Pacarku Mata Duitan

Pacarku Mata Duitan
Maksa


__ADS_3

Setelah minum dan dapet kembalian dari makanan yang nggak mereka habiskan, Raksa membawa Kalin menjauh dari tpat yang membuatnya kepedesan.


Kalin nangis bukan karena dimarahin Raksa, tapi karena dia baru sadar kalau tepat yang Raksa duduki saat itu merupakan tempat yang diduduki Reno. Sama, waktu Reno pertama kali diajak kesini juga dia kepedesan, mukanya merah kayak udah rebus. Makanya waktu ngeliat Raksa yang kelabakan disatu sisi dia pengen ketawa, tapi disisi lain dia juga sedih, karena dejavu.


Raksa yang ngeliat cewek yang nangiskulu jadi keder, perasaan dia nggak ngomong yang aneh-aneh. Dia cuma bilang, jangan ajak Nova ketempat makan pedes, dia takut kalau adeknya itu malah sakit pas ujian. Salahnya dimana? Kan nggak ada.


"Hikksss ... hiksssss....!" Kalin yang nggak pakai helm pun rambutnya terbang dipermainkan angin, dia yang hatinya merana karena laki-laki nggak bisa membendungvair mata.


Sementara Raksa yang nyetir, bingung kemana harus dia arahkan motornya.


'Kenapa gue selalu ketemu dia dan gue yang akhirnya harus repot sendiri!' Raksa ngeluh.


Dari kaca spion, Raksa bisa ngeliat kalau Kalin sangat sedih, sampai dia nggak peduli kalau dirinya jadi pusat perhatian bukan hanya di tempat makan tapi saat mereka berhenti di lampu merah.


Raksa beberapa kali mencoba ngajak Kalin ngomong, tapi gadis itu sibuk nangis, mungkin dia sedang meratapi kisah percintaannya yang kandas dengan cara yang nggak baik.


'Paling lagi keinget mantan! dasar bocil!' batin Raksa sambil nyetir.


Kalin sesenggukan sembari mengusap pipinya, dia nggak mikir bisa ketilang buat kesekian kalinya karena nggak pakai helm.


"Kita mau kemana? lo jangan nangis mulu. Basah nih jaket gue!" ucap Raksa.


Seketika Kalin celingukan, dia baru tersadar dari penderitaannya. Dengan mata yang sembab Kalin nepok bahu Raksa, "Loh kok kesini? lo mau bawa gue kemana?" Kalin panik.


"Dih?!! sarap nih bocah!" gumam Raksa.


"Heh, lo tu ya! kagak ada sopan santunnya, lagi-lagi mangiil la lo la lo, emang gue temen sekolah lo apa?" Raksa ngedumel dia lalu menghentikan laju motornya.


"Lo kira gue ada tampang penjahat? muka kayak gue ini muka-muka penuh ketulusan dan kejujuran, ngerti? oh ya, dan juga bukan tampang om-om, paham?" Raksa nengok ke belakang, berharap Kalin mendengar ucapannya.


"Terus ini jadinya mau kemana?" lanjut Raksa nanya.


"Ke tempat les gue!" ucap Kalin dengan muka yang di tekuk.


Raksa pun menutup kaca helmnya lagi dan lanjut gas ngueng menuju tempat les. Karena udah pernah nganter Kalin kesana, jadi raksa udah hafal jalannya tanpa harus Kalin kasih tau lagi.


'Kenapa gue yang jadi repot? nganter nih bocah ke tempat les? lagian bukannya di sekolah udah ngadain les? lah nih bocah kok ikut les tambahan lagi? kurang pinter apa emang terlalu obsesi jadi nomer satu? atau les cuma jadi ajang alasan buat pacaran?' Raksa ngomong dalam hatinya


Walaupun ngedumel mulu, nyatanya pria itu nurut aja nganterin Kalin ke tempat yang dia mau.


Sementara di tempat lain, Reno lagi jalan sama Mellody, biasa window shopping di mall. Ngeliat-liat baju, padahal beli juga kagak.


"Daritadi nggak ada yang kebeli?" tanya Melody yang sebenernya udah pegel ngekorin Reno dari satu toko ke toko yang lain.


Nah di dalem hati Reno berucap, 'Lo aja yang nggak peka jadi cewek, harusnya lo nanya daritadi biar bisa gue pancing!' Reno ngedumel, tapi sebisa mungkin dia mengatur raut wajahnya agar bisa tetep cool dan menyenangkan.


"Ren?"


"Eh, iya? gimana?" tanya Reno.


"Nggak ada yang kebeli?" ulang Melody, "Gue capek nih!" lanjutnya.

__ADS_1


"Ehm, sebenernya ada sih yang kepilih. Tapi---"


"Ya udah ambil aja sih kalau udah ada yang kepilih mah!" kata Melody.


"Ambil?"


"Iya ambil! ngapain muter-muter cari yang lain kalau udah ada yang dipilih!" kata Melody.


Dapet sinyal 'ambil' dari Melody, Reno pun ngajak cewek itu balik lagi ke toko yang kedua, yang sempet mereka lewatin tadi.


Sesampainya disana, Reno langsung ngambil baju incarannya, yang npel di kulit Reno nanti pasti akan jreng banget. Karena dia masuk dalam kategori cowok bening yang pakai warna aja pasti jadi bagus.


"Udah?" tanya Melody.


"Yang ini, Mbak!" Reno ngasihin tuh baju ke pegawai toko.


"Gue ke toilet ya?! lo bayar dulu aja," ucap Melody dan pergi ninggalin Reno di toko itu sendirian.


"Bayar dulu? maksudnya? bukannya dia yang mau bayarin? gimana sih?!" Reno ngedumel saat cewek yang lagi dia pepet itu ngacir ke toilet.


"Sebelah sini Kak kasirnya..." ucap salah satu pegawai, sedangkan Reno berdecak kesal harus merogoh koceknya sendiri.


Kembali pada dua orang yang lagi ngejogrog di sebuah tempat les.


"Mbak, Reno berangkat?" Kalin nanaya sama admin bimbel yang duduknya di depan.


"Reno? kayaknya nggak ada,"


"Dia kan udah lunasin tunggakan kemarin. Dan terakhir sih bilangnya udah berhenti lesnya, nggak mau dilanjut..." ucap pegawai yang lain.


"Iya, terakhir dia lunasin kemarin kalau nggak salah. Itu juga dibayar setelah kita telpon bapaknya, dan dateng kesini buat kita liatin coba kalau nggak? mungkin sampai taun depan tuh bocah bakalan nunggak terus!" kata satu admin di tempat bimbel itu.


Kalin berpikir cepat, "Mbak, saya minta alamat Reno bisa? saya mau ngembaliin buku catetan yang saya pinjem,"


"Bentar!" mbak admin pun mulai mengotak atik komputernya.


Kalin yang ngeliat Raksa di luar udah pakai helm, segera lagi.


"Sebentar ya, Mbak?!" ucap Kalin


Dia segera menghampiri Raksa, "Om? kok Om mau pergi sih?"


"Heh, lo panggil gue Om lagi. Gue pekintir bibir lo!" ancam Raksa.


"Lo harus bantuin gue!" Kalin ngerebut kunci motor di tangan Raksa.


"Heh, balikin kunci motor gue!" Raksa mencoba meraih kunci motornya.


Kalin menyimpannya di saku depan, "Nggak, sebelum lo bantuin gue! please, gue butuh bantuan lo sekarang!"


"Sini kuncinya!"

__ADS_1


Kalin menggeleng, "Nggak mau!"


Raksa menarik dan menghembuskan nafasnya kesel, "Ya udah cepetan! minta tolong apaan?!"


"Tunggu disini, gue bakal balik lagi!" Kalin ngibrit lagi masuk ke tempat bimbel nya.


"Astagaaaa cobaaan apa lagi iniiiii?!!" keluh Raksa.


Sedangkan Kalin menghampiri mbak admin, "Gimana mbak? udah ada alamatnya?"


"Nih, rumahnya disini..." mbak admin kasih Kalin kertas kecil, disana tertulis alamat Reno.


"Makasih ya mbak?!" ucap Kalin.


Dia balik lagi nyamperin Raksa yang mukanya udah bete banget, perut laper dan salah milih tempat makan bikin lambungnya kosidahan lagi.


Tanpa aba-aba Kalin naik ke atas motor, "Woooyyyyyy!!! pelan-pelan bisa dong yaaaa!!" keluh Raksa, dia yang kaget ada penumpang di belakangnya langsung pegangan stang motor.


"Kita ke alamat ini!" Kalin nunjukin kertas ke tangan Raksa.


"Kita? lo aja kali, gue mah ogah!" Raksa balikin kerras itu ke tangan Kalin.


"Pleaseeee, gue harus kesini! pleaseeee, banget!" Kalin memohon dengan suara yang bergetar.


"Gue mau minta duit gue balik, gue harus nebus cincin yang udah gue jual," lanjut Kalin.


"Astagaaaa, ada-ada aja sih nih bocah! ngrepotin aja kerjaannya!" gumam Raksa.


"Please, Om...!"


"Manggil gue Om lagi, gue jepret bibir lo pakai karet nasi, mau?!!" Raksa kesel.


"Maksudku, please, Bang..."


"Gue bukan abang lo!" Raksa ketus.


"Ya udah deh, please Mas Raksa. Anterin ke alamat itu..."


"Oke, cuma anterin kan?"


"Nggak dong! mas Raksa harus bantuin Kalin nagih utangnya sekalian!" kata Kalin.


"Beeuuh, nglunjak ya nih bocah lama-lama!" Raksa nengok ke arah belakang.


Kalin ngatupin kedua tangannya, "Pleaseeeee..."


"Ya udah ya udah, sini kuncinya!" Raksa minta balik kunci motor yang disandera Kalin di saku depannya.


"Tapi beneran dibantuin ya?"


"Iya iya, cepetan sini!" Raksa neplak speedometermya.

__ADS_1


Kalin pun menyerahkan kunci dan mereka pun pergi darisana dengan mulut Raksa yang ngedumel mulu, karena selalu terjebak nuat bantuin bocah setan yang selalu bikin hidup dia tambah riweuh.


'Dosa apa yang udah gue perbuat, sampe-sampe gue harus berurusan sama bocil yang satu ini!!!!!' Raksa dalam hatinya.


__ADS_2