
"Sayang?" ucap seorang laki-laki dari arah punggung Raksa.
Seketika dua iorang yang berstatus mantan pacar itu pun melepaskan pukannya, Raksa brbalik untuk mengetahui siapa laki-laki yang ada di belakangnya.
"Kamu lama banget? aku sampai khawatir!" ucap laki-laki itu lagi.
"Kenalkan ini mas Zaki, dia suamiku, Raksa..."
"Zaki!" ucap laki-laki yang kini berada di samping Rahmi.
"Raksa, selamat ya atas kehamilan Rahmi..."
"Terima kasih. Rahmi sudah banyak cerita tentang kamu. Maaf, aku yang mengajak Rahmi kesini. Aku yang sengaja memcari keberadaanmu,"
"Lebih baik kuta bicara di luar, Zaki. Sebentar ya? sebentar Rahmi," Raksa masuk ke dalam untuk mengganti baju. Kebetulan shift nya sudah selesai.
Mereka bertiga ngopi-ngopi di dekat restoran tempat Raksa kerja.
"Soy milk kesukaan kamu, Sayang!" ucap Zaki yang begitu perhatian dengan Rahmi. Dia memastikan istrinya duduk dengan nyaman.
"Apa pinggangmu nyaman?" tanya laki-laki itu pada istrinya.
"Udah nyaman.Makasih, Sayang!" ucap Rahmi.
Lebih dari 3 tahun Raksa sudah nggak pernah ketemu lagi dengan mantannya itu. Dan ternyata waktu banyak mengubah keadaan, ternyata bukan hanya dia yang kini sudah bahagia dengan Kalin, tapi Rahmi juga akhirnya menemukan seseorang yang tulus mencintainya.
"By the way, selamat ya. kalian sebentar lagi akan punya anak," kata Raksa.
"iya terima kasih. Doakan dedek bayi did alam sana bisa bertahan sampai nanti waktunya dia lahir," kata Zaki dengan menggenggam kedua tangan Rahmi.
"Minum?" Zaki mempersilakan Raks buat minum kopi yang sudah dipesankannya.
Raksa pun menyeruput kopi yang masih panas itu.
"Maaf Raksa. Aku terpaksa melakukan ini. Aku nggak mau Rahmi hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Dia selalu bermimpi buruk, terlebih lagi setelah dia keguguran. dalam mimpinya dia selalu bermimpi tentang kalian. Bahkan dia memohon-mohon untuk minta maaf sama kamu dan istrimu..." ucap zaki.
__ADS_1
"Rahmi sudah cerita semuanya. Tidak ada yang ada ditutupi diantara kami berdua. Untuk rencana liburan ini memang aku persiapkan untuk Rahmi, Rahmi pun nggak tau kalau dia akan aku pertemukan dengan kamu. Dan mungkin semesta merestui pertemuan ini, tiba-tiba Rahmi ingin makan ayam goreng dan aku sengaja bilang kalau aku pengen pesen kopi dulu di cafe. Makanya dia kesini sendirian," lanjut Zaki.
"Beruntungnya lagi dia langsung ketemu sama kamu," zaki meamndang raksa dengans erius.
"Mungkin Rahmi sudah melakukan kesalahan di masa lalu yang sulit dimaafkan. Tapi aku mohon maafkan dia, supaya dia bisa hidup tenang dan fokus dengan kehamilannya..." lanjut Zaki.
"Tentu. Aku sudah memaafkan Rahmi dan segala apa yang sudah terjadi. Aku bukan tipe orang yang suka menaruh dendam, Zaki..."
"Makasih, Raksa..."
"Setahun yang lalu Rahmi sempat hamil ltapi keguguran. Makanya sekarang aku harus menjaganya lebih ektra lagi,"
"Mungkin itu karma karena aku sudah terlalu jahat sama kamu, Raksa. Makanya tuhan menghukumku dengan kehilangan anak pertamaku.." kata Rahmi.
"Nggak ada yang kayak gitu, Rahmi. Tuhan selalu sayang pada hambanya. Kalau kemarin kamu keguguran, mungkin itu bukan karena karma tapi itu cobaan yang harus kamu lewati bersama Zaki supaya naik ke level yang lebih tinggi..." kata Raksa.
"Jangan stress dan fokus pada kesehatan kamu dan dedek bayi. Aku sama Kalin sudah maafin kamu, Rahmi..." ucap Raksa.
Rahmi pun tersenyum, "Maksih ya , Raksa...."
"Deket sini kok!" kata Zaki, dia sesekali mengelus perut istrinya.
"Aku share lokasinya saja ya, Sa. Kalau boleh minta nomor kamu," ucap Rahmi.
Raksa dengan santainya mengetikkan nomornya di hape Rahmi, "Telfon aja kalau kalian butuh sesuatu barangkali aku bisa bantu,"
"Maaf, Zaki Rahmi. Aku duluan, ya? aku mau jemput Kalin di kampusnya," kata Raksa.
"Makasih ya kopinya," kata Raksa yang menyalami sepasang suami istri itu.
"Hati-hati," ucap Rahmi.
Dan Raksa pun dengan langkah terburu-buru, jalan menuju sebuah universitas terkenal di kota itu.
Dia nunggu di tempat biasa, secara Kalin kan suka gengsi di jemput di dalem. Jadi Raksa sering nungguin di depan gerbang universitas , dimana dia berdiri nggak bakal ada orang yang anggap anrh.
__ADS_1
Lama nunggu akhirnya Raksa nelpon istrinya, "Kalin? aku udah sampai. Kamu masih lama?"
"Udah pulang!"
"Udah selese? ini aku udah nungguin, lho!" Raksa memastikan.
"Udah di rumah!" Kalin lalu menutup telepon.
"Astagaaa, kok dimatiin? kok udah di rumah? kan tadi pagi gue suruh kalau udah selesai cepetan kasih kabar. Kok ini malah pulang sendiri?" guma Raksa, dia kantongin hapenya lagi dan pergi menuju rumahnya.
Dia berkirim pesan, menyuruh Kalin buat kunci pintu dan jangan menerima ramu sembarangan. Karena dia lagi mampir ke toko Asia, dia lagi pengen bikin lumpia goreng.
Kemarin sempet dikirimin gambar sama Nova dan itu bikin dia pengen buat juga, nyebelin emang tuh bocah. Nggak tau kalau abangnya lagi kangen rumah, dipamerin cemilan begitu auto ngiler.
Sementara di rumah, Kalin lagi bersih-bersih. Menatap meja maka dan menatap makanan itu dengan penuh api cemburu.
"Apa-apaan pake peluk-peluk mantan?! apa jangan-jangan mereka jadian lagi? nggak nggak mungkin! si Mamang kan udah cinta mati sama gue, nggak mungkin semudah itu dia berpaling ke pelukan mantan! kalau dia masih cinta, udah dari dulu mereka balikan.Tapi buktinya Mamang lebih milih mempertahankan gue sebagai istri sah nya!" ucap Kalin yang kini mengikat rambutnya, dia bertekad buat masak.
"Tapi gue nggak boleh lengah. Bisa aja wanita ular itu nyari kesempatan setelah tiga tahun lebih gue dan Mamang hidup dengan tenang tanpa ada gangguan apapun!" ucap Kalin.
Mumpung Raksa lagi belanja, kali ini Kalin akan kembali merebut hati sang Mamang supaya nggak berpindah atau melipir ke hati wanita lain.
Dia membuka kulkas dan mulai merencanakan apa yang kan dibuatnya.
"Bikin apa gue? kayaknya kalau soal masak jagoan juga dia!" ucap Kalin yang makin insecure, dia menyesal nggak banyak belajar sewaktu berada di Indonesia.
"Harusnya gue jangan cuma belajar soal pelajaran sekolah, tapi harus belajar masak!" ucap Kalin.
"Ah, apapun makanannya. Yang penting kan gue bikin dengan penuh pengorbanan dan kasih sayang! pokoknya Mamang punya gue, nggak boleh direbut apalagi dimiliki orang lain!" ucap Kalin, dia beneran takut kalau Raksa jadi ngelirik mantannya lagi.
Dia bingung harus bikin apa, "Bisa Kalin bisa! kuliah aja sampe ke Inggris, masa iya bikin makanan aja nggak bisa!"
Dengan keseriusannya, Kalin membuat makanan anti gagal yang dia lihat lewat content creator yang satu rahim sama suaminya, Nova.
"Ngide juga si Nova!" gumam Kalin debgan rambut yang dikuncir, dia sat set bikin sesuatu sebelum Raksa pulang ke rumah.
__ADS_1