Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Berubah


__ADS_3

Beberapa kali Raksa mengirimkan pesan lewat chat What's up tapi Kalin selalu mengabaikannya, dia nggak pengen menyentuh hapenya barang sedetik. Matanya masih terpaku pada layar.


Orang-orang datang dan duduk di kursi sesuai dengan tiket yang dipegang, kecuali Kalin. Dia memang sengaja duduk di tempat yang sama. dia nggak pengen pindah-pindah.


"Emang filmnya sedih, ya?" tanya seorang cewek yang disuruh ikut sama cowoknya.


"Nggak lah! action, kok!" jawab si cowok.


Sedangkan Kalin nggak mau peduli dengan anggapan orang tentang dirinya, yang jelas hati ini sakit. Bahkan lebih sakit daripada diputusin sama Reno. Karena bagaimanapun, dia cuma ngeliat Reno boncengan sama Melody, nggak lebih. Hanya pengakuan Reno lah yang membuatnya sakit hati dan kecewa, karena udah terlalu royal pada cowok itu. Tapi kali ini yang bikin Kalin nangis nggak kunjung berhenti, saat dia melihat bibir yang sama juga menempel pada yang lain.


"Gue pikir cuma gue, ternyata nggak! lo sama aja kayak cowok yang lain! dasar munafik!" ucapnya di tengah isakannya, suaranya kini lebih parau.


Air mata terus saja mengalir, padahal matanya sudah lelah menatap layar super besar itu. Karena matanya ternyata nggak bisa menatap layar lebih dari 3 jam, Kalin memilih untuk pergi dari sana, meskipun film kedua belum selesai diputar. Matanya yang sembab menjadi perhatian beberapa orang.


"Gue mau maskeran, biar pulang mata gue udah mendingan!" ucap Kalin yang udah ngeliat kalau hari udah mulai sore. dan dia pasti dicariin setelah ini.


Kalin masuk ke dalam salah satu klinik kecantikan yang ada di mall itu,"Saya mau maskeran, Mbak! hiks..." Kalin ngomong sembari menahan tangisnya.


"Iya iya, Kakak! maaf ya, kakak pengen banget maskeran di sini sampai-sampai menangis begini, ya? iya iya lumayan kosong kok, kakak boleh masuk. Tapi maaf sudah punya member belum ya?" tanya admin klinik.


"Belum, Kak... huhuhu," Kalin nangis.


"Eh maaf, saya salah nanya lagi ya, Kak? maafin saya, ya?" ucap si pegawai magang, dia takut dipecat karena membuat customernya menangis.


Kalin pun menjawab apa saja yang ditanyakan padanya dengan linangan air mata, hidungnya kembang kempis. Dia sedang sakit hati.


Setelah membayar dan membuat kartu member, Klain pun masuk untuk di bersihkan wajahnya. Dia minta di masker juga untuk di bagian kantung matanya yang keliatan cekung. Sementara dia mengabaikan semua chat What's up kecuali dari bundanya. Dia balas pertanyaan bunda yang khawatir, Kalin kenapa-napa karena seharian pergi dan belum pulang-pulang.


Gadis itu sungguh membuat bundanya kalang kabut, dia sampai menelepon Raksa untuk mencari Kalin. Tapi setelah mendapat jawaban dari anaknya, lantas bunda bilang pada Raksa kalau Kalin sudah membalas, dan dia sekarang lagi melakukan perawatan wajah. Kalin alasan, karena kemarin habis di make up tebal, kulitnya terasa belum bersih padahal sudah memakai pembersih muka. Dia takut jerawatan. Sebuah alasan yang masuk akal bagi bunda.


Sementara Raksa yang habis ditelfon bunda Lia pun akhirnya bisa bernafas lega,"Untung nggak ilang lagi!" ucapnya dengan perasaan yang sangat lega.


"Tapi kenapa dia kesini, tapi nggak nelfon gue? kenapa? apa iya karena mau secepatnya ngebersihin muka di klinik kecantikan? sejak kapan dia begitu aware sama penampilan?" Raksa terus saja bergumam.

__ADS_1


Tanpa sadar ada yang sudah mengetuk pintu ruangannya.


"Ya masuk!" ucap Raksa yang membereskan barang-barangnya lagi dan mengumpulkannya pada satu box.


"Astaga, gimana aku bawanya?" gumamnya lirih.


"Ada apa, Pak? kenapa bapak mengemasi barang-barang? apa bapak dimutasi lagi? tanya Rahmi mencoba formal. Dia mencoba profesional.


"Tidak ada apa-apa!" kata Raksa.


Beruntung dia sudah menyelesaikan oper meng-oper pekerjaan. Nggak tau lah nanti reaksi paka Galang gimana, yang jelas akhirnya dia merasa dunianya bisa kembali.


Sudah jam 5 lewat, dan itu artinya mereka berdua sudah di luar jam kerja yang seharusnya.


"Kamu mau kemana, Sa? kenapa beresin barang-barang?" Rahmi mencoba merebut paksa barang yang ada di tangan pria itu. Sepertinya dia masih mencari barang yang lain, selain bingkai foto yang sudah berpindah pada Rahmi.


"Suni balikin, Mi?!" Raksa meminta jembali bingkai foto itu.


"Nggak sebelum kamu bilang sama aku, apa yang kamu cari dan kenapa semya barang ini kamu masukin ke dalam kardus? bukannya kamu baru naik jabatan beberapa hari ini? kayaknya mustagil kamu dilempar lagi ke divisi lain!" Rahmi nyerocos, dia marah karena sedari tadi dicuekin.


Hati Rahmi seketika berdenyut nyeri.


Sreet!!


Raksa merebut paksa barabg miliknya dari tangan Rahmi, "Gue udah minta baik-baik! jangan bikin gue bersikap kasar!"


Namun...


Tes ... tes...


Darah mengalir dari ujung jari Rahmi yang terbeset.


"Maaf, gue nggak sengaja. Lebih baik lo keluar dari sini, karena jika kita terus bersama, kita hanya akan saling menyakiti satu sama lain! hubungan kita sudah berakhir, kamu yang mengakhirinya. Kamu jangan lupa itu!"

__ADS_1


"Makanya aku pengen kita bisa balikan lagi!"


"APA YANG BISA DIBALIKIN? APAAA? SETELAH LO SEENAKNYA BIKIN KEPUTUSAN SUPAYA KITA PUTUS, SEKARANG LO MINTA KITA BALIKAN LAGI? BALIKIN LAGI CINTA YANG UDAH GUE HAPUS DARI HATI GUE? IYA? HEMM?" Raksa mencengkram kedua bahu Rahmi.


"Aawwwk! sakit, Sa!"


"Shiiittt!" Raksa melepaskan Rahmi begitu saja. Dia lepas kontrol.


"Denger ya, Rahmi? kita udah selesai. Lo yang menginginkan semua ini, sekarang gue pengen lo menjauh dari kehidupan gue. Karena sekarang gue---"


"Sekarang apa?" tanya Rahmi dengan mata yang berembun.


"Sekarang gue udah nggak cinta sama lo, Mi!" ucap Raksa tegas.


Deg


Deg


Pyar!!!


Seakan sebuah hati kaca yang sudah Rahmi jaga buat Raksa kini kena hantaman dan pecah seketika.


"Tapi aku masih cinta sama kamu, Sa! aku emang salah. Aku salah waktu aku mutusin kamu. Aku nggak berpikir jernih! aku..."


"Aku udah memohon kamu buat merubah keputusanmu..."


"Dan sekarang aku mau merubah itu, Sa? aku akan nurut, aku bakal diam di rumah dan kita bisa bangun keluarga yang utuh," Rahmi dengan deraian air mata.


"Tapi gue sudah, Mi! Gue udah nemuin orang yang bakal jadi tempat gue berlabuh. Kemanapun gue pergi, tujuan gue tetap dia. Kalau dia pergi ke ujung dunia sekalipun, gue bakal ada disana!" kata Raksa.


"Kamu udah berubah..." Rahmi masih terisak, dia merasakan sesak di dadanya. Sementara dia mengabaikan semua tetesan darah yang mengotori lantai.


"Gue udah berubah sejak dulu! sejak hubungan kita sudah berakhir!" kata Raksa.

__ADS_1


Ucapan Raksa sangat menyakiti hatinya. Rahmi kira, Raksa akan melembut saat melihat dirinya terluka. Ternyata semua salah. Raksa terkesan acuh dan dia meninggalkan Rahmi dengan membawa satu kotak besar meninggalkannya begitu saja.


"RAKSAAAAAA!!!" Rahmi menjerit histeris.


__ADS_2