Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Deal?


__ADS_3

Setelah malam itu, Kalin beraktivitas seperti biasa begitu juga dengan Raksa. Hanya butuh dua tiga hari Kalin ngerasain hati yang tercabik-cabik karena ulah Reno. Mungkin karena dia yang baru aja putus, tapi selalu ditemenin omelan dari Raksa bikin Kalin bukannya menangisi perpisahannya bareng Reno, ini malah sibuk bertengkar dan cakar-cakaran dengan pria yang 9 tahun lebih tua darinya.


Dan hal ini yang diharapkan orangtua Kalin, supaya anak mereka lepas dari tipu daya Reno yang selalu bersembunyi dibalik kata 'pinjem duit lo dulu, ntar gue ganti'


Untungnya utangan Reno udah diganti sama Arkan, jadi sekarang Kalin beneran udah nggak ada sangkut paut sama sekali dengan mantan pacarnya itu.


Beda dengan Kalin yang disambut hangat bundanya saat pulang semalam, sebaliknya Reno disambut tatapan dingin ayahnya. Sejujurnya hubungan Reno dengan ayahnya kurang baik selama setahun terakhir. Reno selalu ngerasa kalau hanya Nadila yang menyayanginya dengan tulus. Reno untung bawa tas gendong, buat ngumpetin baju yang habis dibelinya bareng melody. Minimal dengan barang-barang itu, Reno bisa ngerasain seneng meskipun itu hanya bertahan sesaat. Dia merasakan angin surga ketika di luar, dan merasakan hujaman kesepian ketika di rumah.


Hubungan Reno dan Melody pun semakin dekat dan mengiyakan gosip di sekolah tentang kedekatan keduanya.


"Udah kelar kan patah hatinya?" tanya setengah berbisik Nova saat mereka lagi di perpustakaan.


"Kenapa emang?" Kalin berbalik, dia menarik satu buku yang menarik perhatiannya.


"Nggak apa-apa, kan beberapa hari lagi kita mau ujian. Jadi, lo mesti fokus sama sekolah dan menyingkirkan semua kenangan yang nggak bagus tentang Reno. Dan apapun yang lo liat kemarin," lirih Nova.


"Iya, Nov. Gue juga tau. maksih ya, lo selalu support gue, bahkan di situasi yang kayak gini," Kalin merangkul bahu Nova dan mengajaknya buat menempati salah stau bangku.


Menjelang ujian, guru-guru udah mulai menghentikan semua pelajaran dan fokus pada persiapan ujian. Siswa tetep berangkat cuma ya kayak gini nggak ada pelajaran. Katanya, para murid udah dikasih cukup bekal untuk ujian, jadi mereka dibiarkan untuk rehat sejenak dari pelajaran dan les yang diberikan di sekolah.


"Harusnya kita diliburin aja ya, ngapain berangkat kalau cuma disuruh ke perpustakaan. Gue nggak ngerti deh! kebanyakan baca, mata gue liyeur lama-kelamaan ngantuk tau, nggak?" Nova yang duduk tapi ogah-ogahan.


"Shhhhhtttt, jangan berisik! ini perpus! kalau mau ngobrol di luar!" ucap penjaga perpus.


Nova cuma nyengir, dan nutupin wajahnya pakai salah salah satu buku.


"Lo ke ruang seni musik aja sono, banyak yang nyanyi-nyanyi disana. Jadi nggak ngantuk kan?" Kalin setengah berbisik.


"Males jalannya, gue!"


"Dasar, mageran!" ucap Kalin yang mulai membuka satu persatu lembaran dari buku yang ada di tangannya.


Sementara Arkan yang badannya lagi nggak enak, absen nggak masuk kerja. Tadi pagi ibunya datang buat memeriksa keadaan Arkan.


"Ibu nggak usah khawatir, Arkan nggak kenapa-napa kok, Buuuk. Mungkin kebanyakan lembur makanya jadi sakit,"


"Bukan karena luka di wajah kamu? sebenarnya kamu itu kenapa, Arkan?"


"Aku nggak kenapa-napa, Buk? aku cuma butuh istirahat sehari, habis itu bisa langsung kerja lagi..."Arkan yang masih bersembunyi di balik selimutnya.

__ADS_1


"Ya udah kalau kamu nggak mau cerita, ibu nggak akan maksa. Istirahat tapi jangan tidur ya? nggak baik tidur jam segini," Ibu yang pergi dengan membawa mangkok bekas makan Arkan. dia hanya menghabiskan setengah dari porsi yang seharusnya.


"Perasaan cuma dipukul sedikit sama Reno, tapi kenapa rasa sakitnya nggak ilang-ilang? makin ditahan makin nggak karuan, padahal udah minum obat..." Arkan yang ngeluh badannya yang nggak enak. Kemarin di kantor dia udah nggak fokus, ternyata sampai rumah badannya menggigil dan seketika tepar di kasur.


"Hadeeuuh, tiduran kayak gini bukannya mendingan malah tambah pusing!" Arkan bangun dan membuka selimutnya.


Dia melakukan gerakan peregangan, supaya sendi-sendinya nggak ada yang kaku. Tapi karena emang lagi meriyang, bukannya merasa lebih baik. Arkan ngerasa badannya mulai muncul lagi keringet dingin.


"Huufhh, kayaknya Reno punya aromaterapi yang biasa dia olesin kalau lagi sakit perut!" Arkan keluar dari kamarnya menuju kamar adiknya yang ada di sampingnya.


"Assalamualaikum, Ren! abang pinjem aromatherapinya,"


Meskipun nggak ada Reno, Arkan tetap sopan untuk masuk ke kamar adiknya sendiri.


Arkan mendekat ke arah meja belajar, matanya langsung menangkap sebuah benda botol kaca yang berwarna hijau.


"Alhamdulillah ada," Arkan memegang benda itu dengan perasaan lega, karena seenggaknya benda itu bisa membuatnya bisa lebih baik.


Puk!


Aromatherapi yang dipegang Arkan tiba-tiba terlepas dari tangannya.


"Untung nggak pecah!" Arkan membungkuk untuk memungutnya. Namun saat matanya mengarah ke kolong meja belajar, ada sesuatu yang aneh yang tertangkap indera penglihatannya.


Arkan yang penasaran, menjulurkan tangannya dan mendapatkan sesuatu. tangannya membuka isi papper bag yang ketekuk-tekuk.


"Baju?" Arkan ngeliat beberapa baju yang masih terbungkus rapi.


"Dia belanja lagi? tapi duit darimana? apa iya Reno masih punya duit sisa minjem dari Kalin?" Arkan bertanya-tanya. Dia masukin baju itu dan balikin tuh papper bag ke tempat semula.


Arkan kembali berdiri dan meninggalkan kamar Reno.


Sedangkan makin kesini, Reno makin nggak konsen belajar di sekolah. Dia juga nggak begitu peduli dengan ujian yang sebentar lagi jadi momok tersendiri bagi sebagian besar siswa.


Beb? nggak masuk sekolah? kenapa? sakit?


Dulu saat dirinya bareng kalin, chat kayak gini yang bikin Reno kesel, karena ngerasa risih harus lapor mulu sama pacar. Tapi sekarang, dia ngelakuin hal yang dulu begitu dibencinya.


"Kenapa? kok cuma centang satu?" Reno nautin kedua alisnya.

__ADS_1


"Nggak biasanya hapenya mati?" lanjutnya.


"Kantin yok?" ucap salah satu teman geng nya yang membuyarkan pikiran Reno tentang Melody yang daripagi nggak ada kabar sama sekali.


"Gue---"


"Udah, lo sekarang susah amat diajak kumpul?!!" dua teman Reno yang lainnya, narik paksa laki-laki yang bisa dibilang paling pinter diantara mereka berlima.


Reno dibawa ke kantin, dia disuruh duduk dan diapit dua temennya. So, dia nggak akan bisa kabur kemana-mana. Sedangkan yang dua lagi ke toilet.


"Gue perhatiin semenjak lo deket sama Melody, lo udah makin susah diajak kumpul sama kita!" ucap salah satu teman Reno yang bernama Jerome.


"Perasaan lo aja kali," Reno ngeles.


"Sini lo!" Antony manggil salah satu junior yang kebetulan deket dari meja mereka.


Cowok dipanggil Antony nunjuk dirinya sendiri, celingukan gitu ngeliatin temen-temennya.


"Iya lo, siapa lagi tokek?! sini, cepet!" Antony nggak sabaran.


Sementara Antony yang nyuruh junior nya pesenin makanan karena mereka cowok kece yang nggak mau repot antre, dua orang yang lain dateng.


Wendy dan Mattew duduk berhadapan dengan Jerome dan juga Antony yang mengapit Reno.


"Bentar lagi ujian, tapi gue males buat mikirin itu. Gimana kalau kita ngadain party di rumah Matt. Ortu dia kan minggu depan pergi ke Swedia. Jadi kita bebas tuh ngadain party sampai pagi!"


"Atur aja waktunya, ntar gue siapin layar gede supaya kita bisa main game-nya lebih mantep!" kata Matt yang kagak pernah ada masalah dengan uang jajan.


"Tapi bukannya kita harus nyiapin diri buat ujian?"


"Halah, lo kan pinter. Selama ini juara paralel terus di sekolah. Ngapain lo khawatirin hal begitu, belajar tiap hari juga nggak akan bikin lo kaya raya. Kecuali lo terlahir kaya Matt, duitnya kagak akan habis meskipun dikuras tiap hari!" kata Antony.


"Kagak kaya Riani mantan lo yang duit parkiran aja diminta kembaliannya ya, Wen?"


"Hahahah, sialan lo?" Wendy ketawa saat mantan pacarnya disebut.


"Jadi, kali ini lo nggak boleh absen! dan siapapun nggak boleh bawa pacar atau gebetan! bikin ruwet doang yang ada!" Antony bikin rules diantara mereka berlima.


"Oke? Deal?" Antony melihat satu persatu temannya.

__ADS_1


"Deal!" sahut yang lain kecuali Reno.


__ADS_2