
Setelah ngobrol cukup lama di kantin, Raksa dan Farid kembali kerja. Sedangkan Raksa sendiri masih belum bisa nerima kabar siang ini yang bukannya bikin seneng tapi malah bikin spaneng.
Gaji emang bakalan naik, tapi tanggung jawabnya juga nggak main-main. Sebenernya dia nggak begitu ngincer jabatan. Dia orangnya woles, bahkan lebih woles dari siapapun. Soal kerja di jam makan, itu cuma karena males aja ke kantin dan ujung-ujungnya juga ketemunya sama mantan mulu. Nggak baik buat kesehatan memori nya.
Dan sekarang pulang kantor pun, Raksa pulang mampir beli es cendol pesenann Nova. Es cendol yang sama yang dia beli waktu mampir ambil motor adeknya di sekolah.
"Assalamualaikum," ucap Raksa dengan wajah yang kurang bersemangat.
"Waalaikumsalam," sahut ibu dari arah dapur.
Raksa mendekat, dia meraih tangan ibunya sambil ngasihin bungkusan.
"Titipannya Nova, Buk?!" ucap Raksa.
"Raksa ke atas, ya?" lanjutnya tanpa ngeliat ibunya yang ngerasa aneh.
"Kenapa lagi tuh bocah? lemes begitu? jangan-jangan sakit?" ibu ngeliatin anaknya yang jalan dengan langkah putus asa menuju kamarnya.
Sampai di lantai atas, dia pun langsung ke kamarnya. namun sesaat dia inget sesuatu.
*****Tok*****!
Tok!
Tok!
"Nov? titipan lo ada dibawah?!!" seru pria itu, lantas dia kembali menuju tujuan utamanya, kamr!
Pintu ditutup dan dia mulai lepas dasi dan kancing kemeja di tangannya. Mau tiduran di kasur, tapi dia nggak biasa.
"Gue mandi dulu kayaknya!" dia ambil anduk dan baru keinget sesuatu.
"Tuh bocah udah balik ke rumahnya belum ya? kok gue lupa?" gumam Raksa saat ngambil anduk.
"Udah kayaknya ya. Nggak ada mobilnya juga di depan..." Raksa peregangan bentar lalu keluar kamarnya.
Tok!
Tok!
"Ada orang nggak?" seru Raksa.
Nggak ada jawaban, Raksa pun buka pintunya.
Ceklek!
Dan...
Beneran nggak ada orang!
Raksa tutup pintu lanjut ketemu sama sabun dan kawan-kawan. Dia sengaja sampoin tuh kepalanya, biar pikiran-pikiran ruwet bisa ilang kebawa busa yang keguyur sama air.
Baru juga mijit-mijit kepalanya yang puyeng, ada yang ngetok pintu.
Tok tok tok!
Suaranya bukan kayak orang ngetok tapi lebih mirip nggedor.
Tok tok tok!
"Iyaaa, bentaaaaaarrrrrrr?!!!" Raksa nyamber anduk dan tutupin pinggangnya.
__ADS_1
Dia buka pintu daaan....
"APAAN SIH, NOV?!!! ABANG LAGI MANDI NIIIIIIIHHHHH?!!!" Raksa dengan sekuat tenaga.
Namun...
Krik krik...
Yang di depan mata bukan Nova tapi Kalin yang mukanya pucet setengah ngantuk.
"Hah?" ucap Kalin dengan mata yang kemudian menutup seketika.
Brukkk!
"Eh, eh lo kenapa?!!" Raksa pun menangkap badan Kalin sebelum tubuh gadis itu negebentur lantai.
"Astagaa, kenapa nih bocah?" Raksa pun ngegendong kalin menuju kamar Nova.
"Nov? Novaaa? bukain pintu?!!"
Pintu pun dibuka dan nampaklah wajah keder adeknya.
"Abang? Kalin? abang kok gendong---"
"Nanya nya nanti aja, Nov?!! susah nih?!!" Raksa nerobos masuk dengan kepala masih penuh dengan busa.
"Abang lagi cosplay manusia busa?" tanya Nova lagi.
"Manusia busa? apalagiii? ngawur?!" Raksa pun ngerebahin Kalin di tempat tidur.
Raksa ngecek nadi dan hidung Kalin, "Alhamdulillah cuma pingsan doang?!' ucapnya.
"Abang takut-tkutin Kalin ya?" tuduhan bocil mengarah padanya.
"Takut-takutin apaan? emang gue bocah SD yang masih main gundu?!!" Raksa kesel.
"Mungkin nih bocah kaget aja tadi, soalnya abang buka pintu dan tereak. Abang pikir yang gedor pintu kamar mandi tu lo, Nov! makanya langsung abang semprot tadi..." jelas Raksa.
Untung Nova masih bocil, jadi pikirannya belum kemana-mana dengan posisi absurnya saat ini.
"Ya udah, pijitin aja pakai minya kayu putih. Abang mau bersihin sampo dulu, ntar abang balik lagi!" Raksa pergi dan lanjutin mandinya lagi.
Raksa buru-buru selesein mandi dan pergi ke kamarnya buat ganti baju santai. Ngerasa udah oke dan wangi, dia pun kembali ke kamar Nova buat nengokin tunangannya yang pingsan tadi. Ternyata di dalem udah ada ibuk yang bawa es cendol yang dia beli.
"Ini Kalin kenapa kamu buat pingsan begini, Raksa?!" bu Selvy nanya.
"Siapa sih? siapa yang bikin pingsan?!!" Raksa ikutan melipir dia duduk di salah satu sisi ranjang Nova.
"Kata Nova, Kalin habis disemprot kamu?bener? udah gede juga, udah tua pakai main semprot-semprot air. Kaget kan jadinya?!!" bu Selvy yang mejetin telapak kaki calon mantunya.
"Semprot air? apaan sih?" Raks ajadi bingung sendiri.
"Bukan semprot air ibuuuuuk! tapi bang Raksa buka pintun kamar mandi dan tereak di depan mukanya Kalin. Mungkin dia kaget dan jadinya pingsan!" jelas Nova.
"Apapun itu kamu yang salah!" kata bu Selvy nunjuk anak sulungnya.
"Ya udah iya, salah aku!" Raksa ngalah aja, daripada urusannya makin panjang.
"Kok diem ajaaaaaa?!" bu Selvy melotot.
"Terus aku harus ngapain, Buuuukk?" tanya Raks ayang adritadi perasaan salah mulu.
__ADS_1
Sedangkan Nova melet doang, dia lagi mijitin kepala Kalin.
"Nih, kamu pejetin kakinya kayak gini?!!" bu Selvy liatin gimana caranya dia mijitin kaki.
"Ya udah sini..." ucap Raksa.
"Kamu yang kesini! masa iya Kalin yang kesitu, Kalinnya aja lagi pingsan?!!" bu Selvy berdiri, dia nyuruh anaknya duduk di tempat bekas dia duduk tadi.
Raksa manut aja udah. Salah dia juga sih sebenernya, main tereakin orang, syukur yang diterakin cuma pingsan doang, coba kalau punya sakit yang lain? Bisa K.O wassalam di tempat yang ada.
Bu Selvy ngasih bau-bau an semacam aromaterapi kepunyaan Nova. Bocah yang sering abnget meriyang emang di kamarnya lumayan komplit dengan segala macam penangkal masuk angin. Kata bu Selvy, Nova ini mirip oma nya yang suka nyimpen balsem. Kalau dulu kan nggak ada aromaterapi, adanya balsem ya. Y audah, oma nya itu suka oles-oles balsem, katanya seger kalau ngecium bau mentol kayak gitu dan kesukaannya itu nurunlah sama Nova. Tapi lumayan ngebantu kalau lagi ada kejadian mendadak kayak gini, jadi nggak perlu gratakan kemana-mana cuma buat menjangkau sebotol minyak kayu putih dan kawan-kawannya.
"Emhhhh," Kepala Kalin mulai gerak.
"Lin? Lin? lo udah sadar?!" tanya Nova.
Kalinnya masih kreyep-kreyep, belum nangkep ucapan si Nova.
"Alhamdulillah!" ucap bu Selvy.
"Pijitin terus?!!" bu Selvy melotot lagi pada anak sulungnya.
"Iya, Buuukkk..." sahut Raksa tanpa bantahan.
Sedangkan Kalin mencoba beradaptasi dengan keadaan sekitar, dia berusaha melihat dengan benar.
"Nova? tanteee?" lirih Kalin, dia mencoba buat bangun tapi dicegah sama bu Selvy.
"Jangan bangun dulu. Kamu tiduran saja, tante buatin teh dulu..." bu Selvy mengusap pipi calon mantunya itu.
"Kamu jagain Kalin dulu ya, Nov?" suruh bu Selvy, pijitin kepalanya biar nggak pusing.
Bu Selvy pun keluar dan turun ke dapur, sesangkan Nova masih mijitin krpala temennya itu.
"Udah, Nov! gue udah mendingan kok?!" ucap Kalin.
Lalu dia ngeliat ke arah Raksa yang udah pakek pakean selayaknya manusia normal.
"Gue---" Kalin mencoba menarik kakinya.
"Udah lo tiduran aja! biar gue pijetin!" kata Raksa.
"Lo kenapa bisa pingsan sih?" tanya Niva.
"Gue pingsan? emang tadi gue pingsan?" Kalin malah nanya.
Nova pun berhenti mijetin keplaa sahabatnya itu dan bilang, "Lo pingsan di depan kamar mandi, noh tersangkanya?!" Nova nunjuk abangnya.
"Abis ditereakin abang, lo katanya langsubg pingsan!" lanjut Nova.
"Oh?" Kalin mulai mengingat kejadian itu.
Gue, ke bawah bentar. Gue pengen minta ibyk buat bikin bubur sum-sum, enak deh! tar ya?!" Nova pun beranjak dari ranjang dan pergi aja ninggalin abang dan temennya itu di satu ruangan.
"Udah, gue .. gue udah nggak apa-apa, kok!" Kalin mencoba menarik kakinya.
"Sorry ya? tadi bikin lo kaget! gue kira tadi si Ova yang gedor-gedor!" ucap Raksa tulus.
"Ehm, iya nggak apa-apa. Gue tadi pingsan bukan karena diteriakin, tapi liat mamang eh mamang. Liat lo yang penuh busa, gue nggak biasa!" kata Kalin, pipinya memerah mengingat 4 petakan sawah milik Raksa yang nggak sengaja dia lihat.
'Jadi dia pingsan bukan karena kaget dengan suara gue? tapi kaget ngeliat body gue?!' batin Raksa yang menebak dari ekspresi wajah Kalin.
__ADS_1