Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Pernikahan Tetap Pernikahan


__ADS_3

Hari itu, Raksa nggak pakai ketiduran ataupun lembur yang memungkinkan dia bakalan ketemu sama Rahmi.


Mantan pacarnya itu saja sampai nggak tau kapan Raksa pulang, sedangkan Farid yang ditelpon pun nggak menggubris pertanyaan Rahmi, perihal kemana perginya Raksa.


Sementara Kalin, sudah semakin kinclong karena perawatan yang dijalaninya.


"Kenapa harus dihias?" tanya Kalin saat melihat beberapa orang masih mendekor rumah mereka.


"Bukannya pernikahan ini akan dilakukan secara sederhana?"


"Tapi pernikahan tetap pernikahan. Raksa nggak mungkin mengulang ijab qobulnya, dan amit-amit jangan sampai itu kejadian..."


"Emang kenapa?" tanya Kalin.


"Pokoknya jangan sampai! bunda pengennya pernikahan kamu ini lancar, nggak ada halangan suatu apapun," kata bunda.


"Sekarang kamu makan dan istirahat, kamu harua tampil segar untuk besok pagi," kata bunda.


Kalin duduk di meja makan dan makan apapun yang ada di piringnya. Dia melirik hapenya saat ada chat masuk dati calon suaminya.


📲Gue udah sampai rumah!


Kalin pun membalas.


📲Ya? terus?


Dan perdebatan itu pun terjadi, hanya karena Raksa yang memberi tau kalau dia sudah pulang dengan selamat dan sentosa.


"Bun? Kalin ke atas lagi ya?" kata Kalin yang mendapat panggilan dari Mamang.


"Ya, Sayang!" seru bunda.


Dengan setwngah berlari Kqlin masuk ke dalam kamarnya.


Brak!!


"Ya, halo?" Kalin menutup telepon sembari menjawab telepon dari calon suaminya.


"Gimana? besok udah siap jadi pengantin?" tanya Raksa.


Pipi Kalin bersemu, "Kalau nggak siap gimana?"


"Ya harus!"


"Dih, maksa!" kata Kalin.


"Biarin!"


Mereka pun terdiam, Kalin tiduran di atas ranjangnya.


"Jangan tidur kemaleman!" kata Raksa.


"Sama aja pesennya kayak bunda!


"Ya kan bocil jam 9 dah harus tidur. Oh ya, tadi aku belum ajuin resign..."


"Kenapa? udah berubah pikiran?" tanya Kalin sengaja memancing keributan.


"Mana mungkin gue berubah pikiran. Pernikahan ini udah gue pikirin mateng-mateng!" kata Raksa.


"Gue capek banget hari ini," lanjutnya.


Nggak biasanya Raka cerita tentang pekerjaan pada Kalin, tapi sore itu Raksa merasa kalau dia lelah dan pengen secepetnya bawa Kalin pergi. Dia pengen hidup yang tenang meskipun kehidupan di luar pasti lebih menantang.

__ADS_1


"Capek kenapa?" lanjut Kalin nanya.


"Capek aja. Gue pengen ngerasain hidup yang lain. Hidup berdua sama bocil misalnya," kata Raksa.


Dan ucapannya itu sukses bikin Kalin bersemu lagi, "Gue mau mandi! gue tutup dulu, bye Mamang!!!"


Kalin segera menutup teleponnya sedangkan refleks tangannya mengambil bantal unruk menutupi wajahnya.


Sedangkan Raksa yang kesekian kalinya mendengar panggilan Mamng untuknya pun hanya bisa mendengus, "Haiissssh, dasar bocah nakal! maaih aja dia panggil gue dengan sebutan Mamang!"


Raksa yang sudah berada di kamarnya, membuka kancing di tangannya, dia juga membuka beberapa kancing bajunya.


"Kayaknya gue juga perlu mandi buat nyegerin badan dam otak gue!" Raksa pun segera bangkit dan pergi menuju kamar mandi.


Semalaman itu Raksa dan Kalin nggak saling menghubungi. Keduanya sibuk mempersiapkan batinnya masing-masing.


Sementara, Rahmi merasa ada yang janggal dari Raksa. Dia merasa kalau mantan pacarnya itu menghindarinya terus menerus.


Dia melamun sambil memikirkan kenapa Raksa berubah begitu cepat.


Tok!


Tok!


"Mi? keluar ada pandu!" ucap mamanya


"Suruh pulang aja, Mah! aku capek, aku ngantuk!"


Ceklek!


"Jangan gitu kamu, Rahmi. Dia datang khusus menemui kamu?!" paksa mama Rahmi.


"Tapi aku capek banget, Mah!"


"Mandi dan temui sebentar. Lagi pula udah jam segini, nggak boleh tidur waktu maghrib!" kata mama Rahmi yang kemudian menutup pintu.


Rahmi menemui pandu aetwlah dia menghabiskan waktu untuk menyegarkan diri.


"Ngapain kesini?" tanya Rahmi.


"Buat nemuin lo,"


"Ya itu juga gue tau. Maksusnya mau ngapain lagi?"


"Gue cuma nurutin apa kata nyokap gue, Mi.." kata Pandu.


"Berarti kalau nyokap lo masuk ke comberan lo bakal lajuin juga?"


"Ya mungkin!" kata Pandu.


"Berbakti banget kalau gitu, ya?" Rahmi dengan nada yang sinis.


"Ya harus. Cuma itu yang bisa gue lakuin buat saat ini,"


"Pandu, gue tuh nggak suka sama lo. Gue udah punya cowok lain. Gue mau nikah sama dia,"


"Ya terus?"


Namun pembicaraan mereka berdua harus terjeda saat ibunya Rahmi datang untuk membawakan minuman.


"Diminum, Nak! tante tinggal dulu, ya? kalian labjutin ngobrolnya," kata mama Rahmi.


"Ya, Tante..." ucap Pandu sopan.

__ADS_1


'Sesopan apapun lo sama ma, gue nggak bakal terpikat. Hati gue, cuma buat Raksa...' batin Rahmi.


Sedangkan Pagi harinya...


Raksa sudah bangun sedari subuh. Dari kemarin dia berusaha untuk menghindari Rahmi yang semakin hari semakin getol mendekatinya.


Bu Selvy dari semalam sudah sibuk menyiapkan mas kawin yang sudah dimasukkan ke dalam sebuah kotak yang didalamnya ada patung berbentuk leher.Dan beberapa barang lainnya yang bu Selvy siapkan untuk sang calon menantu.


"Sa? Raksa, ibu masuk ya?" seru bu Selvy sembari mengetuk pintu kamar anaknya.


"Ya, Bu! masuk aja," kata Raksa yang sudah siap dengan jas berwarna putih.


"Kenapa? deg-degan?" tanya bu Selvy. Yang berdiri di samping anaknya yang lagi ngaca. Kayaknya berdiri di sana sudah lebih dari setengah jam, tapi Raksa ngerasa kalau tampilannya belum sempurna.


"Hey? ibu tanya! kamu deg-degan?" bu Selvy yang ngerasa dicuekin.


"Iya lah, Bu! deg-degan. Masa iya nggak deg-degan?!"


"Inget, jangan salah sebut nama calon mertua!" bu Selvy ngingetin.


"Diki Arya Cayapata! inget jangan salah sebut nama calon mertua kamu sama calon istri kamu!" imbuhnya.


"Iya, Bu! tenang, Raksa sudah hafalin semuanya!" ucap Raksa mantap.


"Baiklah, Nak! nikmati detik-detik terakhirmu jadi bujangan!" kata Bu Selvy.


Raksa tertawa mendengar ucapan dari ibunya, "Detik-detik terakhir jadi bujangan?"


"Kalau sudah siap, cepat turun ke bawah. Sarapan dulu, takutnya kamu pingsan pas ijab qobul!" ucapnya lagi sebelum pergi.


Sedangkan Raksa masih melihat pantulan dirinya, "Gimana mau makan? orang udah pakai jas begini?!"


Pria itu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Dia pun turun mengikuti perintah sang ibu.


Dan sudah bisa ditebak, dibawah sudah riweuh hantaran yang akan dibawa ke rumah Kalin.


"Taruh dulu aja, Pak di mobil!" kata ibu pada suaminya yang mondar-mandir memasukkan barang-barang yang menjadi hantaran.


"Kamu duduk!" Raksa dipaksa untuk duduk.


Dan...


Sreeettt!!!


bu Selvy memakaikan appron yang mirip tukang cukur.


"Buk? aku mau diapain ini? udah jam segini loh? masa mau dicukur?" tanya Raksa yang tau emaknya paling demen nyukur rambutnya. Karena dulu bu Selvy pernah buka salon. Tapi karena riweuh ngurus anak, akhirnya salonnya tutup dan sampai sekarang nggak pernah buka lagi.


"Siapa yang mau nyukur? tapi ibu mau nyuapin kamu..." ucap bi Selvy yang kemudian menarik kursi dan duduk di depan anaknya.


"Bagaimanapun hari ini kamu akan menikah, setelah hari ini kamu punya tanggung jawab lain. Menjadi seorang suami," kata bu Selvy yang lagi-lagi pengen bikin mewek anaknya.


"Ibuuuukkk??!" Raksa tersentuh dengan kasih sayang ibunya.


"Buka mulutnya, ini dikasih begini biar jas kamu nggak kotor kena makanan!" bu Selvy menyodorkan satu sendok nasi dan lauknya.


"Diih, kok cuma abang yang disuapin? aku juga mau dong, Buuuuk?" Nova ikut merajuk.


Niatnya bu Selvy cuma nyuapin Raksa, akhirnya dia harus membagi suapan itu untuk anak bungsunya.


"Kamu makan sendiri, Nov!" ucap Raksa.


"Nggak mauuu, " Nova sengaja ngeledek.

__ADS_1


"Sampai kapan kalian berdua bakal ribut terus?" bi Selvy menabok bibir kedua anaknya dengan telapak tangannya.


"Cepat makan yang banyak, sebentar lagi kita akan berangkat!" lanjut bu Selvy.


__ADS_2