Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Suudzon


__ADS_3

Raksa nggak ikutan makan siang dan mencoba menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat. Dia terus teringat chat WA yang dikirim Nova, tapi beberapa kali juga dia terus menyingkirkan pikiran jika dia harus membantu Kalin.


"Salah dia sendiri minjemin orang nggak dipikir dulu. Pacar sih pacar, tapi kan jelas beda, mana yang emang butuh dan yang nggak. Dia punya orangtua, ngapain juga minjem duit sama pacar?" Raksa merepet sendiri.


Dreeettt!!


Dreeettt!


Suara printer yang lagi Raksa gunakan.


Pria itu menyandarkan punggungnya yang udah kerasa panas di kursinya. Sambil sesekali muterin leher pelan-pelan buat ngilangin pegel juga.


"Sa, lo ikut aja deh nanti sore,"suara Farid bikin Raksa yang merem jadi melek seketika.


"Bahlul ente! bikin gue kaget aja! gue kira suara setan mana yang tiba-tiba nongol siang-siang begini,"


Farid nyodorin es kopi, "Nih...."


raksa yang dikasih es kopi pun ngeliat Farid dengan tatapan bingung, "Maksudnya apa nih?"


"Udah minum aja. Gue kan temen yang baek, ada temen yang nggak ikut makan siang ya gue beliin minuman. Biar nggak mandeng layar komputer mulu!"


"Beneran nih nggak ada apa-apa nya? curiga gue?!" Raksa ngeliat cup plastik yang dia tau dari merek sofee shop tertentu.


"Astagaaaa, lo pikir gue bakal jampi-jampi lo? kagak ada Raksa. Lagian gue sukanya cewek! curiga sih boleh aja, tapi jangan kebangetan dong!" Farid kesel dengan tatapan menelisik Raksa.


Raksa pun mencoblos minumannya dan mulai menyeruput americano iced yang dia demen banget dari dulu. Sedetik kemudian, pria itu menegakkan duduknya dan mau mulai ngetik lagi.


"Eiiittssss! lo belum jawab ajakan gue," kata Farid.


"Apaan sih ya Allah?"


"Lo ikut kita ya nanti sore?" Farid ngulangin ucapannya.


"Gue ada urusan lain, Rid. Kalian aja yang nonton, lagian ya udah gue bilangin lo tuh mau pedekate sama Tania, ya udah lo jalannya berdua sama Tania. Ber-dua, ngerti? jangan malah ajak orang lain. Lo tuh gayanya doang gentle, ternyata pedekate sama cewek aja cemen, harus banget gue temenin? aneh lo!" Raksa ngambil kertas yang keluar dari mesin printer.


"Iya gue tau, tapi gue ini lagi membangun rasa nyaman gitu loh, antara Tania sama gue, jadi gue pedekatenya lewat jalur temen tapi mesyraaa, begitu bahluuuul..." Farid alesan aja.


"Halah, kelamaan! dalam mendekati cewek lo tuh harus sat set atau lo keduluan sama orang yang lebih gentle dan lebih pasti daripada lo. Jangan sampai lo kejebak dalam situasi friend zone, doi lebih nyaman nganggep lo 'friend' dan berakhir cinta lo yang bakal 'gone' perkara dia udah digondol cowok lain. Dan kalau itu kejadian, jangan lo dateng ke gue sambil bawa tangisan merana. Nggak akan gue terima!" Raksa nunjukin telunjuknya memperingatkan Farid.


"Sok tau banget lo tentang cewek!" Farid ngibasin tangannya.

__ADS_1


"Terserah lo mau percaya atau nggak. Sekarang balik ke meja kerja lo sebelum pak Tomi keliling kaya kang satpam!" Raksa ngingetin.


"Siapa yang seperti satpam?" suara seseorang membuat Farid dan Raksa mematung.


"Farid, laporan yang kemarin saya minta sudah ada atau belum?" pak Tomi membuat Farid memutar badannya.


"Ehm, sedang digarap, Pak!" Farid dengan senyum yang agak dipaksakan, sedangkan raksa fokus aja ngetik, pura-pura nggak denger kalau temennya itu lagi kena semprit.


"Apa lagi yang kamu tunggu?" pak Tomi bersuara lagi.


Farid gugup, "Ehm, iya Pak. Ini saya garap lagi, permisi..." Farid pergi ke kubikelnya sendiri.


"Nana, ke ruangan saya. Bawa laporan daftar karyawan yang sudah habis kontrak bulan ini," suruh pak Tomi pada perem[uan yang duduk bersebelahan dengan kubikelnya Raksa.


"Iya, Pak tomi..." sahut Nana.


"Raksa, kerja yang bener. Jangan sampai saya kasih kamu SP lagi!" ucap pak tomi sebelum pergi.


Sementara Raksa menghela nafas lega saat orang yang lagi berkuasa itu perlahan menjauh dan masuk kembali ke dalam ruangannya yang super nyaman.


"Ah, harusnya gue WA si Kalin itu. Dia kan masih utang nganterin gue makan siang..." gumam raksa yang nyeruput minumannya lagi, tapi ngerasa ada sesuatu yang bergejolak juga di dalam perutnya.


Sedangkan di tempat lain.


Kalin baru aja turun dari taksi online, dengan susah payah dia memapah Nova.


"Gue bisa sendiri, Lin. Nggak apa-apa, suwer..." Nova nunjukin jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.


"Udah nggak apa-apa," Kalin tetep nggak ngelepasin penjagaannya buat Nova.


Dia ketok pintu rumah Nova beberapa kali.


Tok!


Tok!


Tok!


"Assalamualaikum..." suara Kalin dikencengin.


"Waalaikumsalam!" sahutan bu Selvy dari dalam. Di rumah ini nggak ada pembantu setau Kalin, jadi nggak heran kalau yang bukain pintu ya ibuknya Nova sendiri.

__ADS_1


Pintu pun perlahan terbuka, dan beneran aja kalau sosok yang muncul itu ya ibunya Nova yang kaget ngeliat anaknya pulang dengan wajah yang pucet, "Loh loh loh, kenapa? kamu kenapa Nova? sakit, hem?"


Nova ngangguk, "Hu'um..."


"Nova perutnya lagi sakita, tante. Maknaya Kalin anterin pulang..." ucap Kalin.


"Waah, terima kasih ya, Kalin!" bu Selvy menebarkan senyuman pada teman baik anaknya.


dan bu Selvy pun menyuruh Kalin dan Nova masuk ke dalam rumah, "Ayo, masuk masuk! Kalin, tolong anterin Nova ke kamarnya ya? biar tante bikinin teh panas dulu. Nnati tante nyusul..."


"Iya, Tante,..." Kalin dengan hati-hati membantu Nova menaiki anak tangga sampai akhirnya mereka udah di depan kamar Nova.


Ceklek!


Kalin membuka pintu dan ngebiarin Nova rebahan di ranjangnya. Dia nyalain ac dan nggak lupa buat nutup pintu lagi.


"Gimana? masih sakit banget?" Kalin duduk disisi ranjang Nova, dia tutupin badan temennya itu dengan selimut.


"Udah agak mendingan setelah diganjel bantal kayak gini sih. Maksih ya? lo nganterin gue pulang," ucap Nova.


"Halah, lo ini kayak sama siapa aja sih? " Kalin senyum sekilas.


Ceklek!


Tiba-tiba pintu kamar nova terbuka, bu Selvy masuk dengan secangkir teh dan ada minuman dingin yang sengaja dibuat untuk Kalin.


"Ibu kan sudah bilang jangan kebanyakan makan bakso, baru kemarin diingetin, sekarang malah kejadian," ibuk Nova malah merepet.


"Bu, kenapa sih nyalahin bakso mulu? ini Nova sakit karena lagi dateng bulan bukan karena makan bakso,..."Nova lemes.


"Oh, sakit perutnya itu bukan diare?" bu Selvy naruh minuman di meja deket lampu tidur milik Nova.


"Ibu kira sakitnya itu diare yang kayak waktu kemaren itu, Sayang! maaf ya ibuk sudah mijon sama kamu,"


"Suudzoooon bukan mijon buuuk?!" Nova ngingetin ibunya.


Sedangkan Kalin dan bu Selvy kompak ngeliat wajah emosi Nova.


"Issshhhh, malah diketawain," Nova dengan muka asemnya.


"Udah udah jangan marah-marah terus. Nanti cepet tua kamu. Sekarang kamu minum tehnya, biar enakan perutnya itu. Ibu ke bawah dulu, mau ngisi buli-buli pakai air panas. Biar perut kamu agak mendingan," kata bu Selvy yang keluar dari kamar anaknya dan pergi menuju dapur.

__ADS_1


__ADS_2