makin banyak penyakitnya!" gumam Raksa saat naik motornya lagi, dengan perut yang kurang nyaman.
Secara gentle, Raksa datengin rumah Kalin. Dia sempet beli kue gitu buat ngisi tangan. kata bapaknya, kalau bertamu ke rumah orang jangan bawa tangan kosong, nanti dikira mau ngajak pencak silat. Ya gitu gitu lah, kebiasaan yang diterapkan di rumah Raksa, masih menjunjung tinggi norma kesopan santunan. Kata bapaknya, jangan sampai dunia yang makin modern dan canggih, merubah nilai budaya sopan santun kita sebagai bangsa yang adiluhung.
Dengan satu box kue di tangannya, raksa memencet bel rumah Kalin.
Turun, gue ada di depan rumah. cepet buka pintunya!
Kling
Raksa kirim WA pada kalin dan langsung centang biru, yang artinya pesan itu udah dibaca sama yang bersangkutan dan kalin langsung balas iya.
__ADS_1
Ceklek!
Pintu perlahan terbuka, namun bukan Kalin yang ngebuka melainkan pembantu yang ada di rumah itu.
"Permisi, saya mau ketemu sama Kalin..."
"Siapa, Bikk?" suara bunda Lia dari arah dalam yang jalan ke arah depan.
"Raksa?" bunda ngeliat calon menantunya yang nongol di depan pintu.
"Ayo masuk, masuk!" bunda Lia dengan ramah menyambut kedatangan Raksa.
Raksa ngasihin kue yang ada di tangannya, "untuk Tante..."
"Waaah, makasih loh! tau aja Tante suka cake rasa tiramissu?" bunda Lia menerima box itu dengan wajah yang senang.
"Mau ketemu Kalin ya? duduk dulu, Nak!"
"Biik? panggilin Kalin, bilang kalau Raksa mau ketemu!" bunda Lia nyruuh pembantunya buat naik ke lantai atas.
"Raksa udah Wa Kalin kok, Tante...." ucap Raksa.
"Oh ya, sekalian mau minta ijin Kalin buat pergi," Raksa pun kemudian menjelaskan kemana dia akan membawa Kalin sore ini, dan untuk keperluan apa.
"Ya udah, nggak apa-apa! lagian, kalian kan memang harus sering berdua, biar chemistrynya cepet nyambung. tante malah seneng loh!" kata bunda Lia.
"Ehm, tapi nanti selama Kalin ujian, saya janji nggak akan ngajakin kalin keluar. Biar dia fokus belajar..." Raksa menambahi.
"Belajar apa? dia tiap hari juga udah belajar! Kalin itu anak pinter, sekali baca aja udah paham tuh isi buku. Jadi kamu nggak perlu khawatir. Dia calon ibu yang baik buat anak-anak kamu nanti, dari bibit bebet bobot nya aja udah luar biasa," bunda Lia memuji anaknya sendiri.
"Tante malah khawatir kalau dia terlalu sering belajar, yang ada di otak dia cuma rumus dan hafalan!" lanjut bunda LIa.
"Nah itu, Kalin..." bunda Lia yang ngeliat kehadiran anaknya.
"Udah siap, kan?" tanya Raksa, Kalin yang ditanya pun ngangguk.
__ADS_1
"Udah,"
"Ya sudah, Tante. Kami pamit..." Raksa berpamitan pada bunda Lia begitu juga dengan Kalin. Bunda hanya berpesan supaya mereka sudah pulang sebelum jam 9 malam. Dan hal itu disanggupi Raksa sebelum mereka melesat meninggalkan rumah kalin dan mulai perjalanan menuju sebuah restoran.