
Raksa baru saja mausk ke dalam lobby, dan disana dia ketemu sama Michael.
"Hai pak Michael. Saya mau ketemu sama bu Kalin..."
"Bu Kalin? tadi katanya mau ke taman. Bukannya kalian janjian disana?" tanya Micahel.
Michael ini sudah diberi tau Kalin bahwa akan ada laki-laki yang harus dia kasih akses eksklusif, dia Raksa Kamaludin. Jadi Michael dilarang untuk menghalangi Raksa masuk ke dalam ruangannya, jam berapapun itu.
Michael yang diberi perintah pun menginformasikan hal itu pada receptionis dan juga satpam, supaya mereka nggak usah banyak tanya kalau ketemu orang yang namanya Raksa.
"Taman? ketemuan?"
"Nona Kalin mendapatkan sebuah pesan," Micahel pun akhirnya menceritakan apa yang diketahuinya, dia bilang kalau Kalin itu pergi karena sebuah pesan yang dia dapatkan di sebuah paketan makanan.
"Oh begitu. Ehm, saya permisi! terima kasih infonya!" ucap Raksa dengan hati yang sudah mencelos, dia takut terjadi sesuatu yang buruk dengan istrinya. karena dia sama sekali nggak mengirimkan pesan apapun pada Kalin.
"Halo, kantor polisi. Saya Raksa, saya ingin membuat laporan tentang---" Raksa menelepon sambil berjalan ke arah motornya yang dia parkir di parkiran tamu yang ada di depan.
Sementara itu di sebuah traman, Kalin memandang nggak percaya seorang yang pernah memburunya dengan Raksa atas dasar suruhan pak Galang itu bisa muncul setelah sekian tahun.
"Lo
"Lo dulu orang suruhan pak Galang, kan?" tebak Kalin, dia berusaha buat menelepon Raksa tapi mata Jonas selalu mengawasi gerak-geriknya. Tangannya yang mau masuk ke dalam tas langsung mendapatkan lirikan.
"Kenapa? lo pengen nelfon suami lo, Kalin? apa pengen gue bantu menelepon dia dan bilang kalau lo nggak akan pernah pulang ke rumah karena lo udah baru menyadari kalau hidup dengan dia bukan sesuatu hal yang membahagiakan?" Jonas dengan senyumannya.
"Nggak Waras!" gumam Kalin.
"Hahaha," Jonas tertawa.
Dia menepuk tangannya dan muncul lah seseorang yang entah darimana datangnya yang kini berdiri nggak jauh dari Kalin.
"Mungkin lo kurang info, Jonas! kalau kamu melakukan ini karena perintah pak Galang---"
__ADS_1
"Jangan sebut nama orang brengssek itu! gara-gara dia gue dan adik gue jadi buron polisi, sementara dia enak-enakan nikah sama orang yang masih ada kerabat sama lo! gue dateng. menemui lo, bukan karena perintah orang itu. Tapi karena gue mau bawa lo pergi dari sini. Anggap saja itu impas buat gue yang harus bersembunyi selama beberapa tahun," kata Jonas.
"Nggak akan, Jonas! karena gue nggak akan pernah mau!" Kalin berbalik badan.
Dan seketika tangan Jonas menahan pundak Kalin dari belakang. Namun siapa sangka, dari arah yang lain Raksa berlari dan menendang badan Jonas dari belakang.
Bughhhh!!
Jonas pun tersungkur.
Namun Jonathan yang merupakan adik Jonas berlari dan menghajar Raksa.
Sementara Kalin yang mau pergi di pegang pergelangan kakinya, sampai dia terjatuh dan kepelanya membentur sisi jalan yang keras.
"KALINNNNNNN!!!" teriak Raksa yang melayangkan tendangan persis di perpotongan leher Jonathan.
Buughhhhh!!!
Jonas Bangun dan menggendong Kalin tapi tangan Raksa segera meraih pundak pria yang dia yakini sudah mengintai mereka sejak di pesawat.
Raksa memutar badan Jonas, dan menendangnya du bagian perut.
Kalin pun terlepas dari tangan Jonas, dengan sigap Raksa menangkap istrinya, meskipun dia akhirnya terjatuh.
"Kalin? Kalin?" Raksa menepuk pipi Kalin. keluar darah dari kening Kalin yang terbentur saat ditarik kakinya oleh Jonas.
"Sialan!" Raksa menatap Jonas dengan tatapan nyalang.
Raksa meletakkan Kalin di bawah dan berlari kemudian menghajar Jonas habis-habisan, Mereka saling memukul. Bahkan pukulan Jonas pun ada yang nggak bisa Raksa hindari.
"Menyerahlah!" ucap Raksa yang menangkis pukulan dari Jonas.
"Nggak akan!"
__ADS_1
"Menyerahlah, kami akan mengampuni!" kata Raksa.
"Lalu membiarkan kalian bahagia?!" ucap Jonas.
"Tentu kami akan bahagia, lo juga..."
"Galang membuat gue dan Jonathan menjadi buron selama bertahun-tahun, jadi biar gue tuntasin perintahnya itu! biar kita sama-sama menderita! Aargghh!" Jonas merasa lehernya tercelik karena ditekan tangan Raksa, sementara badannya membentur sebuah pohon.
"Gue nggak tau soal itu! percayalah, gue akan lepasin lo! kita bisa berdamai, gue yakin hidup lo akan lebih berarti jika lo berada disini, lo akan meraih kebebasan lo! jangan bertindak konyol!"
"Gue Jonas! gue akan mengakhiri sebuah perintah dengan sebuah ucapan selamat tinggal!" Jonas tersenyum pada Jonathan.
"Aarrghhhh!" Jonas mendorong Raksa dengan kuat.
Jonathan mengambil sebuah batu dan akan melemparkannya pada Raksa. Namun, ada sebuah peluru yang dilepaskan ke udara.
Raksa pun menengok bertepatan dengan Jonathan yang melempar batu itu ke arah Raksa.
Bughhhh!!!
Raksa terjatuh. Pandangannya kabur dan lama kelamaan semuanya menjadi gelap.
Kedua orang yang menyerang Raksa pun diringkus saat itu juga. Sedangkan Kalin dan juga Raksa segera dilarika ke rumah sakit terdekat.
Keluarga yang dihubungi dan mendengar kejadian ini pun sangat kaget, terutama ayah Kalin.
"Bun? kita pergi ke rumah sakit sekarang!" ucap ayah begitu sampai di kantornya menemui bunda Lia yang masih menunggunya.
"Ke rumah sakit? Mama sakit lagi, Yah?" bunda khawatir dengan Oma Nilam.
"Bukannya tadi Mama sehat-sehat aja? apa Mama tdi marah-marah lagi di mobil?" Bunda Lia menuntut jawaban.
"Bukan Mama tapi Kalin! aku dapat kabar dari polisi. Kalin dan Raksa diserang oleh orang yang tidak dikenal!" ucap ayah.
__ADS_1
"Kalin? ayo kita ke rumah sakit sekarang, Yah!" bunda sangat cemas dengan keadaan anaknya.
Dan mereka pun pergi bersama-sama ke rumah sakit untuk melihat keadaan Raksa dan Kalin.