Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Oma Vs Kakek


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Raksa selalu mengecek cctv rumahnya. Sepertinya orang yang suka lalu lalang di rumahnya sudah nggak nampak lagi. Dia juga selalu mengantar jemput istrinya, bahkan sampai di ruangan Kalin sendiri. Nggak jarang kalin ketiduran di ruangan yang super nyaman itu, karena pekerjaannya yang belum banyak dan juga nungguin Raksa jemput rasanya mata Kalin selalu mengantuk.


"Kaliiin?" panggil Raksa saat sudah sampai di ruangan direktur utama.


"Mas? udah sampai?" Kalin yang tadinya telungkup di meja sekarang mendongak dan tersenyum melihat wajah Raksa.


Tapi setelah beberapa saat kalin baru tersadar, kalau dia sedang bermimpi. kalin baru terbangun dan kini beneran bangun. Nggak ada Raksa.


"Kenapa aku bisa ketiduran di jam makan siang kayak gini?" kalin menegakkan badannya dia bergerak ke arah toilet yang super kering dans uper wangi. Dia ngeliat wajahnya yang sembab.


"Astaga, kenapa seorang direktur utama tidur di jam kerja?!!" Kalin memarahi dirinya sendiri.


"Bisa-bisanya gue ngimpi di jemput Mamang? orang jam kerja aja belum selesai?!!" kalin membasuh wajahnya.


Dia sengaja wudhu dan sholat di ruangannya itu. Dia cari spot yang ksoosng di belakang meja kerjanya yang ada space lumayan luas antara meja dengan jendela besar yang mempertontonkan suasana kota.


Selepas menjalankan kewajibannya, Kalin merapikan lagi make up nya. dia sampai geleng-geleng kepala, "gini nih kalau kerja kebanyakan duduk, yang ada gue ngantuk! coba aja kerja di tempat lain, beuuuhhh! pasti nggak ada waktu buat nyantai apalagi tidur..."


Drrrtt!


"Ya halo, Mang?"


"Mamang lagi mamang lagi! Sayanggggggg!" seru raksa.


Kalin tersenyum, dia senang dengan Raksa yang pasti akan teriak kalau dipanggil Mamang, "Iya iya sayang. Kenapa?"


"Maaf ya? aku nggak ke kantormu. Aku lagi banyak kerjaan nih!" kata Raksa.


"Maaf ya baru ngabarin, kamu pasti belum makan ya?" tanya raksa.


"Ya belum lah! kan nungguin kamu, Mas!" ucap Kalin, padahal mah dia nggak nungguin, dia ketiduran.


"Aku udah kirimin makanan! bentar lagi nyampe,"


"Kamu udah makan siang?" giliran Kalin yang nanya.


"Belum, tapi udah pesen juga! pulangnya aku jemput seperti biasa..."


"Oke...." Kalin kemudian menutup panggilan itu.


Seorang OB mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan Kalin.


"Masuk!" seru wanita yang sudah lebih segar.


"Selamat siang, Bu Kalin..." ucapnya dengan suara yang sangat familiar.


Tapi ya familiar, kan ada banyak OB disini dan mereka keluar masuk ruangannya buat nganterin kopi lah, jus lah, teh sereh lah. Jadi ya pasti familiar di telinga Kalin.


"Ini pesanannya," ucap si OB.

__ADS_1


"Taruh saja dan terima kasih ya..." ucap Kalin.


Si OB keluar, sementara Kalin memperhatikan sebuah gedung. Dia mendekat ke jendela kaca yang sangat besar.


Dia menempelkan telunjuknya dan bilang, "Selamat makan siang, suamiku..." ucapnya.


Raksa bekerja di gedung yang bersebelahan dengan perusahaan ayahnya ini.


Kalin membawa bungkusan yang ada di mejanya dan disitu tertulis pesan.


Kita bertemu di taman dekat kantor jam 5 sore!" ucap Kalin.


"Ututututu, so sweet banget mamang gueeeeh!" Kalin senyam-senyum sendiri membaca pesan yang ditulis di atas sebuah kotak makanan yang terbuat dari kertas tebal yang mengkilap.


Tulisannya sih ayam rica-rica, karena kebetulan kalin selalu memsan menu itu dalam 3 hari belakangan ini.


"Tau aja menu istrinya belum ganti!" Kalin bersemangat membuka box makanan itu.


Tapi....


"Uhhkk!" Kalin menutup hidungnya, ada rasa aneh yang menggelitik hidungnyayang nggak bisa dia tahan setelah membuka bungkusan itu.


Padahal itu menu makanan yang biasa dia pesan, ditempat yang sama dan nggak ada yang beda sebenernya, ytapi entah kenapa Kalin mencium bau yang nggak biasa.


"Hemmp, kok baunya agak aneh ya? apa kualitasnya menurun?" Kalin memperhatikan setiap detail yang ada di box itu.


Namun...


Telepon yang ada di meja kerjanya berdering. Kalin mengangkatnya.


"Kalin kamu bisake ruangan ayah sebentar?" tanya Ayah.


"Iya, Yah! Kalin kesana sekarang,"


Kalin yang dipanggil pun mebaruh makanannya kembali dan pergi dengan membawa hape yang selalu dia kantongi.


Berhubung ruang kerja Kalin dan ruang CEO berada di lantai yang sama, jadi nggak perlu memakan bantak waktu untuk Kalin bisa menghampiri ayah Diki yang ternyata kedatangan tamu spesial.


"Loh? Oma, Nenek?" Kalin terkejut melihat kedatangan Oma dan Neneknya.


Ruangan ayah Diki penuh dengan orang-orang yang sangat dia sayang.


"Kan? apa aku bilang? Kalin bekerja disini?!! bagaimana dia akan fokus memiliki anak, jika dia harus bekerja di perusahaan?!" Oma Nilam menatap menantunya.


"Sudah lah, Mbak! jangan begitu pada Diki, dia pasti juga punya alasan kenapa menyuruh Kalin bekerja," Oma Galuh mencoba menjadi penengah.


"Heh, Nilam?!! kamu juga dulu bekerja saat hamil Atha dan Lia, hal seperti ini jangan dibesar-besarkan!" kata kakek Dewangga.


"Tante? ini kenapa pada dateng kesini ada apa?" bisik Kalin pada tante Atha.

__ADS_1


"Nggak tau. Kayaknya Oma dapat info dari ibu mertua kamu kalau sekarang kamu udah kerja, Kalin..."


Kalin ngerasa kasian sama ayahnya yang kayaknya dipojokkan terus.


"Nggak usah bahas masa lalu, Dewangga! yang jelas dulu itu aku sama kamu nggak diatur harus menunda punya anak. Kita punya anak karena kita mau punya anak?!" ucap Oma Nilam yabg kalau ketemu mantan suaminya kayak meong dan guk-guk, vibes nya pengen cakar-cakaran mulu.


Sedangkan Nenek Galuh bukan menyabarkan suaminya, tapi dia mendekat ke kursi roda Oma Nilam buat menenangkan mantan istri suaminya itu.


"Sudah, Mbak! kayaknya suara kita bisa tembus sampai ke lantai bawah kalau kita terlalu ribut disini!" kata nenek Galuh.


Dan nggak lama, bunda datang dengan wajah khawatirnya apalagi melihat ayahbkayaknya nggak berkutik sama sekali.


"Ini kenapa, Kak?" tanya Bunda pada tane Atha.


"Biasa lah, Mama!"


"Duduk kamu, Lia!" suruh Oma.


"Oma lama-lama bisa jantungan kalau kayak gini?! kenapa kamu biarkan Kalin kerja? memangnya nggak ada oranglagi selain Kalin?" tanya Oma Nilam.


"Bukan salah bunda, Oma atau ayah. Ini kemauan Kalin sendiri, Kalin kan baru aja lulus. Kalin pengen ngerasain gimana rasanya kerja sebelum nanti Kalin punya anak..." Kalin mendekat, dia menekuk kakinya supaya bisa sejajar dengan kursi roda Oma Nilam.


"Kamu kan masih muda..."


"Nah itu karena Kalin masih muda, jadi Kalin pengen ngerasain jadi wanita karir. Biar nggak penasaran juga..."


"Kenapa nggak kamu tawarkan sama Raksa? dia kan suaminya Kalin..." kata Oma.


"Sudah aku tawarkan, Mah. Tapi Raksanya yang ngak mau, katanya dia pengen usaha sendiri,"


"Kamu kurang bagus merayunya! coba nanti Mama yang bicara sama Raksa..." kata Oma Nilam.


"Mas Raksa juga baru di terima di perusahaan, tuh gedubgnya persis di samping gedung ini!"


"ASTAGAAA DIKIIII!!!! BAGAIMANA BISA MENANTUMU KERJA SAMA ORANG LAIN???!!!!" suara Oma mengisi seisi ruangan ini.


"YA AMPUN NILAAAM?!! SUARA KAMU HAMPIR MEMECAHKAN GENDANG TELINGA KAMI SEMUA!" balas kakek Dewangga.


Sedangkan yang lain nggak bisa apa-apa kalau Oma dan kakek sudah sahut-sahutan.


"Ck, kamu ini makin tua makin menyebalkan!" Oma menyindir mantan suaminya.


"Ruangan kamu dimana, Kalin? Oma bawakan makan siang buat kamu!" ucap Oma Nilam.


"Ruangan Kalin? oke oke kita ke ruangan Kalin sekarang ya?" Kalin lalu bangkit dan segera membawa Oma Nilam keluar dari ruangan ayah.


Dan semua orang yang ada disitu termasuk tante Atha pun bisa bernafas lega.


"Akhirnya tua bangka itu keluar juga! bisa migrain aku yang ada kalau selalu bertengkar dengan dia!" keluh kakek Dewangga.

__ADS_1


__ADS_2