Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Ikut Jagain


__ADS_3

"Maaf ya, jadi ngerepotin lagi," kata Rahmi.


"Ngrepotin sih nggak, cuma Zaki ngreog. Dia yang berbuat dia yang panik!" Raksa tanpa basa-basi.


Raksa nyuruh Kalin buat duduk, kasihan kakinya pasti pegel, "Duduk dulu, Yang!" kata Raksa yang nggak sungkan menunjukkan perhatiannya di depan Kalin.


Rahmi yang melihat ketulusan Raksa merasa bersalah berkali-kali lipat. Orang yang sudah dia jahati masih mau menolongnya dan bahkan sekarang menganggapnya sebagai teman tanpa melihat masa lalu mereka yang pernah menjalin asmara.


'Pantesan dia suka banget sama nih bocah. Ternyata Kalin pun orangnya nggak suka dendam.Gue jadi malu sendiri,' batin Rahmi.


"Kita pulang dulu ya? besok kita bakal jenguk lo lagi," kata Raksa.


"Tidur disini aja, Sa! Udah tengah ,malam juga. Kasian Kalin dia udah ketiduran tuh!" kata Zaki yang menunjuk Kalin yang ternyata udah pindah ke sofa.


"Astaga, istri gueee...." gumam Raksa saat ngeliat Kalin tidur dengan posisi duduk.


"Bener apa kata mas Zaki, kasian kalau Kalin dibangunin dan kalian pulang. Suhu di luar pasti dingin banget..." tambah Rahmi.


Raksa mengangguk.


"Terus Zaki? tidur dimana kamu, Zak?"


"Gampang itu, Mah. Aku bisa nebeng diisni," Zaki menyentuh sisi kosong di samping Rahmi.


Raksa yang mengimbangi Zaki yang menggunakan bahasa aku kamu pun agak kurang joss kalau mau negecengin pasangan yang mau punya anak ini.


Dia mendekat ke arah istrinya, "Gue ikutan merem ya, Zak! Rahmi..." Raksa akhirnya keceplosan bahasa yang biasa dia gunaian sehari-hari, meskipun sama Kalin dia lebih lembut juga.


"Tidur aja, Sa! anggap kamar sendiri," kata Zaki.

__ADS_1


"Bahaya kalau gue anggap kamar sendiri," kata Raksa setengah ngantuk.


Dia duduk dan merebahkan kepala Kalin di pahanya dengan, mungkin saking ngantuknya kalin nggak terganggu demgan itu, di menekuk kakinya meringkuk ke samping dan memeluk bantal yang sengaja di taruh di samping Kalin biar tidurnya nyaman.


Sedangkan Zaki yang udah nggak kalah ngantuknya pun naik ke sisi ranjang istrinya. Mungkin karena udah kecapean banget, Zaki pun segera terlelap, tinggal Rahmi yang masih terjaga.


'Meskipun mungkin perasaanku masih sama kamu, tapi kita berdua berhak bahagia dengan jalan dan cara yang berbeda. Semoga kamu juga bahagia dengan kalin, dan nggak ada lagi yang bisa misahin kalian. kalian orang baik...' Rahmi dalam  hatinya.


Dia mensyukuri pertemuannya dengan Raksa dan Kalin ini tanpa hambatan, semua hal dimasa lalu udah dia kelarin. Sekarang tinggal menatap masa depan dengn Zaki dan calon anak mereka yang dengan susah payah dia jaga, dan semoga bayi itu bisa bertahan sampai akhirnya dia siap melihat dunia.


Rahmi merasakan pelukan Zaki, "Tidur, Mi...." ucap Zaki yang ternyata menyadari kalau istrinya masih melek.


"Iya, Mas..." ucap Rahmi.


Raksa sendiri sebenernya belum tidur, dia cuma merem aja. Kalu melek terus juga nggak enak sama Zaki yang mungkin udah lelah dan pengen rebahan, makanya dia duduk di sofa dan mnulai pejamin mata.


Dunia ini memang aneh, terkadang kita diharuskan ketemu lagi dengan orang yang pernah membuat catatan buruk di kehidupan kita, tapi Raksa mencoba menetralisir rasa aneh itu. Karena setiap orang pasti bisa berbuat salah tapi nggak menutup kemungkinan mereka bisa berubah dan berbalik menjadi orang yang baik.


Saat semua orang pegang mie cup nya masing-masing yang udah diseduh air panas, perut Rahmi pun jadi ikutan laper.


"Kayaknya enak nih!" kata Rahmi pada Zaki.


"Enak emang! enak banget. Perasaan kalau di Indo makan kayak gini tuh ya biasa banget, tapi kalau di luar negeri kok kayak obat kangen yang bahagia aja makannya," ucap Zaki yang memakan mie nya sebelum mendekat ke arah Rahmi.


"Belinya jauh ya, Sa?" tanya Rahmi yang mulai disuapi Zaki.


"Ya lumayan. Kalin paling suka mie Indonesia jadi ya harus cari smapai dapet!" kata Raksa, dia dapet senggolan dari istrinya.


Rahmi nggak heran melihat Raksa yang meratukan Kalin, karena Raksa dari dulu emang jadi cowok selalu punya cara tersendiri buat memanjakan pasangannya. Dia punya cara tersendiri buat mentransmisi cintanya pada seseorang yang menjadi pasangannya. Rahmi pernah merasakan juga bagaimana Raksa membuatnya orang yang paling spesial, bahkan pacaran model kucing-kucingan pun mau dilakuinnya karena saking cintanya dia sama Rahmi. Tapi semua itu masa lalu. Sekarang mereka sudah punya pasangan masing-masing dan seharusnya Rahmi bisa menghapus nama Raksa di dalam hatinya.

__ADS_1


"Rencananya kalian bakal stay selamanya disini?" tanya Rahmi pada Kalin.


"Ehm, nggak tau juga. Aku sih tergantung mas Raksa aja..." Nah, saat Kalin menyebutnya 'Mas' Raksa jadi lega, paling nggak si Kalin bisa menghargai posisinya sebgaai suami dan nggak manggilnya dengan sebutan Mamang yang biasa menjadi panggilan sayang Kalin padanya.


"Emang ngajak kesini, Raksa? bukannya kamu yang kuliah?" tanya Rahmi.


"Iya, tapi aku sih semuanya tergantung mas Raksa..." ucap Kalin cari aman.


"Nanti kita juga mau pulang ke Indonesia. Tapi setelah urusan Kalin seputar kampusnya udah beneran kelar. Nggak lucu juga kita harus bolak-balik ke sini hanya untuk mengurus sesuatu yang berhubungan dengan kelulusan dia," kata Raksa.


"Lagian itung-itung haoney moon, sebelum nanti gue sibuk cari kerja lagi. Lo masih anteng di perusahaan?" tanya Raksa pada Rahmi.


"Setelah menikah gue  jadi ibu rumah tangga, ngrurus suami aja..." Rahmi yang menjawab agak aneh. Biasanya Raksa selalu manggil kamu bukan lo. Dan itu membuat Rahmi canggung.


Ya biasa memang kalau kita suka gonta-ganti cara ngobrol apalagi sama orang yang baru. Secara nggak sadar terkadang bibir itu sulit menentukan bagaimana kita harus bicara.


"Kalau gue sih terserah Kalin. Kalin mau kerja ya monggo, mau di rumah aja juga alhamdulillah. Gue sih support aja. Kuliah sampe sini aja gue jabanin jagain, apalagi hanya untuk ngabulin keinginan dia buat kerja..." Raksa menanggapi jawaban dari Rahmi.


"Wah, beruntung kamu punya suami seperti Raksa, Kalin!"


"Ya, sangat!" Kalin emenngok ke arah Raksa yang sudah menghabiskan mie nya.


Makan mie kelar, tinggal rahmi yang dicek kondisinya oleh dokter. MAsih untung katanya Rahmi hanya terkena serangan panik dan nggak ada masalah juga dengan kandungannya, itu membuat Zaki bisa tersenyum dengan lega. Tapi dokter minta agar Rahmi bisa stay di rumah sakit paling nggak sampai besok, biar kondisinya terpantau dengan baik.


jam 10 pagi, Raksa dan Kalin pun pamit, mereka udah pengen pulang ke rumah, capek juga semalaman di rumah sakit.


"Kita pamit, ya? kabarin aja kalau udah mau pulang dari sini!" kata Raksa.


"Thank you, ya! sorry aku dan rahmi ngerepotin kalian lagi.."

__ADS_1


"Cepet sembuh Kak," kalin dengan lembut sebelum mereka pergi dari ruangan itu.


__ADS_2