
Setelah nelfon tempat bimbelnya, Kalin nepok pundak Raksa, "Nomor 25, rumahnya pak Vadela Hakim!" ucap Kalin.
"Yakin?"
"Banget! kan gue dikasih tau sama pihak bimbel,"
"Bisa aja kan tuh kuping rada konslet!"ucap Raksa.
"Ya udah cepetan!" Kalin nepokin lagi bahu lebar yang nyaman kalau dipeluk.
"Iya iya ih, sabar!" Raksa make lagi helmnya, sedangkan Kalin udah terlindungi helm yang lagi-lagi Raksa beli di tengah perjalanan mereka nyari alamat rumahnya si Reno. Kagak mau ditilang lagi tuh Raksa, udah tromahhh ceunah!
"Pelan-pelan, Om pelan pelan. Jangan ngebut!" mata Kalin membulat saat mereka udah mulai nglewatin nomor rumah dua puluhan.
"Astagaaa, nih bocah! dibilang jangan panggil Om jangan panggil Om..." Raksa emosi.
Tapi denger itu bukannya Kalin jengkel, tuh cewek malah ketawa. emang random banget nih bocil satu. Dari nangis, memelas, keder dan sekarang ketawa.
"Ketawa lagi, " Raksa bergumam, dongkol dia.
Raksa pun berhenti di tempat tujuan dari hasil tepokan tangan Kalin di bahunya yang seakan jadi GPS manual yang bikin geleng-geleng kepala, berasa kang ojek dia.
"Ini kayaknya rumahnya Reno!" Kalin buka kaca helmnya dan ngeliatin rumah itu dari luar.
"Ya udah turun. Tagih sono, gue pengen cepet balik udah sore!" Raksa buka helmnya.
Kalin turun, namun tangannya memegang tangan Raksa yang tertutup jaket kulit warna cokelat, "Temenin yuk, Om!"
"Maksud gue, Mas! temenin, please..." Kalin segera meralat panggilannya, sebelum pria yang di depannya ini melotot, dia memandang rumah yang di batasi pagar itu dengan wajah yang cemas.
"Gue tunggu disini, lo sana masuk. Cari Reno, bawa uang lo dan kita pergi dari sini, gue udah pengen ketemu air!" kata raksa yang selain laper juga udah pengen mandi.
"Gue ... gue takut," kata Kalin.
"Gue takut kalau Reno akan berkilah dan bikin gue malu,"
"Kalau lo bener, lo nggak usah takut apalagi malu. Kan lo nagih duit lo sendiri, bukan minta duitnya dia!"
"Iya tapi tetep aja, gue nggak seberani itu, apalagi ini bukan lingkungan gue..."
__ADS_1
"Maaf, boleh minggir sedikit? saya mau masuk ke rumah saya..." seorang pria paruh baya yang menaiki sepeda motor
Kalin dan Raksa pun saling bertatapan, saat ngeliat si bapak yang menunjuk rumah yang akan mereka sambangi.
"Oh, iya maaf Pak. Maaf..." Raksa pun mendorong motornya, tahu diri.
Dan bener aja, bapak tadi buka gerbang dan masuk ke dalam rumah nomor 25.
Raksa yang ngeliat muka memelas Kalin, lagi-lagi terhipnotis buat ngabulin tuh permintaan bocil. Dia nyalain mesin motor dan bergerak maju disusul kalin yang juga ikutan masuk ke dalam pelataran rumah minimalis itu.
"Permisi, Pak..." Raksa turun dan nyantolin helm yang dipakainya begitu juga dengan Kalin yang ngelakuin hal yang sama.
Sekilas dia ngeliat tuh bocil ngekor di belakangnya, Raksa pun dengan sopan mendekat dan bertanya, "Permisi, Pak. Maaf sebelumnya, apa benar ini rumah pak Vadela Hakim?" tanya Raksa. Nada bicaranya lembut, gentle dan nggak ada galak-galaknya. Kalin aja kaget, laki-laki yang ada di depannya ini menunjukkan sisi yang lain yanga ada pada dirinya.
"Ya saya Vadela Hakim, ada apa?" pria paruh baya itu balik bertanya. Dia ngeliat ke arah dua orang tamu yang mencarinya.
"Begini, Pak. Sebelumnya perkenalkan, saya Raksa Kamaludin dan perempuan ini Kalin, temannya Reno..."
"Teman anak saya?" pak Hakim naikin alisnya ngeliat penampilan Raksa yang seperti pekerja kantoran.
"Iya, ehm, kami berdua ingin bertemu dengan Reno," ucap Raksa.
Sementara pak hakim ke dalam, terdengar suara bapak reno itu ngucapin salam pada istrinya. Sayup-sayup Raksa dan Kalin bisa denger pak hakim nanya keberadaan anaknya.
"Ada temennya Reno, coba ibu temui saja dulu. Ayah mau mandi..." suara pak Hakim.
"Ayah harap, anak itu nggak bikin masalah lagi..." lanjutnya.
Dalam hati, Raksa langsung bergumam, 'Hemmmm, bapaknya aja udah ngebatin begitu. Gue rasa tuh bocah tengil emang suka cari masalah. Begonya nih cewek satu, mau-maunya minjemin duit sebanyak itu. walaupun gue juga nggak tau seberapa banyak, tapi kalau liat dari wajah kusut dan tampang stressnya sih, dia udah bisa diprediksi kalau Reno ini minjemnya bukan satu atau dua juta...'
Raksa jadi teringat sebuah benda yang dibelinya beberapa waktu yang lalu, dan sekarang dia ngeliatin tampang harap-harap cemas kalin.
'Nih bocah gue rasa belum ngandang ke rumah deh!' Raksa celingukan ngeliat situasi rumah itu. dan emang sepi kok, nggak ada kendaraan lain yang terparkir selain motornya pak Hakim.
Dan beberapa saat kemudian, bu Rini datang dengan nampan yang berisi air minum dingin, "Silakan diminum, Nak..." ucap bu Rini yang menaruh minuman itu di meja.
"Tidak perlu repot-repot, Bu. kami hanya sebentar..." kata Raksa.
"Tidak ada yang repot, ini hanya minuman biasa. saya ibunya Reno, adek-adek ini temennya Reno, ya?" tanya bu Rini dengan wajah bersahajanya.
__ADS_1
"Sebenarnya bukan saya, tapi dia yang temannya Reno..." Raksa menunjuk Kalin. Sedangkan cewek itu mengangguk dan juga memperkenalkan dirinya.
"Saya Kalin, Bu..."
"Reno ada di rumah tidak ya, Bu? saya ingin bertemu sebentar,"
"reno belum pulang. mungkin masih les. Mungkin sebentar lagi dia pulang,"
"Buuuu, mukena nadila dimana ya, Buuuu?" suara anak kecil yang berasal dari arah dalam.
"Ibu di depan, Sayang!"
"Ehm, itu adiknya Reno. Namanya Nadila. Ibu permisi masuk ke dalam ya nak Raksa, Nak Kalin. Silakan diminum dulu airnya," bu Rini berdiri dan menemui anak bungsunya.
'
Ternyata ada satu hal yang bener dari lo, kalau lo punya adik!' Kalin dalam batinnya.
'Tapi apa iya, bocah sekecil itu bisa check out keranjang belanjaan Reno? kayak nggak mungkin banget!' Kalin keinget salah satu alesan klasik yang sering diutarakan Reno.
Sementara Raksa yang udah kelaperan dan keganjel cuma sama obat magh itu pun segera meneguk minuman berwarna orange yang dingin dan nyegerim tenggorokan.
"Minum dulu, sebelum darah lo melonjak naik, otak lo puyeng dan mulut lo pegel karena adu argumen sama mantan lo itu," Raksa yang meneguk lagi minumannya.
Satu sudut Kalin terangkat ke atas, "Jangan sebut dia mantan. Nggak enak kalau kedengeran sama orangtuanya!" Kalin ngerasa bersalah kalau sampai orangtua Reno tau permasalahan peminjaman duit itu. Karena keliatannya kedua orangtua Reno utu orang yang baik.
"Teraerah lo aja dah! yang jelas cepet seleseinasalah lo, karena gue udah pengen pulang dan tidur di ranjang yang nyaman, ngerti?" Raksa yang sudah menghabiskan minumannya, mebaruh gelas yang kosong di atas meja.
Kalin pun mengangkat gelasnya dan ikuran meneguk minuman itu. Seenggaknya rasa hausnya hilang saat ini.
Dan nggak berapa lama, ada suara motor yang mendekat ke arah rumah milik Reno.
Bremmm!
Bremmm!
Bremmm!
Mata Raksa dan Kalin pun kompak melihat siapa yang datang.
__ADS_1