
Kalin masuk ke dalam kamar Nova dengan membawa ingatan saat dia duduk bersama Raksa di tangga paling atas.
'Gue nggak tau kenapa orangtua kita begitu ngotot supaya kita bisa bersama. Tapi gue yakin apapun alasannya, mereka pengen ngasih yang terbaik buat anaknya. Terutama buat lo,'
'Om Diki pasti udah mempertimbangkan semuanya, sampai dia bisa milih gue buat jadi calon suami anaknya! jadi, menolak pun rasanya percuma. Yang bisa kita lakuin cuma menumbuhkan rasa cinta itu. Nggak usah terburu-buru, kita jalani aja semua pelan-pelan..." ucapan Raksa terngiang di kepala Kalin.
"Lo udah balik? darimana aja?" Nova kreyep-kreyep setengah sadar.
"Gue? ehm, gue dari kamar mandi tadi!" Kalin setengah gugup.
"Boker lama banget lo?" Nova merem langi. Dia todur miring, anduknya udah berantakan.
Kalin yang ngeliat itu ambil handuk yang udah nggak jelas bentukannya, dia sampirin aja di kursi belajar Nova.
"Katanya mau nonton drakor, udah molor aja dia!" kata Kalin yang goleran, nggak bisa tidur. Miring kanan kiri dan telentang pun sama aja, nggak bisa bikin dia merem. Apalagi kalau inget pertium-tiuman itu, tambah nggak bisa otewe ke alam mimpi.
Raksa pun sama aja, dia masih melek di kamar nya.
"Kayaknya gue udah nggak waras! bukannya gue menolak perjodohan ini, eh malah gue makin terjerumus ke dalamnya. Tuh bocah kan yang bikin gue riweuh terus. Tapi kenapa gue malah minta dia buat berusaha cinta sama gue? bahkan gue sendiri belum yakin, apakah kita berdua udah kelar dengan masa lalu kita masing-masing?" Raksa ngomong sendiri.
Dia sendiri bingung dengan perasaannya, tapi setiap ngeliat cowok lain menunjukkan ketertarikannya pada Kalin, dia ngerasa marah dan nggak suka. Dia pengen mempertahankan Kalin, dia nggak pengen ada orang lain memiliki gadis itu.
Sedangkan di rumahnya, Farid pun mondar-mandir kayak setrikaan. Dia pegang dagunya sambil mikir dan terus mikir.
"Mending gue kasih tau, Tania deh!" ucap Farid.
"Gue udah nggak bisa misahin Kalin dari Raksa, lah gimana misahin? orang mereka udah saling suka!" ucap Farid yang kemudian menekan kontak Tania di hapenya.
"Malem, cantik?!!" sapa Farid.
"Ada apaan, Rid?"
__ADS_1
"Nggak ada apa-apaan, pengen denger suara bantal lo aja..." Farid kini duudk di tepi ranjangnya.
"Gue ngantuk!"
"Elah, ngantuk terus?! periksa gih, kali aja butuh vitamin. Gue takut lo sakit," Farid sok perhatian.
"Ini tuh udah malem, Rid. Jadi wajar lah gue ngantuk," kata Tania.
"Betewe gue habis jalan sama Raksa..." Farid mau jual cerita.
"Jalan? sama Raksa? kemana?" Tania yang tadinya mau nutup telepon akhirnya nggak jadi.
"Bukan sama Raksa aja, tapi sama Nova dan kalin juga..."
"Nova? Nova siapa?" Tania mulai kepo.
"Nova adek perempuannya Raksa. Gue sama Raksa nemenin dua bocil ke acara prom," jelas farid.
"Ya, gue mah kan nemenin adeknya Raksa. lebih tepatnya jagain, biar nggak kayak bocah ilang. Dan setelah gue liat-liat dengan seksama. Kayaknya kita percuma aja deketin Rahmi sama Raksa. Kayaknya mereka udah nggak ada harapan lagi..." kata Farid.
"Kenapa?" suara perempuan lain. Bukan tania tapi Rahmi.
"Rahmi?" Farid melongo.
"Kenapa? kenapa lo bilang udah nggak ada harapan lagi?" tanya rahmi.
'Anjaay, kenapa Tania nggak bilang kalau dia lagi sama Rahmi? kalau kayak gini gue kan yang apes. Mau jawab apa gue?' Farid dalam hatinya sendiri.
"Farid? lo masih disitu, kan?" tanya Rahmi.
"Ehm, ya! Sinyal gue kayaknya yang kurang bagus. Jadi agak tersendat tadi pas lo ngomong..."
__ADS_1
"Jadi, kenapa lo bilang nggak ada harapan lagi?" Rahmi keukeuh nanyain.
"Ya, soalnya. Gue liat sendiri Raksa sama tunangannya itu udah saling suka..." ucap Farid yang otomatis memfilter ucapannya. Dia nggak mau bilang, soal Raks adan kalin yang ada di dalam mobil. Meskipun Raksa bakal mengelak, tapi Farid ini bukan anak kemaren sore yang belum punya pengalaman.
"Nggak mungkin. Raksa itu---" Rahmi nggak melanjutkan ucapannya, kayaknya nggak penting juga buat ngejelasin sama Farid kalau Raksa itu udah tahap ngelamar dia. Bersedia buat menikahi Rahmi bahkan dia rela keluar dari perusahaan buat mempertahankan hubungan mereka, jadi udah ketauan kan betapa besarnya cinta Raksa buat Rahmi.
Jadi menurutnya mustahil, seorang bocil bisa mengubah perasaan cinta seseorang dalam waktu singkat. Rahmi masih yakin kalau dia belum terlambat buat ngebalikin hatinya Raksa lagi. Seandainya aja dia tau kalau si Tania kagak demen sama Raksa, mana mungkin dia ngelepasin pria itu. Putus dari Raksa berasa bikin dunia nya runtuh. Nyatanya dia juga nggak bisa menerima pria yang dijodohin juga sama dia namanya Pandu. Meskipun pandu juga getol ke rumah, tapi tiap ketemu ya Rahmi bakalan banyak diem nya.
"Jadi Raksa kenapa, Mi?" tanya Farid setelah sekian lama Rahmi terdiam.
"Nggak ada, nggak ada apa-apa, Rid..." kata Rahmi, dia lalu menutup telepon itu secara sepihak.
Farid yang teleponnya main ditutup pun udah feeling, "Gue nggak ikut-ikutan ah?!! kalau dia masih mau usaha ya silakan, tapi gue udah nggak mau bantuin lagi. Takut kena karma gue?! ntar yang ada gue nggak ketemu jodoh sampai tuwir, dih amit amit coooy coyyy!" Farid ngetok kepalanya.
Jadi total ada tiga orang yang malem ini sama-sama nggak bisa tidur. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Beralih pada Rahmi, wanita yang lagi nginep di rumah sepupunya, Tania itu pun cuma bisa meluk guling. Air mata pun meleleh ke pipinya. Di dalam hati nyesek banget, denger kalau sang mantan udah otewe move on.
'Gue nggak boleh biarin itu! gue yakin, Raks amasih cinta sama gue. Kalua Raksa mau balikan sama gue, gue nggak peduli sama kerjaan. Gue bersedia jadi ibu rumah tangga, gue nggak akan mikirin karir. Jadi dia nggak perlu keluar dari perusahaan itu...' kata Rahmi.
tania yang tadi keluar mau ambil air minum pun keder, karena Rahmi udah tiduran aja.
"Mi? Farid udahan telponnya?" tanya Tania.
"Udah..."
"Dia bilang apa lagi?" tanya Tania.
"Nggak ada, dia cuma bilang kalau gue sama Raksa udah nggak mungkin balikan. katanya Raksa udah suka sama tunangannya itu..." ucap Rahmi.
"Lo yang sabar ya, Mi. Gue yakin si Farid salah info doang! ntar gue kasih pressure dia lagi, biar dia bantuin kita buat jauhin Kalin dari Raksa . Gue yakin, si kalin cuma jadi pelarian doang?! cinta yang seutuhnya ya buat lo, gue yakin itu..." Tania ngusap lengan sepupunya.
Rahmi bangun dan meluk tania, "Makasih ya, tan..."
__ADS_1
"Andai lo nggak salah paham, pasti beda lagi ceritanya. Nggak akan serumit ini, Mi..." ucap Tania yang menjadi penyesalan juga di hati Rahmi