
Paginya Raksa keluar dengan rambut yang basah. Sontak saja bu Selvy senyum-senyum dan langsung laporan sama Oma Nilam, kalau sepertinya hilal cicit nya akan semakin dekat.
'Kenapa juga dia harus nyuruh aku keramas? baru juga kemarin? emang sebau itu rambutku?' gumam Kalin yang udah siap dengan setelan kerjanya begitu juga dengan Raksa.
Setelan hasil pinjem dari Nova.
"Nggak ada lagi yang lebih sopan?" tanya Raksa saat melihat Kalin yang menyusulnya dengan rok span dan juga blouse yang ditutupi blazzer.
"Ini punya Nova! jadi salahin Nova aja!" kata Kalin tentu dengan bisikan.
"Astaga kelakuan adek gueee! kenapa dia kasih kalin stelan kerja se ndek itu?" Raksa bergumam gemes.
"Loh? Kalian mau kemana?"
"Ada panggilan kerja, Bu!" sahut Raksa. Dia mulai ngambil makanannya sendiri.
"Loh? Kalin juga? apa nggak mau liburan dulu?" tanya ibu.
"Kalin disuruh dateng ke perusahaan ayah! katanya ayah lagi butuh bantuan Kalin, Buk..." Kalin yang mengambil nampan yang dipegang ibu mertuanya.
"Kopi atau teh?" tanya Kalin pada Raksa.
"Teh! makasih," ucapnya sambil senyum.
Kalin lalu duduk lagi. Bu Selvy melirik anaknya yang lanjut makan.
'Apa ada efek lain dari ramuan itu? kok Raksa ibuk liat agak aneh!' Sebaiknya aku tanyakan sama Oma!' batin ibunya Raksa.
Dan nggak lama, Nova pun turun dengan baju kantoran juga.
"Hari ini mulai magang, Nov?" tanya Raksa.
"Iya, Bang!"
"Assalamualaikum!" suara seseorang dari luar.
"Kayak kenal suaranya!" mata Raksa mengikuti kemana adiknya bergerak. Dia menunggu siapa yang akan muncul.
"Masuk, Bang!" ucap Nova yang masih kedengeran dari ruang makan.
"Ajegileeee, udah siap aja nih kakak ipar?!! mau kemana?" tanya Farid yang kemudian menyalami Raksa dan Kalin.
"Mau kondangan!"
"Jadi pager burik lo? kok kondangan jam segini?" tanya Farid yang melesetin pager bagus jadi pager burik.
"Gue mau interview bukan mau kondangan!" ucap Raksa.
__ADS_1
"Dimana?"
"Ada lah pokoknya! yang jelas bukan di perusahaan lo!"
"Eh, Farid? kapan dateng?" bu Selvy yang udah welcome banget dengan Farid.
"Baru aja, Buk?" Farid udah manggil ibuk bukan tante, sedangkan Raksa cuma geleng-geleng kepala doang. Ternyata usaha Farid sudah sejauh itu, pikirnya.
"Sarapan, Farid!" bu Selvy nawarin farid buat ikutan sarapan bareng dengan anak-anaknya.
"Pagi, Buk?" suara pak Hendra yang baru aja bergabung dengan yang lain.
"Wah rame banget ya?" tanya pak Hendra.
"Pak?" Farid langsung menyalami tangan calon mertua. Raksa hanya bisa berdecih melihat kelakuan Farid yang over sopannya pada ibuk dan bapaknya.
"Kamu sudah sarapan belum, Farid? kalau belum aypo, ikut sarapan bareng!"
"Hahhah, saya jadi malu, pak!"
"Nggak usah malu-malu, kalau malu nanti lapar! masakan ibuk sangat enak loh!" kata pak Hendra.
"Siap, Pak!" Farid dengan santainya duduk berhadapan dengan Raksa.
"Nih kenapa berdua diem-dieman? lagi marah-marahan apa gimana?" tanya Farid, menunjuk Raksa dan juga Kalin.
"Nggak! Bu, cuma lagi sariawan aja!"
"Sariawan? oh berarti kamu harus minum jamu lagi,"
"Jangan aneh-aneh, Buk! dua mau kerja, bisa tepar seharian dia disana!"
"Ya sudah kamu bawa aja, nanti kalau udah makan siang nanti kalian minum!" bu Selvy keukeuh nyuruh anaknya menghabiskan ramuan entah warisan dari leluhur mana, yang jelas Raksa denger itu bisa menyuburkan bagi pasangan yang ingin memiliki anak.
Nggak sengaja waktu ibunya laporan pada Oma Nilam, Raksa denger makanya setiap hari Raksa nyuruh Kalin buat keramas. Meskipun malamnya mereka sama sekali nggak ngadon kue, lagian belum ada pembicaraan sampai kesana. Apa yang mau mereka prioritaskan dan kedepannya mereka mau ngapain dan apa yang mau dicapai.
Farid jelas seperti orang yang sengaja mengosongkan perutnya demi mendapatkan nutrisi makanan enak di rumah calon mertuanya.
"Raksa sudahs elesai. Raksa duluan!"
"Loh? kamu sama Kalin nggak berangkat bareng?" tanya Ibuk yang ngeliat menantunya masih duduk, sedangkan Raksa udah berdiri dan menyambar tasnya.
"Aku tunggu di luar!" ucap Raksa.
"Astaga, anakku kenapa?" tanya bu Selvy.
"Apa dia masih kurang jatah?" tanya bu Selvy pada Klain.
__ADS_1
"Ehm, Kalin juga sudah selesai. Kalin ijin berangkat, Bu..." ucap Kalin dia menyalami bu Selvy.
"Ini bawa buat kalian minum,"
"Itu apa sih, Bu? perasaan banyak banget stoknya di kulkas!" Nova yang masih kepo, tapi dia nggak berani minum. Soalnya keliatannya sih kayak syrup tapi baunya itu loh masya allah banget. Liat Kalin minum aja wajahnya samp[e pucet, kalau Nova mah ogah disuruh minum-minuman yang nggak jelas rasanya kayak gitu.
"Ini bagus untuk wanita yang sudah menikah!" kata bu Selvy.
"Diminum ya sayang ya?" bu Selvy lembut banget saat memberikan dua botol kemasan yang sengaja udah di takar oleh Oma Nilam dan dikerjakan sama pembantunya.
"Assalamualaikum!" ucap Kalin, dia meraih tangan ibu mertuanya.
"Gue duluan!" lanjut dia menepuk bahu Nova yang hari ini merupakan hari pertama magangnya di perusahaan dimana Farid bekerja.
Kalin mengambil heels yang ada di rak sepatu yang ada di depan, sementara Raksa lagi siap-siap pakai jaket dan juga sarung.
Wanita itu terburu-buru pakai heelsnya sampai dia hampir saja kesandung gara-gara kurang hati-hati.
Satu tangan Raksa nyodorin helm pada istrinya, "Cepetan! udah siang!"
Kalin pun mengambil dan memakainya. Tapi masalahnya bukan hanya imi udah siang, tapi ternyata ktika dia duduk di motor, rok spannya itu keangkat.
"Pegangan!" suruh Raksa dan...
Nguenggggg!!!
Pria itu memacu kendaraan bermotornya itu. Bisa aja dia pinjem mobil bapaknya, tapi sengaja dia pakai motor, biar Kalin tau kalu baju yang dia pakai saat ini beneran kependekan. Nggak tau badan Nova yang makin kecil, makin kurus maksudnya atau badan Kalin yang sedikit lebih berisi. Makanya baju Nova dipakai Kalin agak sedikut ngepres.
'Perasaan ukuran kita sama deh!' batin Kalin.
Dia duduk menyamping dengan satu tangan yang memeluk pinggang suaminya dan satu tangan pegangin tas yang diselempangin ke depan sambil nutupi bagian depan roknya. Mau ganti baju udah nggak mungkin, karena yang ada Raksa bakalan telat.
Sepanjang perjalanan, mereka nggak ngomong sama sekali, cuma kedengeran suara ngang ngeng ngong kendaraan yang saling salip menyalip, seakan ingin menjadi pemburu waktu yang paling cepat.
Raksa sengaja nurunin Kalin tepat di loby kantor milik mertuanya, "Kabarin kalau udah selesai!" ucap Raksa.
Dia terima helm dari Kalin.
"Kamu hati-hati..." Dan pas Kalin mau balik, Raksa mencegahnya dengan satu kalimat perintah.
"Kesiniin botol yang dikasihkan sama ibu. Itu jamu bukan jamu biasa. Itu jamu penyubur, biar aku aja yang simpen!" kata Raksa, dia tengadahin tangannya meminta tas kecil yang Kalin bawa.
"Penyubur?" gumam Kalin yang menyerahkan tas kecil itu dengan ragu, dia kini hanya membawa tas dengan selempang rante.
"Sana masuk!" Raksa kemudian menyuruh Kalin buat masuk ke dalam.
Kalin menyambar tangan Raksa sebelum masuk dengan rambut panjang lurus yang digerai begitu saja.
__ADS_1
Setelah memastikan istrinya berada di empat yang aman, baru lah Raksa pergi dari sana.