
"Ini lo kumpulnya dimana?" tanya Raksa saat mereka menaiki taksi.
"Di salah satu rumah teman gue, kebetulan mereka menyewa menyewa beberapa van," kata Kalin.
"Temen lo orang kaya?"
"Nggak tau juga. Gue belum tau," ucap Kalin.
Raksa sengaja nganterin istrinya, biar dia tau dimana dan seperti apa temen-temen Kalin yang akan pergi ke summer camp.
Taksi berhenti dan Kalin langsung meraih tangan Raksa.
"Berangkat dulu," ucapnya sebelum turun.
Raksa hanya bisa melihat dari balik jendela mobil yang dia turunin setengah. Dia ngeliat ada satu orang yang menghampiri Kalin buat bantuin bawa tasnya yang gede. Tapi satu hal yang Raksa tau, kalau ada laki-laki yang sedari tadi menebar senyumnya khusus buat Kalin. Dan itu sukses bikin Raksa cemburu. Rumah yang besar dan megah itu di kerubuti banyak orang. Raksa yang tadinya pengen nungguin, akhirnya nggak jadi karena argonya jalan terus. Bisa jebol kantongnya.
Dia pun menyuruh supir taksi buat jalan, di sebuah pemberhentian trem.
Sementara Kalin masih canggung dengan teman-temannya, padahal mereka cukup lama bergaul tapi Rasanya dia masih belum bisa berbaur. Mungkin karena perbedaan negara dan budaya, jadi untuk menemukan teman yang klik itu sangat sulit. Dan itu bikin kalin bersyukur punya temen sebaik dan se-care Nova. Ternyata spesies kayak Nova tuh susah didapetinnya.
Singkatnya, mereka semua pergi, padahal belum dateng semua temen-temen mereka.
"Udah lah gampang, ntar juga pada nyusul! Kan mereka udah dikasih waktu kumpul disini jam 9 pagi. Dan kalau ngaret ya udah, itu jadi resiko.mereka," ucap Arvin yang tau-tau udah duduk di samping Kalin.
Kalin yang tadinya lagi ngobrol sesama emen cewek akhirnya noleh, dan itu orang duduk dengan santainya.
"Let's go first! And let them follow! (Kita pergi dulu saja, dan biarkan mereka menyusul!)" ucap Arvin yang disetujui beberapa orang.
Karena menurut beberapa orang, menubggu hanya membuang-buang waktu. Dan disinilah Kalin bisa menilai kalau nih temen-temennya pada egois, termasuk si Arvin.
__ADS_1
'Ajegile, kalau gue it-it nyasar. Nih temen-temen gue modelannya nggak bakal nyariin nih, gue yakin mereka bakal ninggalin gue dan menganggap kalau gue udah dewasa dan nggak mungkin ilang!' batin Kalin yang seketika ada kekhawatiran.
Aduh kalau tau temen-temennya pada aneh begini, mending Kalin nggak usah ikut. Dan kalau dihitung yang ikut cuma 12 orang rmsuk sama dia. Jadi ini nggak nyampe 50 persen yang ikutan.
Tapi mau mundur, mobil van udah jalan. Dalam hati nyesel banget kenapa dia sula ngeyel kalau dibilangin sama Raksa. Baru kali ini dia nyadar kalau keputusan Raksa ngintilin dia kemana-mana tuh ya mempersempit Kalin buat ketemu orang yang nggak baik.
'Apa gue share loc ke suami gue aja ya pasti nanti udah nyampe?' batin Kalin.
'Duh kok gue jadi nggak tenang gini, sih? Tapi kan dia katanya mau cari kerja, kalau gue tiba-tiba share loc, apa dia nggak ngerasa aneh?" lanjut Kalin.
Pantesan kenapa yang diparkir cuma dua van, ternyata banyak yang memutuskan buat nggak bisa ikut. Dan Kalin nggak sempet ngecek hape, kareba dia sibuk belanja dan sibuk ngusel sama Raksa, jadi info sepenting itu dia sampai nggak tau.
"Kalau ngantuk tidur aja," kata Arvin.
"Nggak, gue nggak ngantuk!" ucap Kalin yang biasa aja. Lagian masa iya, naik kendaraan setengah jam an terus dia ngantuk, kan nggak juga.
Sampai Kalin menyadari sesuatu di dalam map nya.
'Loh loh, kok belok? nih orang pada mau kemana sih?' batin Kalin yang melihat ada sesuatu yang salah di dalam maps.
Kalin udah mengatur perjalanannya di dalam google map, dan dari kesepakatan awal mereka udah menentukan titik lokasi. Balik lagi Kalin nggak ngebaca semua history chat grup.
Dengan penuh kekepoan ternyata Kalin membaca lagi chatting yang udah beberapa hari yang lalu. Dia scroll terus sampai akhirnya dia nemu suatu tempat yang bikin matanya terbelalak.
"Danau hollingworth? loh, kapan mereka nentuin titik ini?" gumam Kalin lirih.
Jaraknya ya lumayan jauh lah dari rumahnya, meskipun naik mobil tapi Kalin tetep aja was-was, dia bukan kesini ijinnya.
Menangkap segurat kecemasan di wajah Kalin, Arvin pun bertanya, "Lo kenapa? lo nggak lagi sakit, kan?"
__ADS_1
"Nggak kok..." Kalin ngomong jujur. Emang dia nggak sakit, tapi dia terkejut, kenapa banyak info yang dia lewati. Mulai dari peserta yang ikut, sampai tempat yang akan mereka dirikan tenda.
'Pulang aja apa ya?' batin Kalin.
"Lo kenapa, Kalin? perjalanan masih jauh, lo kalau nggak enak badan mending tidur," kata Arvin.
"Lo tau kita bakal kemana?"
"Taulah! kan udah rame dibahas di grup!" jawab Arvin.
Dan disitulah Kalin nyesel kenapa dari semalem dia nggak buka hape. Ternyata mereka semua sepakat buat mengganti titik lokasi, makanya banyak yang nggak setuju dan milih buat nggak ikutan.
'Kalau gini malam keakraban apaan? nggak jelas banget!' batin kalin.
Daripada dia was-was nggak jelas, akhirnya dia mengirimkan screen shoot perjalanan nya ke Raksa.
Sementara Raksa lagi di sebuah restoran makanan cepat saji yang cukup terkenal di berbagai negara termasuk di Indonesia yang udah familiar dengan restoran ini.
Dia sengaja milih di tempat yang deket sama kampusnya Kalin, jadi sekalian kerja dia sekalian jagain istrinya. Kalau mau ngampus mereka bisa satu arah. Jadi ada alasan Raksa buat jalan bareng sama Kalin. Mungkin dia sering liat berita-berita kriminal jadi raksa sebisa mungkin memantau selalu kegiatan Kalin.
Hari itu dia bawa lamaran dan katanya disuruh balik lagi besok untuk wawancara. kalau lolos, dia akan di training selama 3 bulan. Raksa keluar dari restoran sembari dia beli makanan disitu buat dia bawa pulang. Daripada cari-cari makanan lain, dan hari ini nggak ada Kalin jadi ya rasanya mubadzir kalau dia masak hanya untuk diri sendiri. Namun matanya tiba-tiba membulat saat membaca pesan dari istrinya.
"Loh? kenapa dia kesitu? kok jauh banget?" gumam Raksa.
Dia lihat pesan Kalin saat hari udah menjelang sore, ya dia emang muter-muter dulu. Dan Raksa mendadak nggak enak perasaannya. Dia mumpung dekat toko, dia mmapir buat bilang kalau besok dia mau ijin karena dia lagi ada keperluan.
Dari sana Raksa meluncur ke titik yang Kalin bagikan. Ada beberapa telepon yang masuk menyuruh Raksa untuk datang ke toko mereka, tapi karena pria itu lagi konsen nyusul istrinya, dia pun meminta hari lain. Lagi pula, dia yang udah lumayan ngirim lamarannya, baru direspon sekarang ketika dia udah hampir medapatkan pekerjaan lain selain menjadi seorang kurir pengantar susu.
'Tenang sayang, abang pasti datang!' batin Raksa setelah mendapatkan sebuah mobil yang bisa disewa.
__ADS_1