
"Kenapa sih? mayun mulu perasaan?!" ucap Kalin setelah sampai di rumah.
Sedangkan Raksa beneran diem nggak mau nanggepin. Dia buka jas dan dasinya sendiri.
"Dih, diem bae!" gumam Kalin yang ngeliat suaminya kayak bocah yang lagi ngambek. Berhubung nggak ada meja rias di kamar Raksa, Kalin hanya bisa mencopot semua perhiasannya di atas kasur lanjut dia bergerak ke arah kaca yang besar dan ngeliat kalau sekarang dia pakai gaun yang pakai retsleting di punggung.
"Nyusahin, aja!" ucap Kalin ngedumel lagi dia di depan cermin.
Raksa cuek aja dia buka kemejanya sendiri, udah gerah juga berjam-jam pakai baju itu, ya meskipun mereka di dalam ruangan ber-ac, ditambah lagi dia yang dicueki gara-gara kedatangan Om Bagus.
Kalin ngeliat bagian belakangnya lalu jalan ke arah pintu.
"Mau kemana?" tanya Raksa.
"Mau ke kamar Nova!" sahut Kalin ketus.
"Ngapain?"
"Minta bukain sleting!" ucapnya dengan tatapan sinis.
Raksa menarik tangan Kalin dan mengunci kamarnya, "Nggak usah ke kamar Nova, karena aku juga bisa!" ucapnya.
Kalin hanya diem aja, nggak memberontak saat dengan cepat tangan Raksa membuka sleting gaunnya, dan setelah itu dia pergi buka lemarinya buat ganti bajunya sendiri. Padahal bukannya apa-apa, Raksa juga harus menahan rasa yang lain di dalam dirinya. jadi selain dia lagi kesel sama Kalin, dia juga harus tetep waras buat mengendalikan pikirannya supaya tetep di jalan yang benar.
Tapi Kalin masih diem mematung, dia membiarkan punggungnya terbuka. Sedangkan Raksa enak aja ganti baju disitu, seakan di kamarnya hanya ada dia sendirian.
"Kenapa?" tanya Raksa saat kalin diem aja.
"Mau ganti baju!"
"Ya udah ganti ya ganti aja repot amat!" kata Raksa, dia bergerak ke arah ranjangnya.
"hih, ketus banget sih jadi orang!" ucap Kalin.
'Salah gue apa coba? pulang-pulang dijutekin mulu!' ucap kalin dalam hatinya.
Nggak ada pilihan lain, akhirnya pun dia mengganti gaunnya disitu juga, dihadapan Raksa. Raut wajah pria itu biasa aja, tapi di dalam hatinya jangan ditanya, panas dingin yang ada.
Kalin udah siap dengan piyamanya, dia ikutan tiduran. Mau turun rasanya nggak kuat, apalagi berjam-jm kakinya harus pakai high heels.
Gadis yang udahs empet duduk, bangun lagi dan ngerogoh kopernya buat ngambil minyak zaitun. beberapa tetes minyak itu diusapkan ke tanagan dan dia mulai memijit telapak kakinya sendiri. Namun, tanpa di duga pria yang bersamanya kini lantas berpindah dan meraih botol yang ada di samping kalin.
"Senderan!" ucap Raksa dengan perasaan yang masih dongkol.
"Udah aku bisa sendiri,"
"Udah senderan aja!" kata Raksa..
kalin [pun menyangga punggungnya dengan bantal sementara kakinya berada diatas paha suaminya, dengan perlahan Raksa mengurut telapat kaki Kalin. Dilihatnya tulang di dekat jempolnya sedikit bengkak dan juga di bagian mata kakinya nggak lupa Raksa urut.
__ADS_1
"Aduh aduh, sakit!" kalin mendesis, kakinya yang capek berasa sakit banget saat dipijit suaminya.
"Udah tau acaranya laama, pakai hak tinggi!"
"Ya terus masa aku harus pakai sendal jepit? atau bakiak? yang bener aja!" Kalin nggak mau kalah.
"Bocil kalau lagi dikasih tau ada aja jawabannya," Raksa ngedumel smabil tangannya dengan lihat memberi pijatan dengan gerakan maju mundur di daerah yang bengkak.
"Aduuuh, sakit!" Kalin meringis saat ibu jari Raksa menekan titik-titik tertenti di telapak kakinya.
"Awalnya doang sakit, tapi nanti nya juga nggak!" kata Raksa. Meskipun dia lagi kesel, tapi akhirnya dia nggak tega juga ngeliat kaki Kalin yang bengkak.
"Udah nanti mas capek," Kalin menarik kakinya.
"Lebih capek ngeliat istri sendiri ngobrol ketawa-ketawa sama cowok lain!" Raksa nyeletuk.
Kalin sebentar sebelum dia mengaduh lagi, "Aawwwwk! oh, ituu...." ucap kalin ditengah rasa sakit yang dia rasakan.
"Jadi Mamang lagi cemburu ceritanya?"
"Jangan panggil Mamang!"
"Iya deh sayang!" ucap Kalin.
Satu kata sayang dari mulut /kalin membuat Raksa melambung tinggi.
"Jadi kamu cemburu sama Om Bagus?"
"Nggak juga. Cemburu sih nggak, cuma kesel aja sama kamu," Raksa mengelak.
Raksa kemudian menyudahi pijit memijit kaki Kalin, dia tiduran di samping istrinya itu dan memeluk perut ramping milik Kalin.
"Oh ya, liburan kita bentar lagi kelar. Berrati saat nya kita kembali ke Manchester," kata Kalin.
"Kamu nggak ngambil cuti aja?"
"Kenapa?" tanya Kalin.
"Orang yang menyamar menjadi Arvin kan belum ketangkep," kata Raksa.
"Tapi bosnya kan udah dilepas juga. Noh pak Galang malah jadi saudaraan sama aku," kata Kalin.
"Dia kan cuma orang suruhan pak Galang. Kalau pak Galang nggak nyuruh ya mana mungkin dia jahatin aku kan?" tambah Kalin.
"Masuk akal sih!" kata Raksa.
"Kita ninggalin rumah gitu aja dengan pintu yang terbuka. Nggak tau deh itu rumah gimana bentukannya!" kata Raksa.
Kalin pun seketika mengingat semuanya, "Untung dokumen penting aku bawa di tas..."
__ADS_1
kalin merubah posisinya yang tadinya setengah duduk, sekarang rebahan dengan kepala yang bersandar pada bantal.
"Iya untungnya kita masih bisa mikir saat itu..." ucap Raksa yang kiniĀ merangsek ke leher istrinya, dia memluk Kalin.
Selaras dengan kalin yang udah baikan sama Raksa, Nova juga udah memaafkan farid. Dia pulang setelah puas bikin Fraid kepedesan.
'Gila, gue bisa bonjrot ini! apakabar lambung, lo masih baik-baik aja apa udah konslet, Bung? gini amat ngejar maaf si Nova!' batin Farid saat meneytir mobil.
Untungnya dia udah ijin sama bapak dan ibunya Nova kalau mau bawa Nova makan, dan terakhir pas mereka mau pulang juga dia nelpon pak Hendra, ya biar orangtua nih bocah nggak khawatir dan nyangka yang nggak-nggak.
"Kok muka bang Farid merah? kenapa?" tanya Nova.
"Nggak apa-apa, Nov!" ucap Farid.
Namun dengan polosnya, Nova menyentuh wajah itu dengan jarinya
"Merah banget ini..." ucapnya lagi.
Mendapat sentuhan dari Nova, fokus Farid jadi terbagi dua. Nova lalu menempelkan punggung tangannya i kening dan di pipi pria itu.
"Gue nggak apa-apa, Nov!" ucap Farid.
"Sakit nih!"
"Nggak, gue nggak sakit!"
"Sakit! udah aku turun disini aja, bang Farid ke klinik atau ke rumah sakit aja," kata Nova.
"Lah kenapa malah minta diturunin?" tanya Farid.
"Iya, takutnya bang Farid nggak fokus nyetir, kan gue takut, Bang!"
"Nggak! abang nggak sakit, tenang aja!"
Farid pun tetap melajukan mobilnya sampai ke rumah Nova. Meskipun perutnya kini bergejolak nggak karuan.
"Nah udah sampai," kata Farid.
"Iya makasih, mending bang Farid nggak usah mampir. Langsung pulang aja, udah pucet gitu..." kata Nova.
'Ditawarin nginep kek minimal, Nov? ini malah disuruh pulang! adek lo kejem amat, Sa!' batin Farid
"Nanti gue sampein salamnya sama ibuk," Nova masih lanjut ngomong.
"Oh ya udah, gue balik dulu ya?" ucap Farid ngenes.
"Iya, dadah!" Nova melambaikan tangannya dengan senyuman yang merekah.
"Iya dadah juga," Farid ikutan membalas lambaian tangan nova dengan senyuman setengah terpaksa sebelum ahirnya dia masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari rumah itu.
__ADS_1